Love Should Go On [CHAP 1]

Title                       : Love Should Go On

Main Cast            :

–          Lee Hyunrim (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

–          SHINee Onew as Lee Jinki

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Romance

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. All of them belong to their self. This story  just my own imagination.

***** Chapter 1 *****

Pagi yang cerah diawal musim semi. Segumpal asap tipis mengepul dari sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik. Tampak dua orang paruh baya sedang memberikan nasehat pada seorang yeoja berambut hitam sepunggung yang berdiri disamping namja bermata sipit. Tak lama, dua paruh baya itu melangkah dan memeluk penuh kasih sayang pada yeoja itu. Suasana haru mulai tercipta.

“Sudahlah, eomma, appa, Hyunrim sudah besar. Lagi pula kalian bisa datang ke Seoul jika kalian merindukannya.” Namja sipit itu mulai bicara, tak tahan dengan pemandangan melankolis dihadapannya. Bukannya dia tidak suka, hanya saja dia tidak ingin suasana ini merubah pemikirannya untuk melepas yeojanya pergi.

“Jinki-ya! Aish! Kau ini merusak suasana!” seru wanita paruh baya yang tak lain adalah eomma dari namja sipit yang dipanggil Jinki itu.

“Baiklah, eomma, appa, kami berangkat dulu. Jika ada waktu luang aku akan pulang menemui kalian.” Ucap Hyunrim sambil tersenyum, menenangkan pasangan suami istri dihadapannya.

Kembali memeluk suami-istri tersebut sesaat sebelum menaiki mobil hitam metalik yang akan dikemudikan Jinki.

“Hati-hati! Jinki, jangan ngebut! Kau berani mengebut, pintu rumah tertutup selamanya untukmu!” ancam Tuan Lee pada anak semata wayangnya.

Hanya mendengus dan memutar bola matanya sebelum mulai melajukan mobil.

“Annyeong~” ucap yeoja itu riang.

Hening. Tak ada percakapan yang terjadi di dalam mobil hitam metalik itu. Sang yeoja menatap keluar jendela, mengalihkan perhatian dari dadanya yang bergemuruh. Bukan karena namja yang duduk dibalik kemudi, bukan. Tapi karena perasaan senang yang berkecamuk dalam dirinya. Setelah usahanya, rintangan, cobaan yang membuatnya ingin mengakhiri hidup, setelah segala perjuangan berat yang dihadapinya. Akhirnya dia bisa keluar dari masa kelam, dan mendapat kesempatan untuk meraih impiannya.

“Kau tak berhenti tersenyum, Hyunrim.” Jinki mulai memecah kesunyian. “Apakah kau sesenang itu?” lanjutnya.

“Ne. Tentu aku sangat senang.” Senyuman tak lepas dari bibirnya, aura kebahagiaan terpancar jelas dari matanya. Tapi tidak pada orang disampingnya. Ada satu hal yang membuat namja sipit itu sedikit geram. Sang yeoja berbicara tanpa menatapnya, pandanganya tetap terarah keluar jendela. Entah terlalu asik, atau memang menghindar?

“Sebegitu senang kah kau dapat kembali ke Seoul?”

“Tentu.” Jawab yeoja itu mantap.

“Kau yakin alasanmu kembali ke Seoul bukan untuk menghindar dariku?”

“Jangan mulai lagi, oppa. Kau tau aku tak akan lepas darimu. Bisakah kau percaya padaku?” kini pandangannya teralih sempurna pada namja disampingnya. Hanya beberapa saat, lalu menyandarkan kepalanya pada kursi, menyamankan kepalanya disana dan mulai memejamkan mata. Tidak berniat tidur, hanya ingin mencari ketenangan setelah mood baiknya rusak seketika oleh namja disampingnya.

*****

“Hyunrim, bangun. Kita sudah di Seoul, sebentar lagi kita sampai.” Menepuk pelan pipi yeoja yang terlelap dikursi penumpang. Sang yeoja mulai terbangun, mengerjapkan mata dan mulai mengedarkan pandangannya. Hal pertama yang dia lihat adalah senyuman seorang Lee Jinki. Senyum yang mendamaikan dan menular, membuat kedua ujung bibir terangkat melengkungkan senyuman dibibirnya.

Dia terus memandangi namja yang masih tersenyum itu. Dia sangat suka senyumnya. Namja ini selalu bisa membuat Hyunrim nyaman bersamanya, walau belakangan ini sering terjadi perdebatan diantara mereka.

“Belum bosan menatapku?” perkataan Jinki menyadarkan Hyunrim dari segala pemikirannya. Tersenyum dan memutar kepalanya kearah jalanan di depan mereka.

“Oppa tidak marah dengan keputusanku kembali ke Seoul? Kau sudah bisa melepasku?”

“Untuk apa aku marah? Dan, hei! Siapa bilang aku melepasmu? Kau tetap milikku, arachi?”

