Cry

Title                       : Cry

Main Cast            : SHINee Taemin as Lee Taemin

Support Cast      : SHINee Onew as Lee Jinki

Length                  : Drabble

Rating                   : PG-15

Genre                   : Life, Family, Angst

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. All of them belong to their self. This story  just my own imagination.

Summary             : Seakan ingin meringankan beban pada mataku yang terlalu lelah bertindak sendiri. Kini seluruh tubuhku memprotes melarang air mata ku untuk mengalir. Kini tubuhku lah yang menangis untukku.

*****

12 years ago

“Appa, lihat! Aku mendapat nilai 90!” bocah kecil berusia 6 tahun berlari menuju appa-nya sambil mengacungkan secarik kertas. Kaki kecilnya bergerak lincah ingin segera menggapai appa-nya. Sinar matanya mengalahkan terik matahari di siang hari itu. Sang appa telah merentangkan tangannya bersiap merengkuh jagoan kecilnya.

Hap. Seorang bocah laki-laki telah berada dipelukan appa-nya.

“YA! Hyung, kau curang!” berhenti berlari saat melihat hyung-nya malah mendahuluinya untuk memeluk sang appa. Menghentakan kaki dengan pandangan geram yang sama sekali tidak terlihat seram, malah sebaliknya. Kyeopta.

“Taeminie~ aku mendapat nilai 100~” meleletkan lidah sambil mengacungkan selembar kertas dengan coretan tinta merah membentuk angka 100, masih dalam pelukan appa-nya.

“Eomma, Jinki hyung curang,” mengerucutkan bibir mungilnya dan berjalan lemas kearah wanita yang di panggilnya eomma. “Kemari, Taemin, biar eomma yang memelukmu.” Bagai tikus yang melihat gunung keju dihadapannya, Taemin berlari dan memeluk eomma-nya.

“Kalian memang jagoan appa,” ucap namja tampan berperawakan tinggi tegap sambil mengusap puncak kepala kedua anak kebanggaannya, Lee Jinki dan Lee Taemin.

“Ani! Aku jagoan appa,” kata Jinki memprotes appa-nya. Kembali meleletkan lidah pada Taemin, dongsaeng-nya.

“Kalau begitu aku jagoan eomma saja. Huh!” balas Taemin tidak mau kalah dari Jinki.

Pasangan orang tua itu terkekeh melihat tingkah dua anak laki-laki mereka yang hanya terpaut usia dua tahun itu selalu berebut mendapat perhatian orang tuanya. Sering kali berdebat namun sebenarnya saling menyayangi.

*****

“Hikss…hiks.” Taemin menangis di pinggir jalan. Berjongkok menyembunyikan wajahnya diantara lipatan kedua lututnya. Mendongak, melihat sekelilingnya. Sepi. Ia tidak tau sedang berada dimana. Ia tersesat. “Hyung~”  terus merengek memanggil hyung-nya.

“Taemin!”

“Hyung!!!” mengusap air mata dengan punggung tangannya yang terkepal. Dengan cepat berdiri tersenyum cerah melihat hyung-nya yang mengayuh sepeda dengan cepat kearahnya.

“Darimana saja kau? Ku kira kau sudah pulang duluan. Tapi saat aku sampai di rumah, eomma malah menanyakan kau dimana.” Mengeluarkan segala kekhawatirannya yang sejak tadi menggumpal di dadanya. Jinki sangat khawatir saat mengetahui Taemin belum tiba di rumah. Padahal ia pikir Taemin sudah pulang duluan karena tidak menemukannya di sekolah.

“Aku…hiks…hyung…hiks…” terlalu bahagia melihat hyung-nya ada dihadapannya. Setengah mati ia ketakutan sendiri di pinggir jalan sepi ini.

“Uljimma. Kenapa tidak menunggu hyung untuk pulang bersama?”

“Aku kira hyung sudah pulang duluan. Aku tidak melihat hyung di kelas saat pulang sekolah. Kelas hyung juga sudah sepi.” Menjelaskan disela isak tangisnya yang mulai meredam.

“Sudahlah. Kajja, kita pulang. Eomma mengkhawatirkanmu.” Mengacak rambut dongsaeng-nya dengan gemas lalu menariknya ke sepeda mungil miliknya.

“Naik dibelakang,” titahnya.

*****

4 years ago

“Hyung~ bantu aku mengerjakan PR. Soal ini sulit sekali.” Masih sama, suka merengek pada hyung-nya. Tidak berubah walau sekarang ia sudah berusia 14 tahun. “Oh! Hyung rapi sekali. Hyung mau pergi kemana?” heran melihat Jinki yang sudah berpenampilan rapi dan wangi.

“Hyung ada urusan,” katanya cuek. “kau coba kerjakan sendiri PRmu, nanti hyung periksa hasilnya.”

“Hyung mau kemana?” beringsut mendekati Jinki.

