Love Should Go On [CHAP 2]

Title                       : Love Should Go On

Main Cast            :

–          Lee Hyunrim (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

–          SHINee Onew as Lee Jinki

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Romance

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. All of them belong to their self. This story  just my own imagination.

Previous chapter

Jonghyun mulai membereskan barang-barangnya. Lalu mereka berjalan keluar gedung olahraga. Tak sengaja mata Hyunrim bertemu dengan mata bulat milik seorang namja bernama Choi Minho. Ia berniat membungkuk dan memberi salam, tapi sayang harus ia urungkan niat baiknya itu. Minho tampak memandangnya dingin dan detik berikutnya ia tersenyum sinis dan berlalu ke ruang ganti.

‘Ada apa dengan namja itu?’ batin Hyunrim.

*** Chapter 2 ***

“Teriakan namaku sekencang mungkin. Arachi?”

“Ya! Kim Jonghyun! Ada apa denganmu? Permintaanmu akhir-akhir ini sangat aneh. Mulai dari menemanimu latihan, menonton pertandingan basket yang tidak aku mengerti sama sekali. Dan sekarang, kau memintaku meneriaki namamu saat pertandingan? Cih!” Memandang sahabatnya dengan alis saling bertaut dan sebelah tangannya bertumpu pada pinggang.

“Kau sudah berjanji akan mendukungku. Ingat?” balas Jonghyun dengan smirk dan tatapan menantang. Belum sempat Hyunrim melontarkan sanggahannya, bunyi peluit terdengar pertanda pertandingan akan segera dimulai. Jonghyun pun turun dari tribun dan berlari menuju pinggir lapangan.

Pertandingan dimulai. Dimenit pertama KU telah berhasil mencetak skor. Riuh penonton terdengar sangat kencang. Teriakan mendukung pemain andalan sangat memekikan telinga.

“CHOI MINHO!!” Hyunrim yang menutup telinganya saja masih dapat dengan jelas mendengar lengkingan teriakan yang sebagian besar berasal dari yeoja itu.

“KIM JONGHYUN!!!” Hah, lucu. Hyunrim pikir tidak akan ada yang meneriaki sahabatnya itu.

Masih dengan tangan menekan keras daun telinganya, yeoja jangkung yang tidak tertarik pada basket itu lebih memilih mengedarkan pandangannya pada tribun yang mengelilingi lapangan dibanding melihat pertandingan itu sendiri. Matanya mulai mengamati sekelilingnya. Semua orang tampak bersemangat dan antusias. Terlalu banyak orang, terlalu bising. Ia tidak tahan berada di tengah keramaian seperti ini. Kepalanya mulai terasa berat.

PRIIIIIT. Babak pertama selesai dengan skor dipimpin KU. Keadaan mulai lebih tenang. Teriakan berangsur-angsur meredup. Para pemain berkumpul di pinggir lapangan, meneguk minum dengan antusias seakan mereka baru berjalan berkilo-kilometer di gurun pasir.

Hyunrim memejamkan mata, mencoba menghilangkan  beban yang dirasakan pada kepalanya. Saat ia merasa lebih baik dan membuka kembali matanya, pandangannya terarah lurus jatuh tepat pada bola mata coklat lain yang menatapnya dengan tajam. Jonghyun. Sepertinya namja itu kesal karena tidak mendengar teriakan namanya dari Hyunrin. Darimana ia tau? Entahlah, panca indranya terlalu peka mendeteksi sosok Hyunrim. Yeoja itu mendengus, membalas tatapan Jonghyun seolah mengatakan ‘Aku tak mau meneriaki namamu’.

Pertandingan kembali berjalan. Pekikan terus terdengar. Terus bertambah kencang, mungkin sudah lebih dari 80 dB. Polusi suara. Sampai pertandingan berakhir dengan kemanangan KU. Hyunrim menghela napas lega. Sekarang ia bisa segera pulang, setidaknya keluar dari keramaian abstrak ini. Dengan kepala sedikit menunduk  ia mulai menuruni tribun. Terlihat pintu keluar dihadapannya bagaikan pintu menuju surga. Walaupun tak seriuh saat perrtandingan dan suara-suara melengking sudah menghilang, ia tetap ingin segera meninggalkan gymnasium itu. Ia tak tahan dengan keramaian.

“Kau mau kemana?” Jonghyun segera berlari dan mencegah Hyunrim untuk keluar gymnasium.

“Aku mau pulang. Kepalaku meledak-ledak meminta dibebaskan dari keramaian abstrak ini.” Jawab Hyunrim sedikit berlebihan.

