My Dream, My Wish, and My Destiny

Ditampar oleh kenyataan itu ternyata sakit. Teramat sakit.

Baru beberapa saat lalu, aku diterbangka angin.

Terus melambung tinggi. Terus malayang di atas awan.

Menikmatinya, eh? Tentu. Betapa indahnya dunia.

Takut jatuh? Tentu.

Dan apa yg aku takutkan memang terjadi. BUG! Aku jatuh.

Bagaimana rasanya? Sakit? TIDAK sama sekali.
Hanya rasa kebas yg aku rasakan diseluruh tubuh.

Aku terjatuh di pegunungan. Tempat yg indah bukan?

Aku tak menyesal pernah terjatuh.

Terbang dan terhempas begitu saja.

Akan ku jadikan sebagai pengalaman tak terlupakan.

Baru beberapa saat aku kembali menginjakan kaki di Bumi.

Merasakan hembusan angin pegunungan yg menyejukan hati.

Tanpa kusadari, lagi-lagi aku melayang di atas awan.
Terus melambung tinggi.

Langit gelap bertabur bintang.
Aku berharap dapat meraih bintang itu.

WHUSSS!!!

Apa yg terjadi? Hujan Asteroid.

Aku terlalu terpana atas pesona bintang sehingga tak sadar
aku telah keluar dari peredaran Bumi.

Jauh dari jangkauan medan gravitasi Bumi.

Dingin.

Itu yg aku rasakan. Aku jauh dari kehangatan Matahari.

Mungkinkah aku terhempas begitu jauh?

Apakah ini Neptunus? atau aku telah mencapai Pluto? Sangat dingin.

Aku beku. Sampai tak bisa merasakan keberadaan kaki dan tanganku.

Bintang itu masih terlihat jauh. Bumi tempat ku berpijak pun jauh.

Aku tersadar. Impianku ada Bumi, bukan di bintang itu.

Sampai sebuah meteorid menghampiriku dengan enggan.

Kuseret tubuhku. Kuseret kakiku menuju sang Meteorid.

Meteorid ini menuju Bumi. Setidaknya itu yg kutahu.

Sebuah meteorid akan terbakar apabila bergesekan dengan atmosfir bumi.

Aku hanya berharap aku tidak ikut terbakar saat meteor itu terbakar.

Apa aku bisa selamat sampai ke bumi?

Entahlah. Aku harap.

Sekali lagi aku hanya bisa berharap.

Hanya tinggal menunggu waktu.

Apa aku bisa kembali ke bumi dan merasakan hembusan angin pegunungan lagi?

Atau jangan-jangan harapan ku kali ini tidak terkabul?

Apakah aku akan habis terbakar bersama meteor dalam atmosfir bumi?

Entahlah. Ku harap tidak.

Sekali lagi aku hanya bisa berharap.

Hanya tinggal menunggu waktu.

Waktu dimana Tuhan memutuskan apa yg akan terjadi padaku.

Aku hanya bisa berharap padaNya.

Aku hanya bisa bergantung padaNya.

Aku hanya bisa percaya padaNya.

2 thoughts on “My Dream, My Wish, and My Destiny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s