“Bukan urusanmu.” Menatap cermin dihadapannya. Merapikan poninya yang sebenarnya sudah rapi. Sedikit memutar-mutar tubuhnya, memastikan ia terlihat sempurna dari berbagai sudut. Hah, sejak kapan Jinki sangat memperhatikan detail penampilannya.

“Hyung mau kencan ya?” Tepat. Wajah Jinki tampak tidak tenang bola matanya berlari kesana-kemari tak mengenal arah.

“Diam kau,” sedikit mendesis dan kembali mematut diri di depan cermin, menyembunyikan rasa gugupnya. Ayolah, kau sudah sangat sempurna Jinki. Tidak sadarkah kau?

“HUAAAA!!! EOMMA!! APPA!” tergesa menuruni tangga mencari keberadaan orang tuanya. “JINKI HYUNG SUDAH PUNYA YEOJACHINGU!!!” teriakannya menggelegar keseluruh penjuru rumah. Jinki yang masih asik menyempurnakan penampilannya tersentak kaget dengan teriakan namdongsaeng-nya.

“MWO?!” bahkan orang tua mereka ikut berteriak bersama mendengar berita yang disampaikan si bungsu. Menghentikan kegiatan mereka seketika.

“Ouch, sial!” umpat Jinki. Mencari keberadaan Taemin, menuruni tangga dengan hati was-was. Setelah sampai di anak tangga terbawah, ia membeku, disambut oleh pemandangan yang errr….sulit dijelaskan. Eommanya menatap tak percaya pada anak sulungnya. Penampilannya sempurna. Bahkan aroma perfume asing yang lembut tercium seketika saat Jinki turun. Taemin tersenyum lebar sambil memberikan peace sign. Sang appa menarik sebelah alisnya, “Mau kemana kau Jinki? Rapi sekali. Besok Taemin ada ulangan, biasanya kau akan mengurungnya untuk belajar dan tak mengijinkannya keluar sampai kau selesai menjelaskan materi ulangannya.”

Bingung. Haruskah Jinki jujur bahwa ia akan pergi untuk kau-tau-untuk-apa. Malu? Hei, kenapa harus malu? Ia mungkin masih sama polosnya dengan Taemin.

“Nugu?” appa bertanya.

“Mwo?” Jinki tidak mengerti.

“Siapa yeoja yang beruntung mendapatkan jagoan appa ini hm?” tertawa dan memukul pelan bahu Jinki. Jinki ikut tertawa garing. Ia kira orang tuanya akan melarangnya. Fiuh~

*****

1 year ago

Senyap. Semua bungkam tak berucap. Detak jam dinding seakan menghipnotis penghuni rumah untuk tetap bergeming.

Pahit. Sakit. Hati mereka teriris oleh takdir. Tak akan ada lagi sosok namja tampan bermata sipit tengah mereka. Tak ada lagi jagoan kebanggaan sang appa. Tak ada putra sulung kesayangan sang eomma. Tak ada hyung yang akan melindungi dongsaeng-nya.

Lee Jinki. Seorang pemuda berusia 19 tahun dinyatakan tewas karena penyakit Leukemia yang baru terdeteksi dua tahun belakangan. Itu yang orang lain tau. Itu yang menjadi pemberitaan tetangga. Hanya kamuflase. Tak ada yang tau kecuali dongsaeng-nya. Sang hyung bunuh diri dengan sengaja meminum racun.

“Taemin, kau harus jadi namja yang kuat. Kau harus menjaga appa dan eomma, juga dirimu sendiri. Hyung tak akan bisa menjaga kalian lagi. Hyung takkan bisa menemanimu saat kau menjelang ujian. Belajarlah sendiri mulai sekarang,” senyum letih terpampang di wajah pucatnya. Mata bulan sabitnya tak lagi memancarkan cahaya keteduhan. Pipi chubby-nya hilang berganti pipi tirus yang menonjolkan tulang pipi dengan jelas.

“Andwe, hyung. Hyung akan sembuh. Percayalah.” Menggenggam erat tangan kurus Jinki.

“Aku lelah, Taemin. Aku ingin tidur, bisa kau tinggalkan aku sendiri?” Hatinya bergelut hebat. Sangat ingin memenuhi keinginan Jinki, tapi tanpa alasan yang jelas kakinya terasa berat untuk beranjak dari tempatnya.

“Ne, hyung butuh istirahat.” Menyerah. Meninggalkan kamar Jinki agar ia bisa mendapat istirahat yang maksimal. Ya, harapannya terkabul. Jinki telah beristirahat sepenuhnya, selamanya.

Klek. Taemin memasuki kamarnya. Berjalan lunglai untuk mencapai meja belajar. Srek. Sebuah laci dibuka dan mengambil sebuah botol kecil di dalamnya. Botol yang telah kosong karena isinya telah diteguk habis oleh Jinki. Botol yang isinya telah sukarela mencabut nyawa hyung-nya. Taemin tak sengaja menemukan botol itu di kolong tempat tidur Jinki.