“Hahaha. Ne, oppa~”

Mobil melaju dengan lancar di jalanan Seoul. Jalanan yang selalu tampak sibuk, tapi keadaan lalu lintas tetap lancar dan terkendali. Mobil hitam metalik itu kini mulai memasuki parkiran sebuah apartemen di pusat kota. Setelah mobil terparkir sempurna, Jinki melirik yeoja yang duduk disampingnya kini sedang menampakan ekspresi bingung diwajahnya.

“Kenapa kita kesini, oppa?” mulai menyuarakan pertanyaan yang berputar diotaknya.

“Kejutaaaan!!” merentangkan tangan, tersenyum lebar menampakan gigi kelincinya dengan mata yang menghilang. Kembali memasang wajah normalnya setelah melihat lawan bicaranya hanya memasang wajah datar.

“Ayo, cepat kita masuk.” Menyerah, membuka bagasi mobil diikuti oleh yeojanya yang masih kebingungan. Sebuah koper ukuran besar, bahkan sangat besar telah keluar dari bagasi. Menurunkan sebuah koper lainnya yang berukuran kecil.

“Kau bawa yang kecil saja. Biar namja yang melakukan pekerjaan berat.” Kemudian menarik koper besarnya dengan sebelah tangan, dan satu tangan lainnya menggenggam tangan yeoja disampingnya. “Jangan banyak tanya dan ikuti saja aku. Arachi?!”

“Ne, oppa.” Hanya menuruti perkataan namja sipit ini.

*****

6066

Nomor apartemen yang akan dihuni oleh Hyunrim mulai saat ini. Asing. Tentu saja, ini apartment milik Jinki yang sama sekali tidak diketahui Hyunrim. Terlalu banyak yang belum Hyunrim ketahui tentang Jinki. Begitu juga dengan Jinki. Keduanya bisa dibilang masih asing satu sama lain. Dua orang asing yang terikat oleh takdir?

“Aku kira oppa akan mengantarku ke rumahku.”

“Tidak. Tidak bisa dan tidak boleh.” Ucap Jinki tegas. “Memangnya kau berani tinggal di rumah sebesar itu sendirian? Ah, bukan itu masalahnya. Kau akan tinggal sendiri, kau lebih aman jika disini. Lagi pula aku sangsi kau tidak akan menangis tiap malam jika kembali ke rumahmu.”

Hyunrim terdiam, membenarkan perkataan Jinki dalam hati. Setelah kematian ayahnya setahun yang lalu, dia sangat terpukul dan kehilangan semangat hidup. Sampai sebuah tangan terulur untuk membantunya bangkit dari keterpurukan. Lee Jinki. Orang tua Jinki adalah sahabat dari orang tua Hyunrim. Dan akhirnya selama setahun terakhir Hyunrim cuti kuliah dan tinggal di Gwangju bersama Jinki dan orang tuanya. Selama setahun itu juga hari-harinya selalu terisi oleh sosok Lee Jinki, malaikatnya.

“Aku akan membereskan barang-barangku, oppa.”

*****

“Disini ada dua kamar. Kamarmu dan kamarku. Kau bisa memasak kan? Ada dapur. Lalu ruang tengah sudah ada TV, DVD player, dan…ya kau bisa lihat sendiri. Ah, aku lelah. Kemari, duduk disini.” Menepuk tempat kosong disampingnya. Hyunrim duduk dan bersandar pada sofa ruang tengah.

“Oppa akan tinggal disini?”

“Ani.”

“Lalu kenapa ada kamarmu disini? ”

“Hei, ini apartementku, kau ingat? Sesekali aku akan ke Seoul untuk urusan pekerjaan atau sekedar menjengukmu. Jadi aku tidak usah tinggal di hotel.”

Menarik tangan kanan Hyunrim. Menggenggamnya, mengusap cicin yang melingkar di jari manis yeoja itu.

“Oppa lelah? Tidur lah dulu. Setelah itu kita jalan-jalan. Otte? Ide bagus bukan?” matanya membulat, berbinar, menyilaukan mata sipit dihadapannya.

“Huh. Kau mau jalan-jalan? Pergilah sendiri.”

“Jinjja? Baiklah, aku berangkat sekarang. Annyeong~” hampir berlari sebelum tubuhnya kembali terhempas ke sofa. Ya, Jinki menariknya.

“Kau akan meninggalkanku sendiri disini? Tega sekali kau.” Jinki melipat tangan di dadanya sambil memicingkan mata.

“HAHAHAHA!! Apa itu wajahmu saat marah? Wajahmu tetap imut, oppa.” Terbahak sambil memegangi perutnya. Oh, bahkan sekarang Hyunrim menitikan air mata. Memang selucu apa wajah Jinki saat marah?

“YA! Kenapa tertawa, Lee Hyunrim?! Aku bertanya, kau benar-benar akan pergi tanpa ku?”

