Love Should Go On [CHAP 3]

Title                       : Love Should Go On

Main Cast            :

–          Lee Hyunrim (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

–          SHINee Onew as Lee Jinki

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Romance

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

Previous Chapter

“Kau sudah pulang, Hyunrim.” Suara Jinki. Kembali meletakan telapak tangannya pada pucak kepala Hyunrim.

“Aku tertidur tadi. Mianhae. Oppa sudah makan?”

“Ne. Untung kau punya persediaan ramyun cukup banyak.”

Merasa bersalah. Setelah kemarin siang ia lupa waktu dan membuat Jinki makan siang hanya dengan ramyun, sekarang ia malah ketiduran. Dan Jinki harus rela menu makan malamnya jauh dari bayangannya.

*** Chapter 3 ***

“Hari ini jangan pulang terlambat.”

“Ne? Wae?”

“Masak makan malam. Aku bosan makan ramyun.”

Mengangguk paham atas penjelasan singkat Jinki. Kembali berkutat dengan roti panggang dihadapannya sambil sesekali memainkan ponsel, sepertinya sedang mengetik pesan. Jinki sendiri sibuk dengan iPad disamping piringnya. Sejak tadi malam dua orang ini jarang mengeluarkan suara.

Srek. Kursi yang diduduki Hyunrim bergeser pelan. Ia sudah menyelesaikan sarapannya. Mengambil piring dan gelas untuk segera dibersihkan. Jinki melirik sedikit pada pemilik punggung sempit yang tampak sibuk tak jauh dari kursinya. Ia kemudian melakukan hal yang Hyunrim lakukan beberapa saat lalu. Meletakan piring dan gelasnya pada tempat cuci piring, membiarkan Hyunrim mencucinya sementara ia mengeringkan piring dan gelas basah yang telah tercuci. Tentu tak membutuhkan waktu lama, hanya dua buah piring dan gelas.

“Kajja, kita berangkat sekarang.”

“Ne.” Mengambil tas di kursi meja makan dan langsung menyambung langkah ke arah pintu depan dimana Jinki sedang mengenakan sepatunya.

Mereka berjalan beriringan dengan lengan Jinki melingkar dibahu Hyunrim. Tersenyum, matanya terarah pasti kedepan. Bahagia. Namja itu selalu senang berada disamping yeojanya. Sementara Hyunrim, ia berjalan dengan kepala tertunduk, masih sibuk dengan ponselnya.

“Rasanya sudah lama sekali kita tidak jalan bersama.” Jinki memulai percakapan saat mereka berada di dalam lift.

“Ehm. Ne, sudah lama.” Hyunrim menjawab seadanya, “Oppa mau aku temani jalan-jalan di Seoul?”

Tepat. Pertanyaan itu yang ingin Jinki dengar dari mulut Hyunrim. “Ne. Kapan kau ada waktu? Sepertinya akhir-akhir ini kau sibuk sekali.”

“Oppa sendiri? Sepertinya proyek kali ini menelan cukup banyak tenaga, hm?”

“Ya, begitulah. Makanya aku butuh hiburan. Ah, aku ingin ke sungai Han.” Kata Jinki dengan ceria. Disaat seperti ini Hyunrim ingin melahap namja disampingnya itu. Gemas. Jinki seperti anak TK dengan senyum melengkung diantara dua pipi chubby-nya. Membuat tulang pipinya naik dan matanya membentuk garis horizontal terindah yang pernah ia lihat. Berlebihan? Tapi memang seperti itu yang dirasakannya.

“Baiklah. Aku akan menemanimu ke sungai Han. Pemandangan malam hari disana lebih indah.”

Ting. Tepat saat pintu lift terbuka, ponsel keduanya bergetar. Panggilan masuk untuk Jinki dan sebuah pesan baru untuk Hyunrim.

“Yoboseyo. Ne?……Ne, Sajangnim. Saya segera datang. Ne….”

1 New Message.

From : Jonghyun Kim

Aku di depan gedung apartment-mu. Cepat keluar.

“Hyunrim, kajja. Aku harus segera ke tempat kerja.”

“Oppa berangkatlah, tidak perlu mengantarku. Oppa sedang buru-buru kan?”

“Tapi–”

“Temanku sudah menunggu di depan, aku berangkat dengannya. Oke? Annyeong~”

Hyunrim kembali masuk ke dalam lift dan naik ke lantai satu berhubung tadi ia berada di basement. Drrrt…ponselnya kembali bergetar.

‘Jonghyun Kim’ calling

“Yoboseyo!” jawabnya malas sambil terus berjalan keluar gedung apartment-nya.

“Dimana kau? Cepat keluar.”

“Ne~ tuan Kim. Kau bisa angkat kepalamu. Kau lihat aku sedang berjalan ke arah mu, hm?” Mematikan sambungan telepon dan terkekeh geli melihat wajah kesal Jonghyun yang merasa dibodohi.

*****

Brrm… Mobil hitam metalik milik Jinki terpakir sempurna di sebuah gedung pencakar langit yang berdiri megah diantara gedung perkantoran lainnya. Ia heran kenapa Presdir Park, pemimpin perusahaan yang menggarap proyek real estate yang ditanganinya, tiba-tiba meminta ia datang ke kantornya secara pribadi. Ya, Presdir Park sendiri yang meneleponnya langsung. Cukup janggal, karena bukankah biasanya tugas semacam itu dilakukan oleh sekretaris.

Tak mau ambil pusing dengan pertanyaan tak pentingnya itu. Jinki mulai memasuki gedung dan bergerak menuju meja receptionist.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya seorang yeoja yang berdiri di belakang meja  receptionist.

Jinki melihat sekilas name tag pada seragam receptionist muda itu. ‘Cho YeonGi’.

“Aku diminta menemui Presdir Park. Dimana ruangannya?” lanjut Jinki dengan senyum ramahnya.

“Anda Lee Jinki? Sajangnim meminta anda untuk menunggu diruangannya, dilantai 12.” Ucap sang receptionist muda dengan senyum pula tentunya.

“Ok. Gomawoyo, YeonGi-ssi.” Masih betah dengan angelic smile-nya.

“Ne, cheonmaneyo. Eh, changkaman-yo!” Cegah YeonGi saat Jinki hendak menuju lift.

“Ada hal lain?” tanya Jinki.