*****

Now

Setahun berlalu. Tak ada perubahan dengan keluarga Lee sejak hari itu. Senyap. Dingin.

“Aku berangkat.” Berjalan tanpa gairah. Lesu. Pandangan kosong dan dingin. Segera melajukan mobil ke tempat ia bekerja. Tanpa sarapan, tanpa memberi salam pada istri dan anaknya. Bahkan tanpa melirik sedikitpun pada mereka.

“Eomma…” lagi, seperti ini. Eomma-nya menangis tiap pagi. Suaminya tak lagi memberikan kehangatan untuknya, untuk anak bungsunya. Kegiatan yang selalu berulang tiap pagi. Tuan Lee pergi begitu saja kemudian istrinya akan menangisi keadaan mereka dan berakhir dengan Taemin yang memeluk sang eomma dengan penuh kasih sayang sebelum ia berangkat untuk sekolah.

*****

“Hai, Taemin. Pagi~”

“Ne, pagi~”

Tubuh tegapnya berjalan tanpa ragu. Senyum selalu terkembang dibibirnya, memperindah kesempurnaannya.

Lee Taemin. Tampan, pintar, ramah, sopan. Dipuja dan elu-elukan seantero sekolah. Nilai akademik yang menjulang melebihi rata-rata. Kemampuan non-akademik tak kalah dengan ahlinya. Memenuhi sebagian besar lemari piala sekolahnya dengan piala-piala atas namanya.

Pelampiasan. Hal ini dilakukannya semata-mata sebagai pelampiasan atas kematian Jinki. Pengobatan bagi luka hati eomma-nya. Dan upaya penarik perhatian appa-nya yang menguap sejak hari itu.

*****

Lagi, kegiatan yang terus berulang setiap hari. Saat Taemin pulang ia kembali menemukan eomma-nya menangis sambil menatap foto Jinki. Tidak kah ia lelah terus menangis?

Brrrm… seorang pria bertubuh tegap keluar dari mobil lalu memasuki rumahnya. Terus berjalan ke ruang kerjanya dengan pandangan lurus. Lagi-lagi tak mengacuhkan istri dan anaknya.

“APPA!!” Teriak Taemin menggelagar. Tangan tuan Lee terhenti di udara karena teriakan Taemin yang bertepatan dengan tangannya yang hendak meraih pintu ruang kerjanya. Menurunkan lengannya perlahan. Tidak menyahut, tidak berbalik. Tetap bertahan dengan posisinya yang memunggungi Taemin.

“SAMPAI KAPAN APPA AKAN BERSIKAP DINGIN PADA EOMMA?!” tidak tahan melihat sosok eomma-nya yang selalu tersenyum kini tampak rapuh. Tidak tahan dengan appa-nya yang dulu penuh kehangatan kini berubah menjadi gunung es.

BRAKK. Pintu tertutup kasar. Lebih memilih masuk kedalam ruang kerjanya, tetap tidak mengacuhkan perkataan Taemin.

“APPA!!!” Grep. Sebuah tangan kurus menggapai lengan Taemin yang hendak menghampiri appa-nya.

“Biarkan appa sendiri dulu. Ia hanya masih butuh waktu menenangkan diri.” Alasan yang sama. Menenangkan diri? Selama setahun lebih? Bukan hanya ia yang terguncang atas kematian Jinki. Sadarkah?

“Baiklah. Eomma istirahatlah.” Mengusap pelan pipi tirus wanita yang melahirkannya.

*****

Sebuah benda kecil dengan sisi yang tajam telah ada di genggamannya. Sret. Menggores perlahan pada bagian atas lengannya. Sret. Satu gores. Dua gores. Darah mulai muncul. Makin banyak, mengalir pada luka gores lainnya yang telah mengering berjejer membentuk pagar. Luka sayat yang sama. Terus bertambah setiap malamnya.

Taemin kembali menggoreskan silet pada permukaan kulitnya. Tidak meringis. Hanya diam menikmati perih yang melanda. Seakan ingin meringankan beban pada matanya yang terlalu lelah bertindak sendiri. Kini seluruh tubuhnya memprotes melarang air mata itu untuk mengalir. Kini tubuhnya lah yang menangis. Meneteskan darah segar merah pekat.

Mengambil tissue dan mengelap darahnya yang mengalir pelan di lengan kirinya. Ia tidak akan membiarkan dirinya mati. Ia akan menepati janjinya. Ia akan bertahan demi eomma-nya.

Ia tidak akan memotong nadinya. Ia hanya menggores lengan atasnya. Membiarkan mereka menangis menggantikan tugas matanya. Membiarkan darah segar menggantikan tugas air mata. Inilah caranya menangis, mengalihkan rasa sakit pada hatinya.

Sekali lagi, ia akan bertahan demi eomma-nya.

*** END ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s