The Mask [Face 1]

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

The Mask

Title                       : The Mask

Main Cast            :

–          Choi Hara (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Life

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝕱𝖆𝖈𝖊 1 ≼

≽≽⋅≼≼

 

 “Duduklah perkelompok. Kalian sendiri yang menentukan kelompoknya.”

Tiap murid mulai sibuk menggeser meja dan saling berteriak memanggil murid lain untuk masuk ke dalam kelompok yang mereka bentuk. Terkecuali seorang siswi bermarga Choi. Siswi itu hanya sibuk membereskan bukunya sendiri dan memasukan alat tulis ke dalam tempat pensil berbahan kayu miliknya.

“Choi Hara! Bergabunglah dengan kami!” seorang siswi lain bernama Han Jiyoung meminta satu-satunya siswi yang belum mendapat kelompok itu untuk bergabung bersamanya.

“Gomawo-yo, Jiyoung-ssi.” Siswi bernama Choi Hara itu segera mengambil duduk disalah satu kursi kosong dihadapan Jiyoung.

“Hei, kita sudah hampir dua tahun sekelas. Jangan berbicara terlalu formal seperti itu. Ne?”

“Ne”

“Baiklah, kita mulai sekarang. Kita bagi soal-soal ini. Masing-masing mengerjakan dua nomor,” ujar Jiyoung memimpin kelompoknya.

Kelas yang semula ramai itu berangsur tenang. Hanya terdengar bisik-bisik para siswa yang sedang berdiskusi dengan sesama anggota kelompoknya. Lagi, terkecuali siswi bermarga Choi itu. Ia hanya fokus pada dua nomor yang dilimpahkan padanya. Ia sama sekali tidak berusaha bertanya atau meminta bantuan pada anggota yang lain untuk mengerjakan soalnya. Bukan bermaksud sombong−meskipun kebanyakan orang menganggapnya demikian–hanya saja ia memang malas bersosialisasi dengan siswa maupun siswi di sekolahnya.

“Jiyoung-ssi, ini,” sebuah kertas berisi jawaban dua nomor terakhir yang tertulis rapi dengan penjelas rinci disodorkan pada gadis berambut hitam legam itu.

“Cepat sekali. Gomawo, Hara!”

“Ne, cheonmaneyo!”

Hanya menjawab seperlunya. Lalu kembali membenahi buku dan alat tulisnya sebelum bergegas kembali ke tempat duduk asalnya.

Jika kalian berpikir siswi anti-sosial seperti dirinya akan memilih duduk di kursi paling pojok, lupakan. Bukankah itu justru akan menarik perhatian orang lain jika ia berlaku terlalu penyendiri seperti itu? Karenanya, Hara memilih tempat duduk barisan ketiga dari depan. Ia hanya berusaha bersikap se’normal’ mungkin.

Saat ia kembali pada tempat duduknya, yang ia dapati hanya sebuah meja tanpa kursi dan tas lusuhnya tergelak begitu saja dilantai. Apa yang bisa ia harapkan? Tentu saja kursinya telah ditarik seseorang untuk diskusi kelompok tadi. Ia tidak peduli  siapa yang telah memakai kursinya. Toh tadi ia juga menggunakan kursi entah milik siapa.

Puk. Puk.

Menepuk bagian bawah tasnya yang kotor karena debu dilantai. Dengan perlahan menutup resleting tasnya setelah buku dan kotak pensilnya telah ia masukan. Harus dengan perlahan dan hati-hati. Karena jika ia teledor, resleting tasnya akan keluar dari jalurnya dan membuat ia harus meminta bantuan Yoon ahjussi –penjaga sekolah– untuk memperbaiki tasnya untuk ke empat kalinya dalam bulan ini.

Keadaan kelas tak setenang tadi. Guru tadi sedang keluar kelas –entah kemana– dan pastinya para murid sudah menyelesaikan tugas kelompoknya. Hanya tinggal lima menit lagi menuju bel istirahat makan siang.

Sreeet.