“Hah. Tunggu aku dulu…”

“KYAAA~~” Teriakan para penonton dengan tidak sengaja menginterupsi perkataan Jonghyun. Intuisi menggerakan kepala mereka kearah lapangan. Jonghyun mengangkat sebelah alisnya sebagai reaksi pemandangan yang tersajikan.

Seorang bintang lapangan, Choi Minho, sedang berdiri di tengah lapangan dengan membawa banner besar bertuliskan: SARANGHAE, SHIN HEERA❤. Membuat para yeoja berteriak histeris. Minho melangkahkan kaki ke sisi lapangan. Disana berdiri yeoja manis dengan rambut ikal hampir sebatas pinggang. Yeoja itu. Dia adalah yeoja yang sering Hyunrim lihat saat latihan basket. Ah, apa pedulinya.

Choi Minho, namja itu sedikit melirik ke arah Hyunrim dan lagi-lagi memberikan tatapan yang sulit ditafsirkan sebelum berlutut  dan mengecup punggung tangan Heera dengan lembut, kembali mengundang keriuhan.  Dan entahlah apa yang terjadi selanjutnya. Hyunrim tidak peduli. Ia bahkan tidak mengacuhkan tatapan aneh Minho. Ia segera keluar saat mendeteksi tanda-tanda kemunculan polusi suara disekitarnya.

“Hei, hei. Tunggu! Hyunrim!” masih dengan seragam basket yang dibasahi keringat melekat ditubuhnya, Jonghyun berlari mengejar Hyunrim.

Berhenti. Masih memunggungi Jonghyun. “Aku ingin cepat pulang,” katanya datar.

Meraih bahu Hyunrim dan memutar tubuhnya berhadapan dengan Jonghyun. Menatapnya intens, ”kau cemburu pada Minho?” wajahnya terlalu serius sementara yeoja dihadapannya berekspresi bingung. Menatap Jonghyun seakan menuntut penjelasan atas pertanyaan konyolnya.

“Kau tiba-tiba keluar saat melihat Minho mengangkat banner-nya dan tinggi-tinggi. Kau kecewa bukan nama-mu yang ada disana?” Mengankat sebelah alisnya. Masih belum jelas kemana arah pembicaraan Jonghyun. Kembali menuntut penjelasan.

“Kau menyesal pernah menolak Minho?”

“Hah. Pemikiranmu terlalu jauh, Jjong. Aku tidak kecewa, cemburu atau pun menyesal. Di dalam terlalu ramai, ricuh, ribut. Aku tidak tahan keramaian, kau ingat?”

Kembali menatap intens pada Hyunrim. Wajahnya tampak lelah dan memerah. Matanya agak sayu. “Baiklah, kita ke bakery.”

*****

Coklat panas dan muffin keju dihadapan mereka. Bakery milik Nyonya Song. Lebih mirip café sebenarnya. Ada beberapa meja untuk pengunjung, ada berbagai minuman juga dalam daftar menu. Dengan nuansa Italian dan adanya perapian kecil memberikan kesan hangat bagi siapa saja yang berada disana.

Hyunrim menyesap coklat panasnya. Memakan muffin dengan cepat. Ia mengarahkan matanya pada langit. Mendung. Ia tersenyum.

“Kenapa kau tiba-tiba tersenyum?”

“Langit mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan.”

“Masih menyukai hujan?”

Tidak menjawab. Masih tersenyum. Tak lama matanya beralih pada Jonghyun. Mengeluarkan seringaian dengan mata berkilat sulit diartikan.

“Wae? Kenapa memandanganku seperti itu? Kau mengerikan,” Tatapan ngeri tersorot jelas dalam matanya, seakan yeoja dihadapannya adalah serigala yang siap memangsa.

“Kita bersenang-senang. Kajja.” Menarik lengan Jonghyun, menyeretnya menuju parkiran. Namja itu pasrah tak bisa menolak. Sekali lagi alam bawah sadarnya terhipnotis oleh sorot mata Hyunrim.

*****

Bangku kayu di sebuah taman yang sepi. Tentu sepi. Langit makin mendung, semua orang telah mengevakuasi diri menghindari hujan. Mungkin hanya orang gila yang masih bertahan di taman itu. Dan ya, disana, di bangku kayu itu ada dua orang gila yang sengaja bertahan disana seakan menantang rintik hujan yang masih enggan terjun ke bumi.

Drrt…drrrrt… ponsel Hyunrim bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dilihatnya nama yang tertera pada layar. ‘Jinki Lee’.

“Yeoboseyo, oppa!”