“Dari mana anda tau namaku?” Yeoja cantik itu tampak enggan menatap Jinki. Kepalanya sedikit menunduk dan ada semburat merah pada kedua pipinya.

Jinki yang melihat tingkah YeonGi tidak bisa menahan senyumnya. Lucu, pikirnya. “Aku melihat name tag-mu, YeonGi-ssi. Annyeong~” Kembali menyambung langkah ke arah lift. Sesekali ia menggeleng kecil dan tersenyum geli mengingat tingkah receptionist muda tadi.

Sementara YeonGi, ia tersenyum penuh arti dan tetap tersipu saat melihat punggung Jinki yang mulai menjauh. Terpana dengan sorot mata teduh dari mata bulan sabitnya. Ditambah angelic smile yang tak pernah luntur dari wajah tampannya. Ia juga kagum pada namja itu karena tau Jinki adalah arsitek muda yang ditunjuk untuk proyek baru perusahaan tempatnya bekerja. Tata kramanya menunjukan ia benar-benar namja berpendidikan, menambah karisma tersendiri baginya.

*****

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Bosan. Jonghyun mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja. Sepi. Sesering apapun ia mengedarkan matanya ke seluruh kantin itu, pengunjungnya tetap tak bertambah. Hanya ia sendiri dan beberapa mahasiswa lain yang tak ia kenal. Ia sedang membolos. Bosan. Hanya bosan dan butuh penyegaran.

Tidak ada yang bisa diajak senang-senang. Key. Ia masih setia mengikuti kelasnya. Hyunrim. Sama saja. Setidaknya mereka akan datang sekitar 20 atau 30 menit lagi. Mendengus. Itu terlalu lama baginya. Mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan disana.

To           : Lee Hyunrim

Cepat datang ke kantin. Aku bosan.

Send.

Ia tau Hyunrim tidak akan membalas pesannya. Dibaca pun belum tentu.

8 menit.

10 menit.

Benar-benar hanya tinggal dirinya di kantin itu. Kembali meminum jus ke dua yang di pesannya.

15 menit.

Mahasiswa kembali berdatangan. Kantin mulai ramai. Tapi orang yang ditunggunya belum muncul sama sekali.

20 menit.

Kantin mulai bising karena pengunjung makin banyak.

25 menit.

Drrrt…

1 new message.

From     : Lee Hyunrim

Kantin pasti penuh. Benarkan? Aku tunggu di tempat biasa. Ah, belikan aku susu kotak, rasa coklat. Gomawo, Jjongie~ ;P

Selalu seperti ini. Kapan ia bisa membiasakan diri dengan tempat ramai. Rekornya paling lama bertahan ditengah keramaian adalah 30 menit, dengan rasa pusing yang ia tahan setengah mati. Lebih dari itu, wajahnya akan memucat bahkan pernah hampir pingsang. Aneh. Apa kabar jika ia menikah? Bukankah pasti banyak tamu undangan yang datang. Resepsi pernikahan itu bisa berlangsung selama berjam-jam. Jelas tidak mungkin pengantin wanita hanya menampakan diri selama 30 menit dan menghilang dimenit selanjutnya.

Jonghyun memikirkan hal itu sampai ia sadar bahwa ia sudah di territorial pelepas penatnya. Tidak ada orang lain disana kecuali Hyunrim tentu saja. Seperti biasa, duduk tanpa alas di lantai dengan laptop merah dipangkuannya. Kali ini ditambah tumpukan buku disampingnya.

Menoleh sebentar pada Jonghyun dan meminta susu kotak yang di pesannya. Meminum separuhnya dengan cepat lalu kembali bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya terus aktif berlari diatas keyboard. Sesekali ia mengambil buku disampingnya untuk dibaca walau hanya beberapa kalimat dan menutupnya kembali. Sementara Jonghyun, ia memposisikan diri duduk disamping Hyunrim dan menikmati lagu yang beralun dari earphone yang disambungkan dengan iPod-nya.

“Kau mau ikut mendengarkan lagu?” tawar Jonghyun menyodorkan sebelah earphone-nya.

“Tidak. Aku tidak bisa konsentrasi. Lebih baik aku mendengarmu bernyanyi.” Jawab Hyunrim datar tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

Jonghyun mengangkat bahunya. Mulai memutar lagu dan sesekali ikut melantunkan lagunya atau hanya sekedar bersenandung kecil sambil menggerakkan kepalanya. Terus begitu sampai kira-kira satu jam, dan Hyunrim memutuskan untuk sejenak berhenti memerangi tugasnya yang menggila.

Sadar adanya gerakan lain dari yeoja disampingnya, Jonghyun mematikan iPod tanpa melepas earphone.

“Sudah selesai?” tanya Jonghyun.

“Hampir.”

“Kenapa tidak kau kerjakan di apartment mu?”

“Ada hal lain yang harus aku kerjakan disana,” jawab Hyunrim sambil membereskan barang-barangnya. “Kajja, kita pulang,” lanjutnya.

“Tidak mau mampir ke bakery dulu, hm?” tawar Jonghyun dengan senyum khasnya.

“Ani. Aku harus cepat pulang. Kalau kau ingin ke bakery, sendiri saja. Aku bisa pulang naik bus.” Bukan ancaman atau paksaan agar Jonghyun mau mengantarnya pulang. Lagi pula tidak masalah baginya jika ia harus pulang dengan bus. Tapi entahlah, kalimat tadi terdengar seperti rajukan bagi gendang telinga namja bermarga Kim itu. Dan ya, telah jadi kebiasaan bagi mereka untuk pergi kemana pun berdua. Tak lengkap tanpa kehadiran salah satu dari mereka. Terasa pincang.

*****

Hyunrim berjongkok di depan kulkas. Memilah bahan makanan untuk makan malam. Sebenarnya ia lelah, ingin tidur. Tapi ia tidak bisa membiarkan Jinki lagi-lagi makan malam dengan ramyun. Jadi ia memutuskan untuk memasak lebih cepat, lalu saat waktu makan malam ia hanya tinggal menghangatkan masakannya. Ia bahkan belum masuk masuk ke kamarnya untuk sekedar mengganti baju. Yeoja itu tidak akan tahan melihat ranjangnya. Bantal-bantal kesayangannya akan seolah memanggil dan memintanya menenggelamkan diri diantara mereka.