Suara pintu geser itu tak dipedulikan sama sekali oleh murid yang lain. Hanya sebagian kecil yang menoleh kearah pintu lalu kembali pada kegiatannya saat mengetahui hanya seorang Hara yang keluar kelas.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Bel istirahat baru saja berbunyi. Murid-murid keluar kelas untuk menyerbu kantin dengan brutal. Lapar. Siapa yang tidak kehabisan energi setelah empat jam dijejali berbagai materi pelajaran. Mata lelah karena jarak pandang yang terbatas oleh tembok ruang kelas. Mata bosan karena yang ia lihat hanya barisan-barisan huruf dan angka.

Seorang siswa biasa dengan penampilan normal layaknya siswa yang lain, namun selalu mendapat cap ‘spesial’ baik dari sesama murid atau guru sekali pun. Seorang siswa yang tidak berminat bersosialisasi, namun setiap gerak-geriknya selalu jadi perhatian. Dia adalah Kim Jonghyun. Ia berjalan santai ke arah toilet tanpa mengindahkan semua tatapan takut yang dilayangkan padanya.

Dugh!

Sebuah bola basket keluar dari jalur perkiraan pelemparnya dan mendaratkan diri di pelipis kiri Jonghyun menghasilkan ringisan kecil dari mulut lelaki itu. Entah Jonghyun atau malah si pelempar bola itu yang sedang dibuntuti kesialan sampai kecelakaan kecil itu terjadi. Semua siswa yang sedang bermain basket itu tercekat seketika melihat arah pendaratan bola tadi. Bahkan mungkin mereka sudah lupa cara bernapas saat ini. Si pelempar tadi tampak kalut. Matanya menatap horror pada Jonghyun yang sedang berjalan ke arahnya sambil sesekali mendribble bola dengan tangan kirinya. Sampai Jonghyun berhenti tepat di depannya, bulir keringat yang meluncur di pelipis siswa itu makin memperjelas ketakutannya.

“Seharusnya kau berhati-hati. Akurasi-mu sungguh payah.”

Hanya kalimat sederhana berisi saran layaknya seorang senior pada juniornya. Tidak tampak emosi dari setiap katanya. Datar. Semuanya ia ucapkan dengan intonasi datar. Tapi justru itu membuatnya terdengar lebih menyeramkan saat kalimat itu keluar dari mulut Jonghyun, bagai lagu kematian.

Setelah bola basket tadi berpindah tangan, Jonghyun segera membalikan badan meninggalkan kumpulan siswa yang masih memandanginya seolah ia adalah serigala yang patut diwaspadai. Serigala yang siap menerkam atau mengamuk kapan saja saat ketenangannya terusik.

Kim Jonghyun. Atau lebih tenar dengan embel-embel ‘trouble maker’. Trouble Maker Kim Jonghyun. Julukan itu sangat melekat pada siswa yang duduk di bangku tingkat akhir Seoul SHS itu. Julukan yang dengan sepihak siswa/i lain berikan padanya karena ia beberapa kali terlibat tawuran di tahun pertamanya memasuki Seoul SHS. Bahkan sempat beredar rumor bahwa dalam tawuran itu Jonghyun telah mengambil sebuah nyawa. Hal itu jelas membuat nama baik sekolah sempat tercoreng. Lalu kenapa ia masih bisa bersekolah disana? Well, katakanlah ‘uang mengendalikan segalanya’. Ayahnya seorang yang cukup berpengaruh di Seoul dan mempunyai cukup banyak uang untuk membersihkan kasus ‘kecil’ itu.

Tiga tahun harusnya menjadi waktu yang cukup untuk melupakan kasus ‘kecil’ yang pernah melibatkan Jonghyun itu. Tapi nyatanya tidak. Lihatlah, semua orang masih memberi cap buruk padanya. Mereka tidak peduli prestasi yang telah Jonghyun torehkan. Mereka tidak peduli perubahan Jonghyun. Bagi mereka, ia tetap seorang pembuat onar –pembunuh.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

 “Eh?”

Mungkin efek terkena lemparan bola tadi, kepala Jonghyun sedikit pening dan membuat ia kehilangan fokus penglihatannya. Ia hampir saja menabrak siswa lain di depan toilet yang ditujunya.

“Mianhamnida!”