“Yeoboseyo! Aku lihat ramalan cuaca, akan turun hujan di Seoul. Cepat pulang, jangan sampai terjebak hujan di jalan. Kau dimana sekarang?”

“Aku di….taman.” Menahan tawa, tau reaksi apa yang akan dikeluarkan namja disebrang sana.

“Astaga! Jangan mulai Hyunrim. Kau sengaja menunggu hujan?”

Tawanya meledak. Tepat seperti dugaannya. “Kali ini kau tidak bisa melarangku, oppa. Annyeong!” Klik. Mematikan sabungan telepon bahkan menon-aktifkan ponselnya. Kembali menatap langit. Makin gelap, angin dingin mulai berhembus , tapi tak satu pun tetes hujan yang bersedia menghempaskan diri. Lehernya pegal terus mendongak. Ia menurunkan pandangannya menatap sepatu flat merah marun yang melekat dikakinya.

Tes. Tes. Hujan turun. Perlahan tapi pasti mulai bertambah deras. Senyum terkembang di bibirnya. Tapi ia tak merasakan tetes hujan itu jatuh pada tubuhnya. Bajunya tetap terasa kering. Kembali mendongak. Entah sejak kapan payung putih miliknya sudah menaungi kepalanya. Memutar kepala kebelakang. Seorang namja sedang tersenyum, sebelah tangannya memegang gagang payung putih yang menaunginya.

“Untuk apa bawa payung tapi tidak kau gunakan?”

“Aku ingin merasakan hujan, Jjong.”

“Tapi aku tidak mau.”

“Ck. Duduk. Sampai kapan kau akan berdiri disitu.” Meloncati sandaran kursi dan duduk merapat pada Hyunrim.

Keduanya terdiam. Jonghyun meletakan kepala Hyunrim pada bahunya dan membiarkan tangan kekarnya melingkar pada bahu yeoja pecinta hujan disampingnya. Hanya ingin merasakan kehangatan ditengah deras hujan. Tetap bergeming, menikmati alunan nyanyian langit disekitar mereka.

*****

Entah sudah berapa kali umpatan keluar dari bibir tebalnya. Entah berapa kali satu nama itu terucap oleh lidahnya. Bergerak kesana-kemari didepan jendela besar rumah keluarga Lee.

“argh!” mengerang kesal karena nomor yang dihubunginya tidak aktif. “Astaga! Hujan!” Menyerah.

“Hyunrim sudah besar, Jinki.”

“Ne, eomma. Aku tau. Tapi ia keras kepala. Aku yakin ia sedang sengaja menempatkan diri ditengah hujan.” Kembali ke kamarnya. Memilih memandangi hujan dari jendela kamarnya.

Flashback

Zrash…hujan lebat. Srek. Pintu geser menuju taman belakang dibuka oleh seseorang. Ia berjalan ke tengah hujan. Terus berjalan membiarkan dirinya merasakan hantaman hujan.

Jinki panik. Tidak menemukan keberadaan Hyunrim dimana pun. Kamar, toilet, tidak ada. Dapur kosong. Ia takut yeoja itu kembali berusaha memotong nadinya seperti beberapa hari lalu. Dalam kepanikan, ia melihat pintu belakang rumahnya terbuka. Seorang yeoja sedang berdiri ditengah hujan. Hyunrim. Lega menjalari hatinya.

Perlahan ia mendekati yeoja itu dengan payung besar yang telah terbuka. Berjalan, semakin dekat. Langkahnya terhenti dengan jarak beberapa langkah dari yeoja itu. Dengan mata terpejam Hyunrim mengarahkan wajahnya pada langit. Perlahan merentangkan tangannya. Tersenyum. Tersenyum? Ini pertama kali Jinki melihat Hyunrim tersenyum. Sangat cantik. Gurat kesedihan mengabur dari wajahnya.

Kembali melangkahkan kaki, menyurutkan jarak keduanya. Kemudian membeku berdiri dihadapan Hyunrim membuat keduanya ternaungi payung besar dalam genggaman Jinki. Seolah tidak menyadari keberadaan namja sipit itu, Hyunrim masih terpejam, tersenyum. Bertahan memandangi yeoja dihadapannya. Terpaku. Terpesona. Tersenyum saat mata yeoja itu perlahan terbuka dan menatap sempurna padanya.

“Biarkan aku merasakan hujan, Jinki-ssi.” Pintanya dengan suara parau.

Tes. Tersentak melihat air mata yang kembali mengalir. Melipat payungnya membiarkan mereka sama-sama merasakan hujan.

