Fake Smile

Title                       : Fake Smile

Main Cast            : YOU (reader) and Your Bias

Support Cast      : –

Length                  : Drabble

Rating                   : General

Genre                   : Friendship

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

Your Bias’s PoV

Ia masih bungkam. Matanya bagai gerhana, sinarnya hilang.

“Tersenyumlah.”

“…”

Masih betah dengan dunianya. Diam. Merenungi sesuatu yang tak aku pahami. Aku hanya tahu ada yang mengusik pikirannya. Tapi apa? Apakah sesuatu yang menyakitkan? Kenapa bisa sampai menghilangkan senyumnya?

Tapi ia hanya tak tersenyum padaku. Kapan terakhir kali ia tersenyum padaku? Lebih dari setengah tahun yang lalu kurasa. Apa aku berbuat salah padanya? Seingatku, tidak.

“Apa aku pernah berbuat salah padamu?” Lebih baik memastikannya langsung bukan?

Hanya dijawab dengan gelengan kecil, lalu ia kembali memandangi langit dari jendela kamarnya. Dipeluknya kedua kakinya dan menjadikan lutut sebagai penopang kepalanya. Tatapan nyalang itu, membuatnya terlihat seperti tak bernyawa. Hanya gerakan pundaknya yang sedikit naik turun yang menandakan ia masih bernapas.

“Hei!”

“…”

Apa ia belum bosan memandang langit sejak tiga puluh menit yang lalu? Apa yang menarik dengan langit itu sampai ia tidak mengacuhkanku?

“Kemari. Lihat aku.”

Dengan sangat perlahan kepalanya berputar kearah ku. Aku tatap lekat setiap inci wajahnya. Kelopak matanya berkedip dengan gerakan lambat. Demi Tuhan, ada apa dengannya? Ia orang yang gesit. Ia selalu berteriak kesal jika aku melakukan sesuatu dengan lambat. Lalu apa yang ia lakukan sekarang? Seluruh gerakan tubuhnya ia lakukan dengan lambat.

“Ada apa denganmu?”

Ia menarik napas dalam. Mengisi penuh paru-parunya, lalu menghembuskan napas berat. Seolah bebannya akan berkurang, pergi seiring helaan napas beratnya.

“Kenapa kau tak pernah tersenyum padaku? Apa aku berbuat salah padamu?”

“Biarkan aku menenangkan diri sejenak.”

“Kau sedang punya masalah? Kau tahu, kau selalu bisa berbagi denganku.” Ya, setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik. Tapi jelas aku tidak bisa hanya jadi pendengar. Aku selalu berusaha memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang aku sayang.

“Duniaku berputar terlalu cepat,” ia mulai mau membuka diri kurasa, “aku hanya…bingung. Terkejut dengan segala perubahan yang kurasa terlalu cepat. Terlalu banyak hal baru yang membingungkan.”

Jadi itu hal yang selalu ia renungkan. “Lalu, kenapa kau tak pernah tersenyum…padaku?” Aku masih butuh penjelasan.

“Sulit. Pikiran dan perasaanku sangat kalut.”

“Tapi kau hanya tak tersenyum padaku. Kau masih tersenyum pada mereka.”

“Maafkan aku. Jangan salah paham. Aku hanya tak bisa berbohong padamu. Aku sangat menyayangimu, kau tahu. Maaf jika ini terkesan egois. Tapi aku tak mau menipumu dengan memberikan senyum palsu seperti yang aku perlihatkan pada mereka.”

Apa yang harus aku katakan?

“Percayalah, aku hanya butuh sedikit waktu untuk menata perasaanku. Kumohon untuk mengerti. Mianhaeyo.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s