Hanya setelah mengucapkan kalimat itu sambil membungkuk dalam, siswa yang hampir bertabrakan dengan Jonghyun itu segera berlari dari sana. Menghindar dari Jonghyun. Bahkan Jonghyun belum mengatakan apa pun.

Zrasssh!

Suara air yang keluar dari kran itu menjadi satu-satunya suara yang mengisi pendengaran Jonghyun. Ia membasuh wajahnya untuk mendapat kesegaran. Setelahnya ia menangkap sesuatu pada cermin dihadapannya. Ia sendiri. Dengan seragam lengkap. Dasi yang terpasang dengan benar. Potongan rambut yang rapi. Ia menaati semua peraturan sekolah. Sebuah pertanyaan selalu terbesit dalam benaknya saat ia menangkap pantulan dirinya di cermin: ‘apa aku monster?’

Bahkan murid kelas satu dan dua pun–yang seharusnya tidak tau perihal kasus itu–ikut menatap ngeri padanya. Entah dari mana mereka bisa mengetahui kasus tiga tahun lalu itu. Bukankah waktu itu mereka belum menjadi murid Seoul SHS.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

 “Choi Hara, kau sudah makan siang?” tanya wanita paruh baya dengan kacamata baca menghalangi mata teduhnya.

“Ne, sudah songsaenim,” jawab seorang siswi dengan tubuh yang tampak kurus dan seragam lusuh.

“Bisa kau menggantikanku menjaga perpustakaan? Aku mau pergi makan siang sebentar,” pinta wanita paruh baya tadi.

“Ne, songsaenim.”

Mengangguk patuh pertanda menyanggupi permintaan gurunya.

Menjaga pertustakaan selama jam istirahat tidak masalah baginya. Ia sudah tebiasa. Ia sudah hapal perpustakaan ini jadi ia tak akan kesulitan jika ada siswa yang menanyakan letak sebuah buku yang diperlukannya, walau itu jarang terjadi karena perpustakaan cenderung sepi saat jam istirahat makan siang. Tentu saja, hampir semua murid lebih memilih menghabiskan waktu istirahat ini di kantin. Makan siang sambil berbincang hal-hal kecil bersama murid yang lain. Atau sebagian lainnya akan diam di kelas mencontek tugas mata pelajaran setelah jam istirahat yang belum ia kerjakan.

Choi Hara bukan tipe murid seperti itu. Bukan berarti ia tidak pernah ke kantin seperti murid lainnya. Ia selalu pergi kesana setiap istirahat, hanya untuk membeli sebungkus roti lalu ia akan kembali ke kelasnya. Bukan untuk mencontek tugas tentu saja karena ia selalu menyelesaikan tugasnya di rumah. Gadis itu kembali ke kelas hanya untuk menghabiskan rotinya dan mengambil buku catatan dan bolpoin. Barulah setelahnya ia akan pergi ke perpustakaan. Mencari sebuah buku pelajaran dan mencatat materi penting ke dalam buku yang dibawanya, atau terkadang seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Menggantikan guru untuk menjaga perpustakaan.

“Kemana Kang Songsaenim?”

Suara lembut namun tegas itu mengalihkan perhatian Hara dari buku dan bolpoinnya. Ia mendongak dan mendapati seorang lelaki tengah menatapnya dengan ekspresi datar.

“Aku ingin meminjam buku ini,” lanjut lelaki itu cepat.

Tanpa mengatakan apapun Hara mengambil buku yang diserahkan lelaki itu. Menuliskan judul buku, tanggal peminjaman, dan tanggal pengembalian pada kartu perpustakaan lelaki tadi.

“Ini, sunbae,” ucap Hara sambil menyerahkan buku dan kartu perpustakaan pada pemiliknya dengan seulas senyum formal tersungging di bibirnya.