“Hanya hujan yang membuatku bisa merasakan keberadaan Hyukchan oppa. Kami sering bermain ditengah hujan waktu kecil. Kemudian appa akan memahari kami dan menyuruh kami masuk ke rumah. Lalu eomma akan membuatkan coklat panas untuk kami.” Pandangan menerawang, memutar kembali memori keluarga utuhnya.

Menangis lagi. “Aku merindukan mereka. Aku ingin menyusul mereka.”

Jinki menarik tubuh Hyunrim masuk kedalam dekapannya. Mengalirkan kehangatan pada tubuh rapuh itu. Berharap kehangatannya ikut menjalar pada jiwa yang tesakiti, menutup luka hati yang tak kunjung kering.

End of Flashback

“Haaaah…” menerawang ke tangah hujan. Memejamkan mata. Mendengarkan rintik hujan yang membasahi bumi. Ia berharap berada disisi yeojanya saat ini. Menikmati nyanyian langit bersamanya.

*****

Pemakaman. Seorang yeoja duduk bersimpuh di depan sebuah gundukan tanah yang baru beberapa saat lalu di tutup. Matanya sembab, tatapan kosong yang sarat akan kepedihan.

“Eomma, apa yeoja itu anaknya Lee ahjussi?” tanya seorang namja sipit.

“Ne, Jinki. Ia pasti sangat terpukul. Ia tidak punya siapa-siapa.”

Ada dorongan besar yang membuat Jinki memberanikan diri menghampiri yeoja itu. Mengusap punggung yeoja itu lembut, membuat sang yeoja menatap sepasang mata berbingkai bulan sabit milik Jinki. Teduh. Begitu hangat.

Kriiiiiing….kring!!!!!!!!

“Uuuuh…” sedikit lenguhan terdengar dari bibir tebalnya. Berusaha menggapai jam weker yang masih meraung menjalankan tugasnya. Selesai. Hening.

06.00

Mata bulan sabitnya kembali tertutup. Tidak tertidur. Memejamkan mata, mencoba kembali mengingat mimpinya. Bukan sekedar mimpi. Itu memori setahun yang lalu, pertemuan pertama Jinki dengan Hyunrim.

“Sudahlah, hanya mimpi.” Gumamnya pada diri sendiri.

*****

Hari Sabtu. Saatnya bersantai di rumah. Bangun siang dan bermalas-malasan. Sudah biasa bagi Hyunrim. Sayangnya Sabtu ini ada gangguan kecil di pagi indahnya.

“Ne, oppa. Aku sudah bangun,” sahutnya malas. Pita suaranya masih enggan bertugas di pagi hari.

“Hari ini aku akan ke Seoul. Aku sudah berangkat. Mungkin siang nanti aku sampai.”

“Ne~” masih setengah sadar.

“Ya! Aku tau kau masih di tempat tidur. Cepat bangun.”

“Ne~” padahal masih belum bergerak keluar dari selimutnya.

“Makan siang bersama. Masak yang enak. Arraseo?!”

“Ne~”

“Ck!” Klik. Sambungan terputus. Kembali tertidur dibalik selimutnya. Dengan keadaan setengah sadar seperti tadi, sangat diragukan ia menangkap dengan sempurna apa yang Jinki sampaikan.

Tidak peduli. Ia telah sepenuhnya terlelap dibalik selimutnya. Tubuhnya tenggelam diantara bantal-bantal. Begitulah keadaan kamar yeoja itu. Jika beberapa kamar yeoja dipenuhi boneka dengan ukuran kecil sampai yang super besar, hal itu tidak akan kau temukan disana. Tidak ada boneka sama sekali? Itu sudah biasa. Kamarnya menyimpan terlalu banyak bantal dan guling. Lazimnya sebuah tempat tidur terdapat dua bantal dan sebuah guling. Jangan harap hal lazim itu ada disana. Diatas tempat tidur ukuran double-nya ada dua buah guling, empat bantal tidur, dua bantal besar, dan tiga bantal boneka ukuran kecil. Terlalu mencerminkan bahwa pemiliknya sangat menghargai waktu tidurnya. Ani. Katakanlah secara gamblang, hobi tidur.

Satu jam. Jam menunjukan pukul 08.00 AM. Mulai ada tanda-tanda sang putri tidur akan membuka mata.