Hyunrim bingung melihat bahan makanan yang menumpuk di kulkas. Jelas saja, ia belum memasak sejak bahan makanan itu dibelinya. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah objek yang memberinya ide. Ayam. Sebagai permintaan maafnya pada Jinki ia akan memasak ayam.

Mulailah yeoja berambut hitam itu bermain dengan peralatan dapur. Memasak itu menyenangkan. Satu pelajaran yang tidak ia dapat dari eomma-nya, tapi dari eomma Jinki yang sudah seperti eomma-nya sendiri sekarang. Yeoja ini tidak pernah mendapat pelajaran seperti itu dari eomma-nya selagi beliau masih hidup. Ia sangat dimanja oleh seluruh keluarganya. Appa, eomma, oppa-nya, mereka sangat memanjakannya dulu, sebelum satu per satu dari mereka semua pergi menuju kehidupan abadi.

Tek. Tudung saji diletakan diatas meja makan menandakan ia sudah selesai dengan hobi barunya. Melepas apron dan melipatnya asal. Berlari ke kamarnya, ingin segera menyapa bantal-bantalnya. Tapi langkahnya terhenti. Sebelah kakinya membeku di udara. Matanya menangkap objek yang selalu mengejarnya. Tugas kuliahnya. Laptop dan beberapa bukunya yang tergeletak manis di meja ruang tengah seakan mengolok-oloknya.

‘Aish!’ menggerutu dalam hati. Baiklah, bantal-bantal itu masih harus bersabar untuk disapa pemiliknya. Lalu menghentakan kaki berjalan ke arah lemari pakaian di dalam kamar. Mengambil asal piyama dan menuju kamar mandi tanpa melirik se-senti pun pada ranjangnya. Berharap dengan mandi bisa mengurangi rasa lelah sekaligus men-charge energinya.

Setelah beberapa menit pintu kamar mandi terbuka. Piyama biru polos melekat pada tubuh tingginya. Air menetes dari ujung rambutnya yang masih basah. Seperti dugaannya, mandi sedikit mengurangi rasa lelahnya.

06.00 PM

Sambil menunggu Jinki pulang, Hyunrim memutuskan kembali membantai tugas-tugasnya. Ia membawa salah satu bantalnya yang berukuran besar ke ruang tengah. Menjadikannya alas dan mendudukan diri di depan meja rendah ruang tengah. Terus sibuk dengan tugasnya. Bosan dengan posisi duduk, Hyunrim memindahkan laptop dan buku-bukunya ke atas karpet lalu ia telungkup di atas bantal besarnya.

Ponselnya bergetar.

‘Jonghyun Kim’ calling

“Yoboseyo~”

“Hyunrim, kau dimana?”

“Di apartment. Wae?”

“Ayo keluar. Aku bosan di rumah.”

“Kenapa tidak kau ajak Songdam eonni saja? Atau Key? Aku sedang sibuk, Jjong..”

“Aku bosan. Lagi pula sejak kau kembali, kita belum pernah jalan-jalan seperti dulu kan. Ayolah. Jebal~ aku jemput sekarang, ne?”

“Jjong, aku benar-benar sibuk sekarang. Next weekend?” Hyunrim mengapit ponselnya pada telinga dan pundak sebelah kanan. Masih dengan mata yang mengarah pada laptopnya.

“Ck! Baiklah, weekend. Tapi kau jangan menolak. Jangan beralibi sibuk dan semacamnya. Yaksok?” desak Jonghyun.

“Hm. Ne. Yaksok.”

“Aku pegang janjimu…”

Pip. Yeoja yang menggulung rambutnya asal itu segera memutus sambungan telepon sebelum orang disebarang sana mengoceh lebih lama dan itu akan mengganggu konsentrasinya pada tugas dihadapannya.

*****

10.00 PM

Cklek. Sebuah pintu apartment bernomor 6066 itu terbuka dan sebuah kepala menyembul di baliknya. Kembali menutup pintu sambil menanggalkan  sepatunya. Apartmentnya itu masih terang benderang. Ruang tengah, dapur, lampunya masih menyala terang. Dilihatnya sebuah laptop merah yang terbuka tapi hanya menampilkan warna hitam pada layarnya. Seorang yeoja tidur telungkup di depan laptop itu dengan bantal besar menjadi alasnya.

Jinki menghampiri yeoja yang tak lain adalah Hyunrim itu lalu merebahkan diri disampingnya dengan posisi telungkup juga. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Ia memiringkan kepalanya sehingga berhadapan dengan wajah tidur yeojanya. Tidak berniat membangunkan. Terus menatap lekat. Rasa lelahnya berangsur menguap seiring detik-detik ia menatap setiap lekuk wajah Hyunrim. Yeoja yang setiap detik mengisi pikirannya. Yeoja yang memonopoli ruang hatinya. Yeoja yang ia sayangi, kasihi, ia cintai.

Masih dengan posisi yang sama. Bergeming. Sampai ia menemukan perubahan ekspresi pada wajah tidur Hyunrim. Yeoja itu tiba-tiba mengernyit. Kedua alisnya sedikit bertaut. Sedetik kemudian cairan bening mengalir dari sudut matanya. Jinki menghapus perlahan air mata yang terus mengalir itu dengan perlahan dan selembut mungkin. Saat ia menangkupkan sebelah tangannya pada pipi Hyunrim, perlahan kelopak mata sang yeoja bergerak dan terbuka sempurna. Sepasang mata bulan sabit yang bersinar teduh jatuh tepat pada retina sang yeoja. Cukup lama keduanya saling menatap sampai pelupuk mata Hyunrim tidak sanggup menampung kristal yang terus mendesak hingga akhirnya ia kembali menangis dan terisak.

“Uljima. Kau bermimpi buruk lagi?” tanya Jinki. Ia merubah posisinya hingga menyamping menghadap Hyunrim. Kepalanya kini langsung menyentuh karpet motif zebranya. Kedua tangannya menarik Hyunrim pada pelukankannya. Ia terus mengusap lembut kepalanya.

“A–aku takut..” dengan suara bergetar ditengah isakannya Hyunrim berusaha bersuara, “aku melihat Appa. Tergantung dijendela. Ia mati. Tak bernyawa. Persis saat aku menemukannya dulu.”