“Hahaha…mian. Wae? kan oppa sendiri yang menyuruhku pergi sendiri?” menjawab enteng dengan wajah polosnya.

“Lee Hyunrim, awas kau. Ya sudah, ayo pergi.” Menarik Hyunrim berdiri dan melingkarkan tangannya di leher yeoja jangkung itu.

*****

Jinki mengedarkan pandangan pada café  tempat mereka duduk saat ini. Sebelum jalan-jalan mereka sepakat untuk mengisi kekosongan perut, dan disinilah mereka berada sekarang. Sebuah café yang terletak tepat di depan gedung apartment Jinki.

“Moccacino dua, Spaghetti Carbonara satu, dan…..ehm, Chicken Steak satu. Kamsahamnida.” Hyunrim selesai menyebutkan pesanan mereka pada waitress. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap lekat namja didepannya. Malaikatnya. Penyelamatnya dari jurang kematian. Namja dihadapannya juga sedang menatap lekat padanya. Bertatapan, tanpa satu pun kata keluar dari mulut keduanya. Hanya mencoba saling menyalurkan perasaan pada orang dihadapannya.

“Kapan kau akan kembali?” sang namja mulai berbicara.

“Dua tahun dari sekarang. Saat itu aku telah selesai dengan study-ku. Wae?”

“Kau…bagaimana kalau aku tidak bisa menunggu selama itu?”

“Oppa akan menungguku. Kalau oppa lelah menunggu, kau bisa melepasku.” Datar. Nada bicara yang datar, tatapan yang datar meski terfokus pada lawan bicaranya.

“Huh. Hanya setahun kita mengenal tapi kau sudah bisa mengendalikanku.”

“Hanya setahun kita mengenal tapi oppa sudah bisa mengikatku. Impas, hm?”

Keduanya terkekeh menyadari tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, seperti perjanjian mereka. Simbiosis Mutualisme.

“Hyunrim…”

“Ne?”

“Saranghae.” Lembut tapi penuh ketegasan dan tanpa keraguan.

Hyunrim hanya tersenyum dengan matanya tak teralih sedikit pun dari Jinki. “Ne, oppa. Gomawo.” Helaan napas berat terdengar dari mulut Jinki.

****

Kring…Kring….

Masih enggan membuka mata. Hanya tiga menit dan jam wekernya akan berhenti meraung, setelahnya ia akan kembali tidur tanpa gangguan. Setidaknya itulah yang dia pikirkan sebelum mendengar suara pintu kamarnya terbuka.

“Oppa, masih belum mau bangun? Satu jam lagi aku akan berangkat.”

Huh. Bahkan jam wekernya belum berhenti berdering. Membuka cepat kelopak matanya dan segera mematikan wekernya yang belum lelah berbunyi.

Mata sayu, rambut acak-acakan. “Kau membangunkan ku, Hyunrim? Nada bicaramu terlalu lembut untuk membangunkan ku.” Mengucek matanya, mendudukan tubuhnya disamping tempat tidur. Kemudian tangan kanannya menyentuh tengkuknya dan memutar lehernya, mencoba melakukan peregangan otot.

“Tapi sekarang oppa sudah bangun. Aku tidak mau membuang energy. Cepat mandi, lalu kita sarapan.” Hyunrim segera melangkah keluar dari kamar Jinki. Jinki terkekeh, kembali teringat memori mereka selama setahun terakhir. Sosok Hyunrim yang sekarang jelas jauh berbeda dengan Hyunrim yang ditemuinya disebuah pemakaman setahun yang lalu. Dengan baju serba hitam, mata sembab dan tatapan kosong, Hyunrim adalah sosok yang rapuh saat itu. Yeoja itu adalah pribadi yang dingin di awal pertemuan mereka. Dan sekarang? Setelah satu tahun mereka lewati, entah sejak kapan, dibalik keanggunannya Jinki merasa Hyunrim memiliki aura yang mampu mengendalikannya. Entah yeoja itu yang memang beraura kuat, atau Jinki yang terlalu lemah pada yeoja itu.

*****

“Kau tidak memasak? Aku menyediakan dapur di apartment ini bukan untuk pajangan.” Jinki terus menggerutu karena menu sarapan mereka sekedar roti bakar dan susu hangat. Masakan yang bahkan bisa dia buat sendiri. Bukankah seharusnya sudah tugas Hyunrim untuk memasak. Itulah yang dipikirkan Jinki.

“Aku malas memasak. Lagi pula oppa tahu kan aku tidak pernah sarapan dengan nasi. Jadi, ini lah sarapan kita.” Dengan entengnya Hyunrim menjawab seperti itu. Malas? Sungguh alasan yang manis.

Beberapa saat berikutnya sarapan mereka berakhir dengan tenang. Tanpa protes dari Jinki tentu saja.

“Kajja, oppa. Kita berangkat.”