Sret. Sekali hentakan selimutnya terkulai di lantai. Belum beranjak dari tempat tidur. Memposisikan diri duduk bersandar di atas tempat tidur. Melihat jam digital di atas nakas. Sedikit berkedip. Mulai mencerna angka yang terpampang. Got it. Tapi masih bergeming di tempatnya. Tetap mempertahankan posisinya yang dikelilingi bantal-bantal kesayangannya. Sedikit merencanakan apa yang akan dilakukannya setelah keluar dari kamar. Menyusun kegiatan dalam otaknya, juga memperhitungkan durasi yang ia butuhkan. Kegiatan rutinnya setelah bangun tidur. Tidak peduli ia bangun jam berapa, ia akan keluar kamar setengah jam setelahnya.

“Here we go~”

Mengambil selimut yang terlempar dan melipatnya. Kemudian menyingkirkan semua bantalnya dari atas tempat tidur. Setelah spreinya ia rasa rapi, ia mulai menyusun kembali bantal-bantal kesayangannya.

*****

Matanya menari mengamati setiap bahan masakan yang terpampang. Sebenarnya masih belum mendapat ide untuk menu makan siangnya. Apa Jinki memesan menu makan siang khusus padanya tadi? Ah, molla. Ia bahkan masih ragu apa namja itu benar-benar menyuruhnya untuk menyiapkan makan siang atau makan malam. Apa yang Jinki katakan di telepon? Sekali lagi, yeoja ini tidak tidak tau. Ayolah, Jinki meneleponnya terlalu pagi. Seluruh system syarafnya belum siap menerima impuls.

“Setidaknya menu ayam harus ada.” Kemudian meminta seorang ahjussi untuk membungkus beberapa potongan ayam untuknya. Dengan cepat kakinya melangkah ke tempat-tempat bahan masakan yang di butuhkan Hyunrim. Pusat syaraf dan organ geraknya sudah dapat berkoordinasi dengan lancar.

Untungnya supermarket itu tidak terlalu ramai. Ini pukul 09.30, terlalu siang berbelanja bahan masakan bagi beberapa orang. Dan hal ini sangat menguntungkan bagi Hyunrim mengingat ia tidak tahan berada di tengah keramaian.

Ponselnya berdering.

‘Jonghyun Kim’ Calling

“Yoboseyo, Jjong!”

“Hyunrim, aku butuh bantuanmu. Cepat datang ke rumah. Jebal~” suaranya sedikit memelas.

“Ne? untuk apa? Tapi aku ada keperluan.”

“Jebal~ hanya sebentar. Kau dimana? Biar aku jemput sekarang.”

“Aku di supermarket dekat apartment ku.”

“Bagus. Tunggu disitu. Aku akan kesitu sekarang”

“Ne? oh, ne…” agak bingung dan buta arah pembicaraan mereka saat ini.

Klik. Baiklah, Hyunrim tidak mau menambah beban otaknya yang dari tadi sibuk berpikir. Jadi ia memutuskan untuk menuruti permintaan Jonghyun saja. Tidak perlu banyak berpikir, ini masih terbilang pagi untuk ukuran hari libur. Dia terus mensugesti dirinya agar tidak banyak berpikir. Hanya tinggal menunggu Jonghyun di depan supermarket. Semua pertanyaannya akan terjawab saat Jonghyun datang.

*****

“Bagus. Tunggu disitu. Aku akan kesitu sekarang”

Ia harus bergerak cepat. Tapi jangan sampai ada yang curiga. Berjalan mengendap-endap. Pintu depan dilaluinya dengan lancar. Tidak ada yang menyadari namja itu telah berada di pekarangan rumah, pikirnya.

“Jonghyun! Kau mau keluar? Noona ikut!”

“MWO?! Andwe! Noona jangan ikut! Bukannya noona harus ke kantor.” bisa gagal rencananya.

“Dongsaeng pelit! Noona minta antar ke kantor. Palliwa! Atasanku sudah meneleponku beberapa kali. Aku harus cepat sampai.”

Fiuh~ “Arraseo. Cepat naik.”

Membelah kesibukan jalanan Seoul. Motornya melaju dengan kecepatan yang masih bisa dibilang normal. Beruntung jarak kantor noona-nya tidak begitu jauh dengan apartment Hyunrim.

Ckiiit. Ban motornya berdecit dan berhenti berputar tepat dihadapan Hyunrim.

“Cepat naik.” Tergesa-gesa. Berbicara tanpa melepas penutup helmnya.

Sepertinya Hyunrim masih harus mensugesti otaknya untuk tidak memproduksi pertanyaan-pertanyaan seperti: ada apa dengan Jjong? Kenapa buru-buru? Sebenarnya ia butuh bantuaan apa?