Jinki tau ‘Appa’ yang dimaksud Hyunrim saat ini adalah ayah biologis Hyunrim yang meninggal setahun lalu. Beliau memang bunuh diri dengan membiarkan sebuah tali mencekik lehernya. Gantung diri. Dan Hyunrim yang pertama menemukan jasadnya sudah tergantung pada jendela tinggi di ruang perpustakaan kecil milik keluarganya. Hal itu jelas menjadi pukulan keras bagi batinnya. Appa-nya, anggota keluarga satu-satunya yang tersisa, meninggalkannya.

*****

Saat dirasa Hyunrim sudah mulai tenang, Jinki mulai melepaskan pelukannya. Kembali mengusap lembut sisa air mata pada wajah yeoja itu.

“Uljima…ada aku disini. Aku tak akan meninggalkanmu sendiri.”

Mengangguk pelan menanggapi perkataan Jinki. Ia sangat beruntung ada Jinki disampingnya. Mengembalikan sinar kehidupannya. Jinki yang selalu menjaganya.Walau terkadang Jinki terlalu berlebihan. Over protective.

Drrrrt…drrrrt…

Sebuah ponsel bergetar dengan suara teredam. Hyunrim dengan sigap mengangkat bantal yang menjadi alasnya. Memang ponselnya yang bergetar. Ia tidak begitu suka mendengar dering ponsel. Apapun itu. Jadi ia selalu memakai mode getar pada ponselnya.

‘Jonghyun Kim’ calling

“Yoboseyo~ EHM!” sedikit berdeham saat mendapati suaranya sengau bahkan masih bergetar sisa dari tangisannya tadi.

“Ya! Kau kenapa?” tanya Jonghyun khawatir.

“Hm? Aku tidak apa-apa.” Sedikit melirik pada Jinki yang telah beralih tempat ke sofa hitam sementara ia masih duduk di karpet.

“Jangan bohong. Suaramu aneh. Kau habis menangis?”

Seulas senyum terukir pada bibirnya, dan Jinki menyadari hal itu. “Ani. Sok tau. Kau meneleponku saat aku tidur. Kau mengganggu tau. Untuk apa kau meneleponku malam-malam begini?” elaknya.

“Ck! Terserahlah.” Jonghyun berdecak kesal sebelum melanjutkan, “Kau pasti belum makan.”

“Setelah menjadi penyihir kau juga sekarang seorang peramal, eoh?” senyumnya semakin lebar.

“Kau selalu memforsir diri. Kau pasti tertidur saat mengerjakan tugas. Aku yakin kebiasaanmu masih belum berubah. Cepat makan.”

Ia terlalu mengenalku, pikir Hyunrim. “Ne~”

“Ya sudah. Aku hanya mengingatkan. Annyeong~” Telepon terputus dan menyisakan senyum pada wajah sembab Hyunrim.

Tanpa peduli tatapan intens Jinki, ia segera menuju dapur dan mulai menghangatkan makanan yang tadi dimasaknya. Jinki beralih duduk di meja makan dan menunggu makanan tersaji. Dalam diamnya Jinki masih menatap intens Hyunrim. Walau dari samping tapi ia bisa melihat wajah yeoja itu masih berseri-seri.

“Selamat makan~” ucap Hyunrim dengan semangat. Cepat sekali ia berubah setelah menerima telepon tadi. Jinki mengakui ia lebih suka melihat Hyunrim dengan senyumnya sekarang. Tapi entahlah, ada perasaan tak nyaman pada hatinya.

“Oppa, aku sudah cukup waras untuk menggunakan pisau.” Hyunrim mulai membuka obrolan pada makan malam yang pertama kali sejak kedatangan Jinki itu. Ia memberikan penekanan lebih pada kata ‘waras’. Bukankah sudah dikatakan bahwa terkadang cara Jinki untuk menjaga Hyunrim terlalu berlebihan. Ini lah salah satu contohnya. Namja sipit itu masih takut sewaktu-waktu emosi Hyunrim tiba-tiba labil dan kembali mencoba bunuh diri. Dua bulan pertama kedatangan yeoja itu dikediaman keluarga Jinki, ia selalu berulah. Mencoba gantung diri, berusaha melompat dari balkon lantai dua, mengiris nadinya dengan pisau, dengan sengaja memakan berbutir-butir obat tidur, menenggelamkan diri di bak mandi, dan bahkan ia pernah tiba-tiba berada di tengah jalan saat eomma Jinki mengajaknya pergi ke taman.

Jinki sendiri hampir frustasi menghadapi keliaran Hyunrim saat itu. Sejak saat itu Jinki selalu mengawasi dan menjaga Hyunrim. Hyunrim yang tadinya ditempatkan di kamar tamu lantai dua, tepat disamping kamar Jinki, ia pindahkan ke kamar tamu lantai satu. Ia bahkan rela tidur di ruang keluarga yang terletak di depan kamar tamu itu agar bisa tetap siaga mencegah keliaran Hyunrim. Ia juga tak membiarkan benda tajam berada di dekat Hyunrim. Bahkan menjauhkan Hyunrim dari dapur, walaupun pada akhirnya setelah keadaan psikisnya berangsur normal, yeoja itu malah senang berkutat di dapur karena ajakan eomma Jinki. Jinki tidak membiarkannya begitu saja. Hyunrim memang selalu berkutat di dapur, tapi ia tetap tidak diijinkan menyentuh pisau. Memotong daging, sayuran, dan semacamnya selalu Jinki yang melakukannya. Dan hal itu ternyata masih berlangsung sampai sekarang.

“Siapa yang meneleponmu tadi?” Jinki mengalihkan pembicaraan.

“Ne? Oh, itu Jonghyun, temanku.”

“Apa yang ia katakan?” ia mulai menginterogasi.

“Menyuruhku makan.” Jawab Hyunrim singkat.

“Benar hanya teman? Kenapa ia terdengar sangat peduli padamu?” agak kesal, tapi Jinki tetap menjaga nada bicaranya.

“Teman dekat. Kami bersahabat cukup lama. Lagi pula, apa salah jika seseorang peduli pada temannya?” Tatapannya kini teralih pada namja yang ternyata sudah menatapnya terlebih dulu.

“Kalian tidak ada hubungan special?”

“Ani, oppa.” Hyunrim mulai malas menghadapi Jinki pada topic pembicaraan seperti ini.

“Lalu kenapa kau juga terlihat senang mendapat telepon darinya?” Jinki terlalu menuntut.