“Ne” mengambil koper kecil yang tergeletak di depan pintu kamar sambil memutar kunci mobil tengan telunjuk kanannya dan segera menyusul Hyunrim yang telah berada di luar pintu apartment.

Pagi yang cerah untuk memulai hari baru ditengah kesibukan Kota Seoul. Hyunrim duduk tenang di kursi penumpang dengan mata berbinar dan senyum manis di bibirnya.

“Kau pasti sangat merindukan Seoul.”

“Tentu. Ini tempat kelahiranku. Aku besar disini.”

“Apa kau akan merindukanku nanti?”

“Tentu. Kau malaikatku, oppa.”

Tersenyum. Bahkan lebih lebar dari biasanya. Puas dengan jawaban yeojanya.

Mobil hitam metalik itu kini sudah terparkir di sebuah universitas terkemuka di Seoul. Jinki turun terlebih dahulu dan disusul oleh Hyunrim. Hyunrim menghampiri Jinki sambil membawa sebuah…kotak?

“Oppa akan kembali ke Gwangju sekarang?”

“Ne, Hyunrim..” memutar tubuhnya untuk menghadap Hyunrim. “Hyunrim, dengarkan aku,” lanjutnya, “jaga dirimu baik-baik. Kalau kau merasa kesepian, segera telpon aku. Aku akan menemanimu walau hanya dalam telpon. Jangan menangis, setidaknya jangan menangis tanpa ada aku disampingmu. Dan…rindukan aku. Arachi? Hehe..” terkekeh pelan karena permintaan terakhirnya.

“Ne. Oppa juga jaga diri baik-baik. Jaga eomma dan appa.” Kemudian dia melangkah dan memeluk namja didepannya. “Pasti. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Sering-seringlah datang ke Seoul.”

Hyunrim mulai meregangkan pelukannya, tapi tidak dengan Jinki. Namja itu malah melakukan hal sebaliknya. “Hyunrim?” Setelah dibalas oleh sebuah gumaman, ia mundur selangkah untuk memberi ruang antara keduanya. Menghirup napas dalam-dalam kemudian menatap lekat sepasang bola mata bening coklat tua yang berada beberapa senti dibawahnya. Tatapan namja itu terlihat ragu dan cemas. Menghela napas berat berkali-kali mencoba menghilangkan kecemasannya. Memejamkan mata sejenak, berharap untuk keberuntungannya.

“Hyunrim, saranghae…” Lagi. Masih dengan tatapan lembut dan penuh ketegasan. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal yang sama sejak dua bulan yang lalu. Ternyata keberuntungan belum berpihak padanya. Jawaban yeoja itu masih sama sejak dua bulan lalu, “Gomawo” dengan sebuah senyuman.

Sekarang Hyunrim memberikan sebuah kotak yang dibungkus sehelai kain. “Siapa bilang tadi pagi aku tidak memasak? Rollade dan pudding, menu makan siang oppa hari ini. Oppa terlalu malas untuk sekedar membeli makan siang diperjalanan, padahal Seoul-Gwangju bukan jarak yang dekat. Jika lapar, berhentilah dulu dan makan. Dan jangan mengebut, arachi?”

“Ne. Sekarang kau cepatlah masuk. Aku pulang sekarang.” Kembali memberikan sebuah pelukan, sebagai ucapan perpisahan.

“Baiklah, oppa. Annyeong~” sedikit berjalan mundur sambil melambaikan tangan. Jinki membalas dengan eye smile dan lambaian tangan pula lalu segera melajukan mobilnya kembali ke Gwangju.

Setelah mobil hitam metalik itu menghilang dari pandangannya, Hyunrim segera membalikan badan dan berlari kecil menuju toilet. Matanya memerah, cairan bening mulai menggumpal di pelupuk matanya.

BUGH. Karena penglihatannya yang memburam, beberapa kali ia menabrak orang lain dan hanya menyampaikan kata maaf dengan volume suara yang sangat kecil, berusaha agar suaranya tidak bergetar dan menahan isakannya.

Ia membasuh wajahnya dengan air. Menatap pantulannya dirinya dalam cermin. Mencoba kembali tersenyum, memenuhi titah Jinki padanya untuk jangan menangis tanpa Jinki disampingnya.

****

Lagi-lagi pagi sibuk Kota Seoul. Sudah sebulan Hyunrim kembali ke Seoul setelah hampir setahun dia tinggal di Gwangju dengan keluarga Lee. Sekarang dia tinggal sendiri di apartment milik Jinki, putra tunggal keluarga Lee. Walau tinggal sendiri setidaknya dia tidak merasa kesepian. Hampir tiap hari Jinki menghubunginya lewat telpon atau sekedar mengirim pesan singkat.

“Ne, oppa. Ne. Ne. Arrrgh!!! OPPA! Aku tutup telponnya sekarang! Aku hampir terlambat! Yayayaya, terserahmu lah. Annyeong!”