*****

Menatap bingung berkantung-kantung tepung di depan mereka. Ralat, bukan mereka. Hanya Hyunrim yang bingung melihat berbagai macam tepung dengan merk berbeda tercecer di kamar Jonghyun. Dipertegas, KAMAR TIDUR. Pertanyaan yang tadi bergumul di otaknya sudah terjawab. Jonghyun meminta bantuan Hyunrim untuk membuat cake ulang tahun untuk Songdam, noona-nya. Ia ingin membuat kejutan sebelum Songdam pulang. Ia tak punya banyak waktu karena noona tercintanya itu akan pulang saat tengah hari. Tapi sekarang otaknya memproduksi berbagai pertanyaan baru.

“Untuk apa kau membeli tepung sebanyak ini? Lalu kenapa kau menyimpannya di dalam kamar, hah?” antara terkejut dan risih melihat kamar Jonghyun yang memang tidak pernah rapi sekarang makin bertambah buruk dengan kantung tepung didalamnya.

“Itu untuk membuat cake, bukan? Hehe. Kalau tidak disini lalu aku harus simpan dimana? Di dapur? Itu jelas akan menggagalkan kejutan untuk noona.”

“Lalu kenapa kau membeli sebanyak ini? Kau ingin membuat cake raksasa? Aish! Jinjja!” Protes Hyunrim sambil mendekatkan diri pada tumpukan kantung tepung disamping lemari pakaian. Memeriksa tepung macam apa saja yang Jonghyun beli.

“Aku tidak tau tepung mana yang benar. Jadi yaaaa aku beli saja semua.” Tersenyum canggung saat Hyunrim melihat ke arahnya dengan alis bertaut.

“Apa ini? Tepung beras? Sejak kapan membuat cake menggunakan tepung beras?” Heran saat menemukan tepung beras berada diantara gunung tepung itu.

“Sudahlah, ayo cepat buat cakenya.” Malas terus meladeni Hyunrim yang seolah otaknya memproduksi pertanyaan setiap matanya melihat suatu benda.

Hyunrim mengambil satu kantung tepung dan pergi ke dapur untuk memulai pekerjaannya. Jonghyun mengekorinya sambil membawa buku resep. Saat di dapur Jonghyun segera mengambil apron dan memberikannya pada Hyunrim.

“Kau punya buku resep? Kau tinggal ikuti petunjuknya, kau bisa melakukannya tanpa bantuanku, Jjong.” Hyunrim baru menyadari buku yang dipegang Jonghyun adalah buku resep. Pantas saja dari tadi Jonghyun terus menginterupsi pekerjaannya.

“Aku tidak percaya buku resep. Aku lebih percaya padamu,” ucapnya enteng dan mengerlingkan sebelah matanya. Alasan macam apa itu.

Cake sudah matang. Hyunrim meletakannya diatas piring dan mulai menghiasnya.

“Lelehkan coklatnya, Jjong.”

“Berikan cream-nya.”

“Mana coklat pastanya?”

“Siapkan kacang almond.”

Terus memberi tugas-tugas kecil untuk Jonghyun. Demi noona-nya, Jonghyun rela berkutat didapur.

Selesai. Hanya cake sederhana karena memang waktu yang mereka punya tidak banyak.

“Fiuh~” keduanya menghela napas dan menghempaskan diri di atas sofa. Menikmati warna-warna cerah di atas mereka. Meja rendah di depan mereka sudah menyajikan makanan-makanan ringan juga cake ditengahnya. Ruang keluarga sudah dipenuhi balon dan hiasan lainnya.

Tok tok.. tok tok..

“Jjong, buka pintunya! Kenapa di kunci?”

Tiba-tiba mereka panik mendengar teriakan Songdam.

“Bagaimana ini? Apa yang harus yang kita lakukan?” Berlari kecil kesana-kesini saat Songdam terus memanggil namanya.

“Jjong, kenapa kau panik? Biar aku yang membuka pintu untuk Songdam eonni.” Heran. Sikap Jonghyun agak berlebihan menurutnya. Kenapa sampai sepanik itu? Molla.

Cklek. Mata membulat menatap tak percaya padanya, teriakan tertahan, dan jari yang teracung padanya. Ekspresi yang sudah biasa diberikan pada Hyunrim saat ia kembali muncul setelah setahun menghilang.

“Annyeong, eonni!” Mencoba menyadarkan yeoja yang terpaut usia dua tahun diatasnya itu. Tersenyum ramah tak ia lupakan. Otaknya sedikit berputar menghasilkan beberapa kemungkinan reaksi selanjutnya yang akan dikeluarkan yeoja dihadapannya.

“Lee Hyunrim? Benarkah ini kau? Kemana saja kau selama ini? Aigoo~ bogoshipo!” Tepat. Tiga pertanyaan yang selalu menjadi list teratas yang selalu terlontar padanya.