Menghela napas sebelum menjawab, “apa aku tidak boleh merasa senang jika seseorang menunjukan rasa pedulinya padaku?”

Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik. “Aku lelah. Aku tidur sekarang. Jika oppa sudah selesai, taruh saja piringnya di tempat cuci. Biar dibersihkan besok pagi saja.” Selera makannya hilang. Di balik pintu kamarnya Hyunrim tersenyum kecut. Tidak bisa memungkiri ada sedikit perubahan sikap pada Jinki.

Tinggal lah Jinki yang menatap kosong mangkuk nasinya yang masih penuh. Berapa kali mereka mendebatkan hal yang sama. Koreksi, bukan mereka, hanya Jinki. Namja ini tau, ia memang terlalu berlebihan. Seakan belum puas sebelum Hyunrim mengatakan ia ingin melepaskan diri dari Jinki, padahal hal itu yang paling tidak ia inginkan.

Mata sipitnya terpejam. Jari kokohnya memijit pelan pelipisnya. Ia berlebihan, ia tau. Ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia selalu tidak bisa mengontrol emosi. Sebenarnya sangat sederhana, itu bentuk rasa ketakutannya untuk kehilangan Hyunrim.

*****

Telapak tangannya hanya menempel pada sebuah pintu. Masih ragu untuk mengetuknya karena teringat kejadian tadi malam. Tapi melihat jarum jam yang terus berputar, ia harus segera mengetuk pintu itu. Perlahan telapak tangannya mengepal. Tuk. Masih ragu, hanya mengetuk kecil pintu kayu itu dengan ujung jari telunjuknya. Menghela napas lalu memberanikan diri mengetuk pintu.

Tok…tok…

Tok…tok…

Ini kesekian kalinya yeoja itu mengetuk pintu yang berhadapan dengan kamar tidurnya, kamar tidur Jinki, tapi sama sekali belum ada tanda-tanda sang pemilik kamar akan keluar dari kamarnya. Padahal jelas terdengar ada bunyi alarm dari dalam kamar itu.

Cklek. Akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Saat kepalanya menyembul dari balik pintu, ia bisa melihat sosok yang duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk dan rambut acak-acakan. Sosok itu mengangkat tangannya ke udara kemudian menggeliat sementara matanya masih setengah terbuka. Malah dari jaraknya saat ini ia melihat mata itu masih terpejam.

“Sarapan sudah siap, oppa.” Ujarnya lembut.

“Hm~” hanya bergumam ditengah keadaannya yang masih setengah sadar. Lalu dengan lunglai ia keluar dari kamarnya.

BRUGH!!

Kegiatan Hyunrim mengoles selai pada rotinya terhenti saat  mendengar suara berdebam yang cukup keras.

“Ugh~” lenguh seseorang.

Yeoja jangkung itu kini tak bisa menahan tawanya saat melihat seseorang yang baru beberapa saat lalu bangun dari tidurnya itu  sedang berusaha bangun dari posisinya yang telungkup di lantai. Hyunrim bisa menebak namja itu jatuh karena kakinya terjerembab ujung karpet saat menuju kamar mandi. Padahal sudah ia peringatkan untuk tidak berjalan dengan menyeret kaki.

“Gwenchana, oppa?” tanya Hyunrim setelah berhasil mengontrol tawanya.

“Gwenchana. Sudah biasa, aku sudah kebal.” Jawab Jinki sekenanya lalu segera menghilang di balik pintu kamar mandi.

Ya, pasti Jinki sudah kebal. Ia terlalu sering terjatuh. Selama tinggal dengan Jinki dan keluarganya di Gwangju, entah berapa kali Hyunrim melihat secara live adegan Jinki terjatuh.

Beberapa menit kemudian Jinki keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Mengerutkan kening, heran melihat Hyunrim dengan penampilan rapi yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Mulutnya tampak sibuk mengunyah sedangkan tangannya seperti sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Biasanya yeoja itu masih mengoleskan selai pada roti atau membuat segelas susu untuk dirinya sendiri dan secangkir kopi untuk Jinki sambil menunggu namja itu selesai mandi.

“Oh. Kau sudah selesai, oppa?” tanya Hyunrim saat menyadari Jinki sedang memandanginya. Seolah mengerti dengan tatapan bingung Jinki, ia kembali melanjutkan, “aku harus berangkat sekarang, oppa. Hari ini kelas pertama dimulai lebih pagi.”

Belum sempat Jinki bersuara, Hyunrim kembali berbicara. Bukan pada Jinki, tapi pada seseorang yang lain lewat ponselnya.“Ne, aku turun sekarang.”

“Kau berangkat dengan siapa?”

“Temanku sudah menunggu di bawah.” Jawabnya sambil mengenakan sepatu.

“Nugu?” Jinki penasaran.

Ragu untuk mengatakannya. Hyunrim takut Jinki kembali bereaksi seperti semalam. “Jonghyun,” dengan suara pelan dan menunduk menyibukan diri dengan sepatunya.

“Hati-hati!” Sungguh diluar dugaan. “Ah, changkaman.”

“Hm?” Jinki menghampiri Hyunrim yang sudah berada di ambang pintu. Melempar tatapan teduh khasnya dan tersenyum sebelum berkata, “Mianhae, atas sikapku semalam,” ucapnya tulus.

“Gwenchana, oppa. Aku mengerti. Aku juga minta maaf.”

“Untuk?” heran Jinki.

“Hm…tidak bisa menjaga sikap (?) Seharusnya aku tau statusku sekarang.” Hyunrim agak ragu dengan kalimat yang dilontarkannya.

“Tak usah kau pikirkan. Jangan sampai status kita membebanimu. Aku tak mau mengekangmu.” Ujar Jinki dengan tulusnya.

“Gomawo.”

*****

“Besok aku jemput jam 10.”

“Ne? Besok aku ingin istirahat. Aku mau tidur seharian.”

“Besok weekend, kau ingat? Kau berjanji akan pergi denganku.”

Tidak menyangka Jonghyun akan menanggapi kata-katanya, padahal Hyunrim tidak serius dengan ucapannya waktu itu.

“Kau tidak mungkin lupa kan, jagi?” desak Jonghyun setengah menggoda.