KLIK! Segera menutup telpon dan berlari menuju pintu apartment. Menyambar tasnya lalu memakai sepatu dengan buru-buru. CKLEK. Setelah memastikan pintunya terkunci, lagi-lagi ia berlari menuju lift.

“Semoga busnya tidak penuh, jalanan tidak macet, bla bla bla…” terus bergumam sambil tetap berlari menuju halte bus. “Ah, pabo! Aku bisa naik taksi.” Cepat-cepat ia menghentikan langkah untuk memanggil sebuah taksi. Beruntung tepat saat itu juga sebuah taksi berhenti di depannya. Tanpa pikir panjang ia membuka pintu dan melompat masuk. “Korea University. Cepat.” Panik. Terus melirik jam tangannya dan sesekali merutuki namja bernama Lee Jinki. “Pabo. Lee Jinki pabo. Kenapa mengajakku bergadang semalaman. ARRGH!!”

TIIID. TID. TIDIIIID. Suara ricuh klakson mobil mengganggu rutukannya. “Ahjussi, ada apa ini?”

“Ah, agashi. Ada kecelakaan lalu lintas di depan sana.”

“Lalu?” tanpa menunggu jawaban supir taksi tersebut Hyunrim langsung membayar argo yang tertera dan keluar dari taksi. Ia tau apa yang terjadi. Kecelakaan lalu lintas. Mungkin ada mobil terbalik di depan sana, lalu jalanan jadi macet. Sial. Padahal lima belas menit lagi ia ada jadwal praktek.

Brrrm! Tiiiid! Sebuah motor sport berhenti di depan Hyunrim, menghalangi jalannya. Ia jengah dengan kesialan di pagi indah ini. Oh, ralat. Ini sama sekali bukan pagi indah bagi yeoja jangkung ini. Saat ia berusaha menghidar dari motor tersebut, si pengendara motor malah menahan lengan Hyunrim dan melepaskan helmnya.

“Hyumrim? Kau benar-benar Lee Hyunrim?”

Deg! Suara yang sangat dikenalinya. Pemilik suara yang seharusnya menjadi orang pertama yang ia beritahu tentang kepulangannya ke Seoul.

“Jjong?”

“Hyunrim? Kau sudah kembali? Sejak kapan kau…”

“STOP! Jjong, akan kujelaskan semuanya nanti. Antarkan aku sekarang. Jebal.” Memotong perkataan Jonghyun lalu tanpa ijin pemilik motor ia menempatkan diri di jok penumpang.

“Ya! Apa-apaan kau! Cepat turun dari motorku.”

“Cepat jalan. Palli!!! Kau tega membiarkan aku mendapat nilai C, hah?!” sentak Hyunrim.

Kim Jonghyun. Tidak jauh berbeda dengan Lee Jinki, dengan mudah alam bawah sadarnya selalu dapat dikendalikan oleh yeoja bermarga Lee ini.

Tak sampai lima menit mereka telah sampai di KU. Hanya tersisa waktu sekitar sepuluh menit bagi Hyunrim untuk berlari ke laboratorium dan menghindari nilai C.

“Gomawo. Jeongmal gomawo. Aku harus segera pergi. Annyeong!” Sebelum Hyunrim benar-benar berlari, lagi-lagi lengannya ditahan oleh Jonghyun.

“Kau mau pergi begitu saja?” memasang wajah tak percaya sambil mengangkat sebelah alis tebalnya.

“Jjong, jebal. Aku harus segera pergi. Kita bertemu di tempat biasa, OK?” untuk kesekian kalinya ia mangabaikan lawan bicaranya.

“Huh. Dengar Lee Hyunrim. Aku berdoa dosenmu itu tiba-tiba jatuh sakit. Aku tunggu kau di tempat biasa li.ma.me.nit.lagi!” ucap Jonghyun penuh penekanan.

*****

“Sejak kapan kau belajar sihir, hah?” menatap curiga pada Jonghyun sambil melipat tangan di depan dadanya.

Mereka sedang  berada di ‘tempat biasa’ mereka. Bukan di atap gedung yang datar dan dikelilingi tembok pembatas, bukan. Tak ada tempat seperti itu di universitas mereka. Tempat yang di maksud mereka adalah koridor lantai lima gedung fakultas psikologi. Di lantai lima tersebut hanya ada ruang kelas yang jarang dipakai dan dari koridor depan kelas-kelas tersebut terlihat langit Seoul dengan jelas. Angin berhembus kencang disana, sangat cocok bagi mereka yang butuh ketenangan.

“HAHAHAHA! Sihir kau bilang? Ada apa kau ini? Baru datang tiba-tiba menuduhku sebagai penyihir.”

“Lihat. Seperti yang kau katakan, aku ada disini dalam waktu lima menit. Kau tau kenapa? Dosenku tiba-tiba jatuh sakit dan tidak ada praktek hari ini.”