“Na do bogoshipo. Cepat masuk, eonni. Aku dan Jjong menyiapkan sesuatu untukmu.” Mendorong pelan bahu dan menggiringnya ke ruang keluarga.

“SAENGIL CHUKAE, NOONA~” Teriak Jonghyun lalu meniup sebuah terompet dengan antusias. Ia berubah jadi badut. Entah darimana ia mendapat kostum badut lengkap dengan hidung palsu merah berbentuk bulat sebesar bola pingpong. Hyunrim dan Songdam sama-sama terkejut dengan badut tampan yang terus meniup terompet dan melompat-lompat seperti anak TK itu. Hyunrim sama sekali tidak mellihat kostum itu saat mendekor ruangan tadi.

Selanjutnya. Sudah terlihat jelas. Mereka bertiga larut dalam pesta sederhana yang direncanakan Jonghyun.

*****

Berjalan cepat karena ia lelah berlari. Sedikit repot dengan dua kantung belanjaan yang ia bawa pada kedua tangannya. Sesekali membenarkan rok yang tersibak karena ia melangkah terlalu cepat. Lagi-lagi merutuki diri. Kenapa harus lupa waktu, kenapa ia bisa lupa, dan pertanyaan yang tidak perlu dijawab semacam itu terus mengabuti otaknya. Konyol. Sekarang ia merutuki rok yang ia kenakan. Bukankah ia sendiri yang ingin memakai rok itu. Rok itu tidak bersalah, hey Hyunrim.

Perlahan membuka pintu apartment-nya. Sebuah sepatu namja tergeletak di rak sepatu di samping pintu masuk. Hendak lari ke dapur, tapi terhenti ketika ekor matanya melihat kepala yang sedikit menyembul dari pinggiran sofa ruang tengah. Mengganti haluan mendekati objek tak asing bagi kornea matanya.

Jinki, tidur terlentang di atas sofa hitam itu. Matanya beralih pada jam dinding di atas televisi. 14.16. Sudah lewat makan siang. Apa namja sipit ini sudah makan? Kemudian ia duduk di atas karpet dengan motif zebra yang terletak di depan sofa hitam tempat tidur Jinki. Menyandarkan punggungnya pada sisi depan sofa. Membiarkan kantung belanjaannya tergeletak di samping kakinya. Lelah terus berlari dari halte sampai apartment-nya. Hyunrim memang naik bis saat pulang. Mana mungkin ia meminta Jonghyun untuk mengantarnya pulang, ia sedang merayakan ulang tahun Songdam. Taksi? Sayang uangnya tidak cukup untuk membayar taksi karena habis ia belanjakan.

Menatap kosong pada layar hitam televisi. Kepalanya tiba-tiba terasa berat. Ada sesuatu yang bertumpu pada pucak kepalanya. Oh, Jinki. Namja itu meletakan telapak tangannya pada puncak kepala Hyunrim.

“Sudah pulang hm.” Matanya tetap terpejam. Mungkin masih lelah.

“Hm. Mianhae, aku terlambat pulang. Oppa sudah makan?” Tetap dengan posisi yang sama. Pandangan lurus tak menatap Jinki yang memang masih terpejam.

“Sudah. Aku membuat ramyeon. Kenapa kau terlambat?”

“Itu…tiba-tiba temanku meminta bantuanku untuk menyiapkan kejutan untuk noona-nya. Lalu…”

“Noona?” potong Jinki. “Temanmu itu seorang namja?” lanjutnya.

“Ne. Wae?”

‘Wae’? Jinki tersenyum pahit. Apa salah jika ia cemburu? Apa ia terlalu berlebihan? Mungkin memang berlebihan. Jangan salahkan Jinki yang merasa seperti itu. Hatinya hanya punya rasa memiliki yang tinggi atas Hyunrim.

*****

“Perlu aku antar? Aku antar, ne?”

“Tidak perlu, oppa. Temanku sudah menunggu di depan. Lagi pula oppa harus siap-siap ke lokasi proyek kan? Aku berangkat. Cepat mandi. Annyeong!”

Jika tidak diingatkan mungkin Jinki akan kembali meringkuk di atas kasur. Jinki adalah seorang arsitek muda. Sebenarnya kedatangannya ke Seoul untuk urusan pekerjaan. Ia dipercaya untuk menangani proyek pembangunan real estate di Seoul. Waktunya bergerak, Lee Jinki. Ada kejutan menantimu.