“Ya! Jangan memanggilku seperti itu. Ku kira kau sudah waras dan berhenti memanggilku seperti itu.” Disaat-saat tertentu Jonghyun memang senang menggoda Hyunrim dengan panggilan itu. Ia senang saat melihat wajah panik Hyunrim saat ia memanggilnya ‘jagiya’. Entahlah apa yang membuat yeoja itu selalu panik mendengar panggilan itu. Tapi Hyunrim tidak pernah benar-benar melarang Jonghyun untuk memanggilnya seperti itu.

“Ayolah, jagi~”

“Jangan besok. Lusa. Hari Minggu, otte?”

Setelah sepakat, mereka pada kegiatan masing-masing. Hyunrim dengan bukunya, dan Jonghyun dengan iPod-nya. Di tempat biasa, dengan posisi duduk bersebelahan tanpa alas di lantai. Jika bisa, yeoja bermarga Lee itu akan membaca buku di perpustakaan. Tapi namja berahang tegas disampingnya selalu melarang. Sudah menjadi kebiasaan bagi Jonghyun untuk selalu disamping Hyunrim. Sayangnya, namja itu tidak bisa bebas bersenandung jika berada dalam perpustakaan. Dan jadilah tempat itu satu-satunya tempat mereka mendamparkan diri untuk menunggu waktu sore.

Entah dimulai sejak kapan, tapi hal itu rutin mereka lakukan. Jika selesai dengan mata kuliah masing-masing, mereka akan duduk disana sampai sore hari. Moment yang paling mereka suka. Waktu terbaik untuk menikmati koridor lantai lima itu memang sore hari. Angin berhembus lebih kencang dan suhu udara mulai menurun. Dingin tapi tidak menusuk. Sejuk.

“Poselmu bergetar, jagi.”

Perkataan Jonghyun membuat Hyunrim kembali dari penjelajahan dengan bukunya. Ia sering lupa diri jika sudah bersentuhan dengan buku.

‘Jinki Lee’ calling

“Yoboseyo, oppa!”

“Yoboseyo! Kau dimana?”

“Di kampus. Wae?”

“Kau lihat langit mendung?”

Hyunrim berdiri untuk memastikan. Ia berbalik dan bersandar pada pagar tembok pembatas lalu mulai menjawab, “ne~”

“Kau tau apa yang harus kau lakukan sekarang?” tanya Jinki dari seberang.

“Mwo?” hanya pura-pura. Tentu saja Hyunrim sudah tau.

“Lee Hyunrim. Kau–”

“Ne~ aku tau. Aku pulang sekarang.” Hyunrim memotong ucapan Jinki karena ia sudah tau apa yang akan dikatakannya. Setelah meng-iya-kan semua perkataan Jinki dan telepon sudah terputus, ia menarik tangan Jonghyun menyuruhnya berdiri. Dan terus menarik tangan itu sampai tiba di parkiran.

“Jagi, kau tinggal dengan siapa di apartment itu?” Jonghyun menyuarakan rasa penasarannya saat motornya berhenti karena lampu merah.

“Kenapa kau masih memanggilku ‘jagi’, Jjong?”

“Sudah lama aku tidak memanggilmu seperti itu. Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa kau tinggal dengan kerabatmu dari Gwangju itu?”

“Hm. Lampu hijau, Jjong. Jalan.”

*****

Beribu titik air menghempaskan diri ke bumi dengan kecepatan tinggi. Mereka seolah berlomba membasahi kerak planet berpenghuni ini.

Namja bermata sipit duduk di sofa hitam dengan secangkir kopi tersaji di meja di hadapannya. Disamping secangkir kopi ada gelas lain yang berisi susu coklat. Ia hanya duduk diam memperhatikan asap yang mengepul dari cangkir dan gelas itu. Belum mau meminumnya, ia sedang menunggu si pemilik susu coklat datang.

Drap..drap…drap…

Langkah pendek yang cepat terdengar mendekat ke arahnya. Seorang yeoja yang mengenakan sweater merah dan dipadu dengan celana berwarna hitam yang bahkan ujungnya tidak menyentuh lutut sama sekali. Tangan kanannya memeluk bantal besar sementara tangan kirinya tampak menyeret selimut tebal.

Duduk disamping Jinki dengan kaki bersila yang tertutupi selimut tebal yang dibawanya.

“Huuuuh~ dingin~” katanya sambil menepuk-nepuk telapak tangannya.

“Kenapa memakai celana pendek?”

“Semua celana panjangku belum di cuci.”

“Ck!” Jinki melangkah dan menghilang di balik pintu kamarnya. Sesaat kemudian namja itu kembali muncul dengan sebuah celana training di tangannya. “Ini. Pakai punyaku dulu.”

“Gomawo, oppa,” segera menggantinya di kamar mandi yang hanya berjarak beberapa langkah dari sofa tempatnya duduk tadi. Begitu selesai, ia menyadari keadaan tidak sebising sebelum ia masuk kamar mandi. Menoleh ke arah pintu kaca besar. Sepertinya kecewa atas potret di balik pintu itu.

“Kenapa hujannya sudah berhenti. Cepat sekali.” Srek. Pintu kaca bergeser membuka akses ke balkon. Duduk bersila di balkon dan sedikit mendongak menatap langit Seoul.

“Minumlah,” Jinki menyodorkan segelas susu coklat pada Hyunrim.

“Aku baru merasakan udara sesegar ini di Seoul,” Jinki bersuara setelah sedikit menyesap kopinya.

“Benar kan aku bilang. Sensasi hujan di Seoul lebih menyenangkan daripada di Gwangju. Gwangju tidak sepadat Seoul. Polusinya tidak sebanyak Seoul. Dan hujan seolah membersihkan polusi di udara. Bisa kau rasakan, oppa? Udara Seoul bersih sekarang.”

Jinki bersandar pada pagar pembatas besi. Memandang geli pada Hyunrim yang duduk bersila dihadapannya. Yeoja itu menggulung ujung celana training yang ia pakai. Masih dengan segelas susu coklat yang terbungkus oleh kedua telapak tangannya, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, bibirnya sedikit bergerak bersenandung kecil. Kemudian beringsut ke depan. Berjongkok dan berusaha melihat tanah dari balik pagar pembatas. Ia membiarkan tangan Jinki yang entah sejak kapan telah mengelus puncak kepalanya.