“Jinjja? Hebat sekali aku ini. Hahaha. Sudahlah, ayo duduk disini. Aku mau mendengar semua penjelasanmu.”

“Penjelasan apa?” berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Jonghyun.

“Anak pintar, aku tau kau pasti mengerti maksudku.” Gemas dengan yeoja disampingnya, Jonghyun merangkulnya erat dan bertingkah seolah akan memakan pipi yeoja itu.

“Baiklah. Aku bingung harus menjelaskan apa. Aku hanya menenangkan diri di Gwangju dengan kerabatku.”

“Menenangkan diri? Sampai cuti kuliah selama satu tahun? Lalu kenapa harus ke Gwangju? Ada aku disini”

Terulas senyuman di bibir Hyunrim, “Aku terlalu terpukul dan…kau tau aku hampir gila saat kematian ayahku. Aku bahkan hampir bunuh diri. Apa kau bisa menangani orang seperti itu?”

“Separah itu? Maaf aku tidak ada disampingmu saat itu.”

“Gwenchana, bukan salahmu.” Melipat kedua kakinya lalu memposisikan kepalanya diantara kedua lututnya. Menghela napas sejenak kemudian ia memutar kepala menghadap namja disampingnya masih dengan kepala yang tertumpu pada kakinya. “Jangan menatapku seperti itu, Jjong. Aku sudah baik-baik saja sekarang,” lanjutnya.

“Aku mengkhawatirkanmu, Hyunrim..”

“Ne, aku tau. Gomawo.”

“Ayo, bangun.” Ajak jonghyun. “Kita ke bakery dekat halte. Aku traktir kau Muffin keju sepuasmu, untuk merayakan kepulanganmu.”

“WOAAAH~ kajja, kajja!”

*****

Mereka masih berbincang saat menuju parkiran. Sesekali mereka tertawa bersama dan menjadi perhatian orang-orang disekitarnya.

“Jjongie!” Jonghyun menoleh ke arah sumber suara. Seorang yeoja. Yeoja itu sedikit berlari ke arah mereka berdua. Sebelum yeoja itu mengeluarkan sepatah kata pun Jonghyun sudah memintanya berhenti dan mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk.

“Nugu? Yeojachingu-mu?” tanya Hyunrim.

“Bukan. Dia hanya…ehm, fans ku. Hehe ”

“Cih! Fans?”

“Ayo, naik.”

Belum sempat Hyunrim naik, lagi-lagi ada yang memanggil Jonghyun.

“Key! Waeyo?”

“Mau kemana kau? Masih ada tugas yang harus dikerjakan. Mau coba untuk kabur, hah?”

“Aku ada urusan dulu sebentar. Sana, pergi.”

“Eoh? Tumben sekali. Memangnya…” ocehan Key terhenti ketika menyadari yeoja yang berdiri disamping Jonghyun adalah Hyunrim. “OMO!! Kau?! Hyunrim? Kau sudah kembali? Kemana saja kau setahun ini? Aigoo~ aku merindukanmu. Kau tau, Hyunrim? sejak kau, ‘kekasih tetap’ Kim Jonghyun menghilang, banyak yeoja yang gencar mendekati namja bebal ini,” Key menunjuk Jonghyun dengan dagunya, “tapi dia mengacuhkan mereka dan hal itu merepotkanku. Dia. EHM! HMMMM!!”

“Diam kau, Key!” ia membekap mulut dengan sebelah tangannya. “Kajja, Hyunrim. Jangan kau dengarkan si cerewet ini.”

“Haha. Baiklah, Key. Kami berangkat dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Annyeong!”

Motor melaju dengan kecepatan normal. Jonghyun memang suka balapan, tentu dia terbiasa mengebut. Tapi pengecualian saat kursi penumpangnya diduduki oleh Hyunrim. Yeoja itu tak pernah mengijinkannya mengebut. Setidaknya tidak saat ia sedang bersama Hyunrim.

*****

Kekasih tetap Kim Jonghyun. Hah, lucu, pikir Hyunrim. Ia kira setelah setahun ini predikat itu akan lepas darinya. Predikat yang orang berikan padanya karena kedekatannya dengan Jonghyun. Alasannya karena sejak mereka mulai dekat, Jonghyun berhenti bergonta-ganti yeojachingu. Lalu Hyunrim, ia selalu menolak namja yang menyatakan perasaannya padanya dengan alasan-alasan logis namun terkesan berkelit. Dari situ orang-orang mengira mereka memang menjalin hubungan yang nyatanya tidak benar.

Sampai setahun yang lalu Hyunrim tidak mempermasalahkan julukannya itu. Tapi sekarang, tanpa namja tampan itu ketahui Hyunrim merasa risih dengan julukan itu. Dia sudah tidak bisa menyandang predikat ‘kekasih tetap’ Kim Jonghyun.

Lee Jinki. Nama itu selalu terlintas dipikirannya.

