Bosan

Title                       : Bosan

Main Cast              : YOU (reader) and Your Bias

Support Cast        :

Length                  : Drabble

Rating                   : General

Genre                   : Friendship

Disclaimer            : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

Your Bias’s PoV

Aku memasuki sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Sebuah kamar.

Aku edarkan pandanganku. Di salah satu sisi terdapat sebuah meja belajar dengan sebuah rak buku tergantung di atasnya. Jika dilihat sekilas, kau akan berpikir pemilik kamar ini adalah seorang yang tekun belajar dilihat dari banyaknya buku yang tersusun dalam rak tersebut. Memang pada dasarnya itu salah satu sifat si pemilik kamar ini. Tapi aku yakin kau akan mengernyit heran saat mendekati barisan buku tersebut. Permukaan buku-buku itu terselimuti debu cukup tebal. Aku pun heran, kapan terakhir kali mereka disentuh oleh pemiliknya?

Sebuah single bed diletakan merapat pada salah satu sudut kamar. Disitu, di atas tempat tidur itu, meringkuk sang pemilik kamar dengan terbungkus selimut tebal.

Apa ia sedang tidur? Kurasa tidak mungkin karena ia tahu aku akan datang. Ya, beberapa saat lalu ia menghubungiku, memintaku untuk datang ke rumahnya.

Tidak begitu lama sejak terakhir kali aku berkunjung ke rumah ini. Hanya beberapa bulan, tapi aku rasa banyak yang berubah. Bukan dari segi fisik. Aku merasa atmosfer rumah ini berubah. Tidak penuh kehangatan seperti dulu.

“Ah, kau sudah datang. Selamat datang!” Teguran pelan itu menghentikan pikiranku tentang segala kejanggalan dalam rumah ini.

Ia masih tersenyum simpul saat merubah posisinya jadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Kakinya masih tertutup selimut.

“Duduklah,” pintanya sambil menunjuk kursi di depan meja belajar tadi. Aku menarik kursi itu ke samping tempat tidurnya, duduk menghadapnya.

“Apa kabar?” pertanyaan umum untuk membuka pembicaraan antara orang yang cukup lama tidak bertemu.

“Baik. Kau?” balasku.

“Aku…baik.” Jika aku benar, terselip nada keraguan pada jawabannya.

Hening sejenak. Ia tampak ingin melanjutkan perkataannya, tapi ia tak kunjung mengatakan apapun.

“Kemana semua keluargamu? Kenapa sepi sekali? Tidak biasanya.”

“Orang tuaku sedang pergi,” jawabnya singkat.

“Oh…” hanya itu yang aku katakan. Lalu kembali hening. Kenapa jadi seperti ini? Biasanya ia yang banyak bertanya padaku.

“Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu. Apa?” tanyaku. Tadi ia memintaku datang karena ia ingin mengatakan sesuatu.

“Itu…” jawabnya lambat. Ia menundukan kepalanya dalam. Pundaknya mulai bergetar hebat. Astaga. Apa ini? Sekarang ia terisak keras.

“Ada apa? Katakanlah.” Tapi tak ada jawaban darinya. Ia malah membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Mungkin bermaksud meredam suara tangisnya karena ia mulai menangis tak terkendali. Ini membuatku semakin panik.

Baiklah, saat ini yang terpenting adalah menenangkannya dulu. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku terlalu panik dengan tangisannya yang tiba-tiba. Aku hanya bisa mengusap pelan punggungnya. Semoga ia lebih tenang.

***

“Maaf membuatmu terkejut,” ujarnya diakhiri kekehan kecil disela tangis yang belum sepenuhnya mereda.

“Jadi, sebenarnya ada apa?”

Kulihat senyum getir terlukis diwajahnya dan air mata kembali mengalir dari kedua bola matanya.

“Bagaimana aku menjelaskannya?” tanyanya lebih pada dirinya sendiri. Sementara aku masih menunggu jawabannya.

“Sederhananya, aku merindukanmu. Merindukan kalian, kebersamaan kita. Aku rindu kehidupanku yang dulu. Dan…aku bosan.”

“Bosan?” aku tidak salah dengar?

Mengangguk. Lagi, air mata itu meruak dari pelupuk matanya.

“Aku bosan menangis sendiri. Kau tau, tiap hari aku menangis. Sendiri. Hanya membuatku semakin merasa kesepian.”

Sakit. Sakit melihat sahabatmu teluka. Apalagi mengetahui ia menahan sakitnya sendiri. Sakit saat mengetahui sahabatmu mengecap rasa pahit saat kau sedang mengecap manis kebahagian yang lain.

“Kau selalu mempunyai aku, kami. Kau tidak sendiri.”

“Terima kasih.”

Kumohon padamu, Tuhan. Aku tidak bisa selalu disampingnya, walau aku ingin. Kirimlah salah satu malaikatmu untuk selalu menemaninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s