*****

Koridor lantai lima gedung fakultas psikologi. Teritorial pelepas penat bagi Jonghyun dan Hyunrim. Tidak ada Jonghyun saat ini hanya ada Hyunrim. Ia sibuk bergulat dengan laptop merah dipangkuannya. Matanya memerah, kering, perih. Terlalu lama berperang dengan tugas. Menyelesaikannya tanpa ampun. Ia ingin cepat pulang. Ia harus memasak makan malam untuk Jinki.

“Selesai.” Lega tentu saja.

“Bagus. Ayo ke bakery.”

“Eoh? Sejak kapan kau ada disini, Jjong?” Ya, sejak kapan namja tampan itu sudah ada disamping Hyunrim. Dengan posisi berjongkok dan kedua tangan yang melingkar pada kedua kakinya. Mendongak saat Hyunrim berdiri dan menyampirkan tasnya.

“Ayo ke bakery. Songdam noona menyuruhku membelikan donat.”

“Tapi aku harus cepat pulang, Jjong.” Dari nada bicaranya jelas sekali Hyunrim sangat malas dan ingin cepat pulang.

“Sebentar saja. Nanti aku antar kau pulang.” Memaksa. Hyunrim rasa namja yang sedang menarik lengannya ini sedikit berubah. Akhir-akhir ini Jonghyun sering merengek minta ditemani kesana-kemari.

Bakery. Nyonya Song menyambut mereka dengan senyum ramah seperti biasa.

“Tadinya bakery akan aku tutup karena sudah hampir malam. Tapi karena kalian datang, tidak jadi aku tutup sekarang. Kalian pasti lelah. Duduklah dulu.”

“Ne, gomawo imo~” Jonghyun terlalu bersemangat.

Seperti biasa, muffin keju di hadapan mereka. Sebenarnya Hyunrim sangat ingin cepat pulang. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri tubuhnya yang lelah dan menolak untuk bergerak.

Menyesap perlahan coklat yang dibawakan Jonghyun. Matanya sangat berat. Sangat lelah. Sampai ia tidak sadar saat kepalanya terkulai ke atas meja dan benar-benar tertidur.

*****

Lehernya pegal. Benda yang mengalasi kepalanya terasa keras dan kaku. Sejak kapan bantalnya berubah menjadi kayu. Eoh?

Dug. “Aw!!” Kepalanya terbentur kaca jendela disampingnya.

“Jangan bangun terburu-buru seperti itu. Mau kuantar pulang sekarang?”

Mencerna tempat ia berada sekarang. Bakery.  Ya ampun, ia tertidur selama berapa jam tadi? Bakery jelas sudah tutup. Lampu jalan sudah menyala, langit gelap. Sekali gerakan ia mengangkat tangan kirinya dan melihat benda yang melingkar disana. 20.48.

“Kenapa kau tidak membangunkan ku??? Aku harus pulang sekarang. Cepat antar aku. Palli!!”

Lagi-lagi ia melewatkan waktu makan bersama Jinki. Bagaimana nasib namja chubby itu sekarang.

*****

Cklek. Lampu ruang tengah masih menyala. Bahkan televisi pun masih menyala. Hati-hati melangkah ke arah sofa. Tepat. Jinki tertidur dengan posisi duduk dan tangan terlipat di dada. Hyunrim memeriksa dapur. Ada panci di tempat cuci piring. Ada bungkus ramyun di tempat sampah kecil disampingnya.

Memilih kembali keruang tengah. Kembali mendudukan diri di karper motif zebranya. Meluruskan kaki kemudian menyenderkan punggung pada sisi sofa dengan sangat pelan. Takut gerakan kecilnya membangunkan Jinki. Menyisir pelan rambutnya kebelakang dengan jemari rampingnya. Menghela napas untuk kesekian kali.

“Kau sudah pulang, Hyunrim.” Suara Jinki. Kembali meletakan telapak tangannya pada pucak kepala Hyunrim.

“Aku tertidur tadi. Mianhae. Oppa sudah makan?”

“Ne. Untung kau punya persediaan ramyun cukup banyak.”

Merasa bersalah. Setelah kemarin siang ia lupa waktu dan membuat Jinki makan siang hanya dengan ramyun, sekarang ia malah ketiduran. Dan Jinki harus rela menu makan malamnya jauh dari bayangannya.

*** End of Chapter 2 ***

TBC

4 thoughts on “Love Should Go On [CHAP 2]

  1. jjongpa unnie jangan diambil, jebal, cemburu berat nich >.<
    kasihan nyupa, gk dapat waktu sama2 hyunrim walau tinggal satu apartement ckckkckck
    lanjut saeng😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s