*****

Flashback

“Hyunrim, aku menyukaimu.”

“Lalu?”

“Maukah kau jadi yeojachinguku?”

“Untuk apa? Aku lebih nyaman kita berteman. Mianhae.”

Jinyoung. Namja pertama yang menyatakan perasaannya sekaligus menjadi namja pertama yang menerima penolakan dari Hyunrim.

*****

“Hyunrim…saranghae.”

“…”

“Maukah kau jadi yeojachinguku?”

“Secepat ini sunbae mengatakan ‘saranghae’ padaku? Setauku kita bahkan tidak begitu dekat. Mianhae.” Berlalu begitu saja meninggalkan sunbae-nya yang masih tidak percaya atas penolakannya.

*****

“Noona, maukah kau jadi yeojachinguku?”

“Berikan aku satu alasan logis untuk menerimamu.”

“…” namja itu terdiam.

“Mianhae, Taeminie. Kita masih bisa berteman kan?” menyuguhkan sebuah senyum tulus.

“Apa karena Jjong hyung, noona?” Apa maksudnya? Yeoja yang dipanggil ‘noona’ itu mengerutkan dahi tanda tidak mengerti.

“Hubungan kalian lebih dari sekedar teman kan?”

Ah, ia mengerti sekarang. “Ne, Taeminie. Kami bersahabat.”

*****

“Mianhae.” Untuk kesekian kalinya kata itu diucapkan Hyunrim sebagai penolakan pada namja yang menyatakan perasaannya.

“Apa karena Jonghyun? Aku meragukan hubungan kalian yang sebatas sahabat. Aku yakin lebih dari itu.” Minho terus mendesaknya.

“Baguslah jika kau menyadarinya.” Hyunrim terlalu lelah meladeni Minho yang terus mendesaknya.

“Hyunrim!” Jonghyun. Tepat sekali, pikir Hyunrim. “Kajja, pulang sekarang.” Menggandeng lengan Hyunrim, menariknya dari hadapan Minho. Jonghyun tau betul situasi yang sedang dihadapi sahabatnya itu.

“Minho-ya, annyeong!”

End of Flashback

*****

Bakery yang tidak begitu besar. Penyuguhkan roti, cake, beberapa jenis donat, dan sebagainya.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang ahjumma pada pelanggan yang baru memasuki bakery-nya.

“Hai, imo! Masih ingat kami?” tanya Jonghyun antusias.

“Annyeong, imo~” diikuti Hyunrim yang membungkuk hormat pada wanita paruh baya yang dipanggilnya ‘imo’.

Sang pemilik bakery masih mencerna pemandangannya di depannya. Memicingkan mata dengan dahi yang mengkerut. Lelah memicingkan mata, ia berjalan ke meja kasir dan mengenakan kacamatanya. Kerutan di dahinya mulai berkurang, matanya tampak sedikit membulat.

“Hyunrim? benarkah itu kau?”

“Ne, imo. Ini aku. Merindukanku?” jarak diantara mereka menyusut. Hyunrim segera memeluk wanita paruh baya itu ketika ia keluar dari meja kasir.

“Aigoo~ aku sangat merindukanmu. Aku turut berduka cita atas kematian ayahmu.” Katanya sambil mengelus lembut punggung Hyunrim yang berada dalam pelukannya. Hyunrim hanya bergumam dan menganggukan kepalanya. “Lalu, kemana kau selama ini? Kenapa tiba-tiba menghilang?” lanjutnya.

Melihat posisi mereka yang berbincang sambil berdiri, Nyonya Song, pemilik bakery, mempersilahkan mereka duduk di sebuah meja bundar dengan empat kursi disekelilingnya.

Pemilik bakery, atau biasa dipanggil Nyonya Song sudah seperti ibu kandung terutama bagi Hyunrim yang kehilangan ibunya dua tahun lalu.

“Jadi selama setahun kau tinggal di Gwangju? Pantas aku tidak pernah melihatmu. Bahkan Jonghyun jarang sekali kesini.”

Pembicaraan yang menyenangkan bagi ketiganya. Tapi sayangnya harus teputus saat Jonghyun menerima telpon dari Key yang menyuruhnya segera kembali ke kampus.

“Imo, kami harus pergi sekarang. Besok kami akan mampir lagi. Ah, siapkan muffin keju sebanyak mungkin. Aku yakin yeoja ini belum puas dengan muffin yang dimakannya hari ini.” Ujar Jonghyun sambil menunjuk Hyunrim dengan dagunya.

Setelah berpamitan keduanya segera ke kampus mereka. Jonghyun jelas tidak mau mendengar omelan Key karena keterlambatannya. Teman yang merepotkan, batin Jonghyun.

“Minggu depan ada pertandingan basket. Aku akan ikut bermain. Kau harus datang untuk mendukungku.” Kata Jonghyun disela kesibukannya mengendarai motor.