Seorang putri. Cantik. Sosok yang sangat disayangi oleh orang-orang disekitarnya. Gadis manja jika berada disekeliling keluarga kecilnya, tapi seorang wanita mandiri jika berada di luar lingkup itu. Miris, tak ada lagi tempatnya bermanja saat ini.

*****

Tepat pukul setengah sepuluh pagi. Dibalik selimut tebal, sepasang mata yang sebelumnya tertutup membuat garis horizontal sempurna kini mulai membuka membentuk sepasang bulan sabit. Menyingkirkan selimut yang menutupinya lalu duduk dengan cepat disamping tempat tidur. Melakukan peregangan kecil sambil menunggu pintu kamarnya terbuka atau setidaknya ada suara ketukan dibaliknya. Memiringkan kepala, merasa aneh tidak mendapati tanda-tanda itu.

Ia membuka sendiri pintu kamarnya. Lagi, ia merasa aneh. Sepi. Apa yeojanya belum bangun? Tidak biasanya. Menyambung langkah menuju dapur yang cukup luas karena sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Di atas meja makan bundar dengan empat buah kursi mengelilinginya ia mendapati tudung saji terletakan sempurna menutupi sesuatu di dalamnya. Benar saja, bubur yang masih hangat. Asap tipis yang mengepul menguarkan aroma yang menggelitik indra penciumannya.

‘Menu sarapan special weekend. Selamat menikmati.’ Kira-kira seperti itulah isi note yang berada di samping mangkuk berisi bubur itu. Jinki mengambil note itu sambil merogoh saku celananya. Sebuah benda berteknologi canggih yang sudah menjadi kebutuhan primer di masyarakat telah ada digenggamannya.

Tuuut…. Tuut….

“Yoboseyo! Kau dimana? ….. Ah, baiklah, gwenchana. Jangan pulang terlalu larut.”

Pip.

Menghela napas pasrah. Hari Minggu yang cerah ini akan ia habiskan dengan bermalas-malasan saja. Padahal sebelumnya ia berencana untuk berkeliling Seoul, hal yang tidak mungkin ia lakukan sendiri. Ia tidak mengenal Seoul sebaik Hyunrim. Ia hanya tau jalan menuju kantor dan lokasi proyek-nya. Selebihnya, ia buta arah. Jadi ia membutuhkan yeoja itu sebagai tour guide-nya. Tapi sayang yeoja itu sudah terlanjur mempunyai rencana lain. Bodoh, pikirnya. Harusnya ia memberi tau yeoja itu dari jauh hari.

*****

“Yoboseyo! ….. Di jalan. Aku akan menemani temanku jalan-jalan hari ini, oppa. Ah, mianhae aku tidak membangunkanmu. Oppa tidur nyenyak sekali ….. Ne.”

Pip.

Kembali memasukan ponsel pada saku kanan celana denimnya sambil terus berjalan menuju tempat yang disebutkan Jonghyun. Halte bis. Hanya beberapa blok dari gedung apartment yang ditinggalinya bersama Jinki. Sedikit kesal karena tidak sesuai dengan kesepakatan mereka. Jonghyun bilang akan menjemputnya pukul sepuluh pagi. Tapi sekarang masih jam setengah sepuluh, dan Jonghyun malah memintanya untuk menunggu di halte. Melenceng jauh dari rencana awal.

Melambatkan langkahnya saat melihat halte yang hanya dengan beberapa langkah dapat ia capai. Cukup banyak orang disana, dan mungkin akan terus bertambah. Mengeratkan tangan pada tali tas yang punggungnya, berjalan sangat pelan, mengulur waktu agar setidaknya ia tidak terlalu cepat memasuki keramaian itu. Tepat saat ia berada di halte, sebuah bus berhenti. Hampir semua orang yang ada di halte tersebut memasuki bus itu. Hanya tersisa Hyunrim dan seorang yeoja yang sepertinya masih duduk dibangku JHS. “Syukurlah,” gumamnya.

Dari sebrang jalan, seorang namja berahang tegas berjalan dengan penuh percaya diri. Senyum khas yang terlukis pada bibirnya semakin menyempurnakan ketampanannya. Dengan celana denim dan kaos dengan motif coretan abstrak warna-warni ditambah dengan cardigan abu tua dan topi pedora. Juga sneakers kesayangannya. Ia menyebrangi jalan dengan tenang. Saat sampai di sisi jalan yang lainnya, tepat di halte yang ia sebutkan pada Hyunrim, ia melongo melihat yeoja yang sedang duduk tenang di halte sambil memainkan ujung sepatunya.

“Hyunrim?”

Yeoja itu menoleh dan mendapati Jonghyun memandangnya pandangan meneliti. Kenapa Jonghyun memandangannya seperti itu? Sedetik kemudian ia melakukan hal sama pada Jonghyun, memandangnya dengan teliti. Keduanya melongo.

“Kenapa penampilanmu seperti itu?” pekik Jonghyun yang membuat Hyunrim berhenti meneliti objek tampan di depannya.

“Mwo? Wae? Apa yang salah?” Hyunrim meneliti pakaian yang dipakainya. Celana denim dengan kaos putih bergambar karakter ‘Angry Bird’ besar berwarna merah di bagian depannya. Sepatu kets merah dan rambut yang ia ikat seperti biasa. Tas punggung hitam untuk mengantongi barang-barang yang wajib ia bawa. Sederhana. Sangat sederhana. Tapi yang ada dipikiran Jonghyun adalah: terlalu sederhana.

“Kau tau? Penampilanmu tidak ada bedanya dengan anak JHS yang duduk di ujung sana,” kata Jonghyun dengan volume sangat pelan. “Aku sudah sangat tampan begini. Aish!” lanjutnya menggerutu.

“Hari ini panas, hampir memasuki musim panas. Lagi pula harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau berpenampilan seperti itu?” Jonghyun terlihat semakin tampan dengan penampilan yang rapi itu. Tidak seperti biasanya.

Namja itu tidak menghiraukan pertanyaan Hyunrim, ia malah menarik lengan yeoja itu untuk memasuki bus yang baru saja berhenti dihadapan mereka.

“Sebenarnya kau kenapa?” tanya Hyunrim yang masih mendengar gerutuan tak jelas dari mulut Jonghyun.

“Kau menghancurkan rencanaku.” tandas Jonghyun cepat.

“Rencana apa? Kita akan jalan-jalan kan? Bersenang-seang seperti biasa? Aku datang tepat waktu. Bagian mana yang kau bilang ‘hancur’?”