“Hah. Itu sama sekali tidak terdengar seperti ajakan. Kau memaksaku hm?” cela Hyunrim.

“Ne. Aku memaksamu. Wae?”

“Baiklah, aku datang.”

“Tapi selama seminggu ini aku akan ada latihan. Kau juga harus mendukungku selama latihan.”

“MWO?! Apa-apaan kau ini, Jjong?!”

Tidak terdengar sahutan dari namja itu. Tanpa ada yang tau, dibalik helmnya namja itu sedang tersenyum. Entahlah apa arti senyum itu.

*****

Seperti permintaan –atau lebih tepat jika menyebutnya perintah– Jonghyun pada Hyunrim, kini yeoja itu sedang duduk di barisan terdepan kursi penonton di gedung olahraga KU. Kursinya tepat berada di belakang kursi pemain cadangan. Jonghyun yang lagi-lagi memerintahnya untuk duduk disitu. Beberapa kursi dari tempatnya duduk seorang yeoja dengan rambut panjang hampir sepinggang. Yeoja itu tampak sedang memegang sebuah botol air dan ada sebuah tas ransel tergeletak tepat disampingnya. Hyunrim berasumsi bahwa yeoja itu datang untuk mendukung namjachingunya. Yeoja itu tampak serius menyaksikan latihan basket itu. Sedetik kemudian Hyunrim menyadari dirinya yang dari tadi memperhatikan yeoja asing itu. Hei, ada apa dengannya? Ia kembali memfokuskan dirinya pada Jonghyun.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini Hyunrim melihat yeoja itu. Hyunrim kembali menyadarkan  diri dari lamunannya. Ia kembali memfokuskan pandangan pada lapangan basket. Tapi ia tidak melihat Jonghyun. Semua pemain berada di pinggir lapangan. Beberapa sedang sibuk mengelap keringat, dan yang lainnya sedang minum dengan nafas yang masih memburu. Tapi dimana Jonghyun? Pikirnya.

“Hei, mencari siapa?” seseorang menepuk pelan pundaknya membuatnya menoleh.

“Aku mencarimu, Jjong. Latihannya sudah selesai? Aku akan pulang sekarang.” Segera bangkit dari duduknya.

“Kajja, ku antar kau pulang.”

Jonghyun mulai membereskan barang-barangnya. Lalu mereka berjalan keluar gedung olahraga. Tak sengaja mata Hyunrim bertemu dengan mata bulat milik seorang namja bernama Choi Minho. Ia berniat membungkuk dan memberi salam, tapi sayang harus ia urungkan niat baiknya itu. Minho tampak memandangnya dingin dan detik berikutnya ia tersenyum sinis dan berlalu ke ruang ganti.

‘Ada apa dengan namja itu?’ batin Hyunrim.

***** End of Chapter 1 *****

TBC

9 thoughts on “Love Should Go On [CHAP 1]

  1. hey you are good author.. Keseluruhan bagus.. Sepanjang baca saya cengar cengir ngikik. Tapi cuma mau nambahin lebih baik dibagian sebelum TBC diklimaksin aja, tp yg jelas. Biar readers lbh penasaran. Salam kenal author. Saya jadi pembaca setia deh.. Next chapter jangan lama lama ya thor~

      • Udah janji jadi pembaca setia kamu peh.. Tinggal kamu yang setia up date cerita ya peh :p kangen baca ff. Udah gak pernah baca ff sejak deara gak up date shinheera.wp

  2. jjongpa punya unnie saeng😦😦😦
    jangan diambil donk >_<
    keseluruhan udah bagus banget kok buat seorang pemula🙂
    gk ada misstipo yang unn temuin dan ceritanya juga segar😀
    ayo dilanjutkan😉

  3. upppeeeeehhh!!! bahasamu kereeeenn!! ajariiiiin😄
    eh ittuuu ada minhoooo kyaaaaaaaa😄
    akhirnya si Hyunrim pasti sama Minho kaaan? yeeee! /plakk #gaknyambung #lemparheerakejurang
    upeeeh chapter 2 nya ditungguu aku penasaran tingkat akut!
    hwaitiiiiing!!!😄
    eh btw aku kangen kamuuuuuu :*

  4. Upeeeeehhh,,
    Barbieee dataaaangs!!
    Maafkan akuu baruu berkunjungg,,

    Ecieeeeeeeeeee,,
    Hyunrim lakuu yaah ternyataa *plaaks,,
    Itu key jomblo kaan??
    Boleeeh deeh sama soona,,
    Soona juga jomblo koo,,
    Wkwkwkwkwkkw

    Ceritanyaa baguuuusss,,
    Pendeskripsian karakter sama latarnya juga jelas,,
    Jadii aku yg baca gampang ngebayanginnya,,
    Heheheheh,,

    Lanjutiiiinnn peeeehhh!!
    Hwaiitiiing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s