“Ck! Siapa bilang kita akan jalan-jalan dan sekedar bersenang-senang seperti biasa?”

“Lalu?” sebelah alis Hyunrim terangkat.

“Aku mengajakmu kencan, tau?”

“MWO?!” terlalu kaget sampai nona Lee ini mengeluarkan seluruh suaranya. Sadar teriakan itu mengundang perhatian penumpang lainnya, sontak Hyunrim dan Jonghyun membungkuk sebagai permintaan maaf.

Jika tidak mengingat dimana ia berada sekarang, yeoja yang tadi berteriak itu hampir kembali menarik perhatian dengan tawanya. Ia bersusah payah menahan tawa saat ini.

“Kenapa tertawa?” Jonghyun sedikit salah tingkah melihat reaksi Hyunrim seperti itu.

“Ehm! Apa kau bilang? Kencan? Ada masalah apa padamu, hm? Kau depresi ingin punya yeojachingu sampai mengajakku kencan?”

“Anggaplah begitu,” Jonghyun menanggapi dengan datar dan mendengus diakhir kalimatnya. “Mana ada yeoja berpakaian sepertimu sekarang di kencan pertamanya.”

*****

“Sudahlah, Jjong. Berhenti bersungut seperti itu.”

Sore hari, hampir menjelang malam. Keduanya baru turun di halte bus yang sama seperti pagi tadi. Mereka baru menyelesaikan apa yang Jonghyun sebut sebagai ‘kencan’. Hyunrim bahkan tidak bisa berhenti tertawa mengingat hal itu.

“Kita sudah bersenang-senang seharian. Dan juga, aku senang kau mengajakku ke Lotte World. Gomawo,” lanjut Hyunrim untuk mendapat perhatian Jonghyun yang sedari tadi terus menggerutu.

Duduk di halte dengan kaleng minuman di tangan masing-masing. Minuman soda untuk Jonghyun dan –seperti biasa– susu coklat dalam genggaman Hyunrim. Setelah mendelik pada Hyunrim yang duduk disampingnya Jonghyun bersuara, “Hm, cheonman. Argh! Ini semua gara-gara mu.”

Hyunrim mencibir kata-kata Jonghyun. Setelah memasuki Lotte World, Jonghyun berhenti mendebat pakaian yang dipakainya. Mereka bersenang-senang tentu saja. Sampai saat mereka memasuki sebuah toko penjual pakaian dan buah tangan bagi pengunjung. Jonghyun mengajak yeoja itu membeli t-shirt couple. Dari situ lah namja itu kembali mempermasalahkan pakaian Hyunrim. Salah satu penjaga toko itu dengan ketidaktahuannya berkata, “Yang ini sepertinya cocok untuk kalian.” Lalu ia berkata pada Jonghyun, “yeodongsaeng-mu ini sangat manis, kau juga tampan, orang tua kalian pasti bangga memiliki anak seperti kalian.” Penjaga  toko cerewet itu terus mengoceh tanpa memedulikan Jonghyun yang sudah kesal setengah mati.

“Lalu kau ingin aku berpakaian seperti apa, hm? Memakai dress? Atau rok selutut? Lalu membiarkan mereka terkibas saat kita menaiki wahana ekstrim tadi, begitu?”

“Setidaknya kau lebih menunjukan sisi femininmu. Bukankah yeoja selalu seperti itu di kencan pertamanya?”

Helaan napas yang entah keberapa kali terdengar dari mulut Hyunrim sebelum ia kembali bersuara, “Pertama, kau tidak mengatakan apapun soal kencan sebelumnya. Kedua, siapa bilang ini kencan pertamaku?”

“Mwo?! Jadi kau mau bilang ini bukan kencan pertamamu? Itu kebohongan paling mengerikan, Lee Hyunrim. Aku sangat tau kau belum pernah punya namjachingu.”

Tersenyum karena teringat moment yang membuat pertama kalinya ia merasakan jantung yang berpacu liar. Masih terukir senyum kecil ketika meneguk susu kalengnya sampai habis. Saat melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, ia sadar sudah hampir petang. “Aku harus pulang sekarang, Jjong.” Apalagi yang ada di pikirannya saat ini selain Jinki. Ia tidak pernah mau melewatkan makan malam bersama namja yang selalu menunjukan angelic smile-nya itu.

“Changkaman! Siapa namja itu?” tanya Jonghyun tiba-tiba sambil menahan pergelangan tangan Hyunrim.

“Ne?”

“Ini bukan kencan pertamamu kan? Lalu siapa namja yang mencuri start dariku untuk mengajakmu kencan?”

Bingung. Hyunrim bergelut dengan pikirannya. Bukan ingin menyembunyikan dari Jonghyun. Sebenarnya jawabannya sangat pendek. Tapi banyak hal yang perlu dijabarkan untuk jawaban pendek itu.

“Apa aku mengenalnya? Kau bukan orang yang mudah bergaul. Nugu?” desak Jonghyun.

“Jjong–”

“Key? Choi Minho?!” dengan nada yang meninggi.

Alih-alih memikirkan alasan kenapa dua nama itu yang keluar dari mulut Jonghyun, Hyunrim lebih memikirkan keadaan namja yang mengguncang-guncangkan bahunya sekarang. Ekspresi wajah Jonghyun tidak karuan. Antara kesal, kecewa, panik. Yeoja ini tau pasti namja yang  kini mencengkram kuat kedua bahunya itu sedang menahan amarah yang hampir meledak. Tapi ia sama sekali tidak menemukan jawaban kenapa namja ini tiba-tiba bersikap seperti itu.

Dengan hati-hati Hyunrim melepaskan tangan kokoh yang masih mencengkram bahunya. “Ada apa denganmu, Jjong?” dengan penuh kekhawatiran menyuarakan satu-satunya pertanyaan yang ada dibenaknya.

“Ani. Gwenchana. Cepatlah pulang, hampir malam.”

*** End of Chapter 3 ***

TBC

2 thoughts on “Love Should Go On [CHAP 3]

  1. UPEH GAK MAU TAU PART 4 NYA BURUAN! UPEH TANGGUNG JAWAB GUE PENASARAN! UPEH GUE SEBEL SAMA HYUNRIM! CEWEK PHP *CAPS JEBOL*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s