“Terima kasih,” balas lelaki tadi, lalu beranjak menuju kelasnya sebelum ia meletakan kartu perpustakaan miliknya pada kotak disamping laci katalog. Sejenak ia memerhatikan kartu yang masih ada di tangannya. Tulisan disana selalu sama, tulisan tangan gadis tadi. Entah kebetulan atau apa, setelah memeriksa kartu milik murid lain, tulisan disana berbeda dengan tulisan yang ada di kartunya. Setiap ia–Kim Jonghyun–meminjam buku perpustakaan selalu gadis itu yang sedang menjaga perpustakaan. Tapi ia suka, karena ia merasa gadis itu memandangnya dengan berbeda. Walau gadis itu sama seperti yang lain, tak pernah tersenyum tulus padanya–hanya senyum formal–tapi ia dapat melihat tatapan gadis itu berbeda dengan tatapan orang lain padanya. Tak ada binar takut saat gadis itu menatapnya. Dan Jonghyun nyaman dengan itu.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

 “Kabarnya Jonghyun sunbae berulah lagi.”

“Jinjjayo? Padahal kukira ia sudah benar-benar berubah.”

“Ah! Sudah kuduga. Sekali berandal tetap berandal. Apa yang ia lakukan sekarang?”

“Ia ketahuan mengebut dalam keadaan mabuk. Ia masih dipenjara sekarang.”

“Penjara? Ayahnya tidak bertindak?”

“Molla. Mungkin belum.”

Penyalahgunaan fungsi perpustakaan. Tempat itu bukan untuk bergosip, bukan? Sebenarnya Hara jengah mendengar percakapan tak penting itu. Ingin sekali rasanya ia mengusir ketiga siswi yang terus bergosip sejak mereka menginjakan kaki dalam gudang ilmu itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa tentu saja.

Sebenarnya, ia jengah bukan karena ketiga siswi itu sedang membicarakan Jonghyun. Lagi pula, apa pedulinya ia pada sunbae-nya itu. Ia merasa sedikit tersinggung saat salah satu dari mereka menyebutkan kata ‘penjara’.

“Terima kasih, Hara-ssi. Kau boleh kembali ke kelasmu.”

“Ne. Kamsahamnida, songsaenim.”

Setelah membungkuk dalam pada penjaga perpustakaan, gadis itu segera kembali ke kelasnya. Seperti biasa, ia diminta menjaga perpustakaan selagi Kang Songsaenim pergi makan siang.

Tuk

Tuk

Tuk

Lorong panjang ini terasa sepi. Bahkan ketukan sepatunya dengan lantai pun terdengar sangat jelas.

Sreek!

Hal pertama yang dilihat saat pintu kelasnya berhasil ia buka adalah segerombolan murid yang tampak duduk berkelompok, sibuk dengan buku dan bolpoin mereka, tangan mereka sibuk bergerak dengan kepala yang sesekali mendongak lalu kembali menunduk untuk menulis. Pemandangan yang lumrah bagi kornea matanya. Teman sekelasnya sedang mencontek tugas.

Lagi, ia tidak peduli. Hanya duduk di bangkunya, kembali berkutat dengan buku walau pikirannya sama sekali tidak tertuju pada buku itu. Pikirannya berkelana. Membawa bayang seseorang yang disayanginya.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Ia melihatnya. Wajah itu masih tampan walau penuh luka lebam. Sungguh mengkhawatirkan. Ia yakin banyak luka dibalik baju tahanan lusuh yang dipakai sosok dihadapannya ini. Menyedihkan. Kondisi ini sungguh membuat Hara frustasi. Ia begitu ingin memecahkan kaca yang membatasi dirinya dengan lelaki tampan bermata bulat bernama Choi Minho itu. Ia begitu ingin memeluknya. Seberapa sering pun Minho mengatakan ia baik-baik saja, Hara tau lelaki itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Sudahlah, noona. Jangan menangis.”

Seorang polisi yang sedang berjaga di belakang Minho mengerutkan dahi tidak mengerti ucapan Minho. Menangis? Siapa yang menangis? Yang ia lihat hanya gadis di hadapan Minho yang sedang menatap lekat lelaki itu. Tak ada air mata sama sekali. Ia tidak mengerti. Hanya Minho yang tau. Hara menangis. Hatinya menangis.

Mengeratkan genggamannya pada gadis yang ia panggil ‘noona’. Hanya bisa saling menggenggam tangan  melalui sebuah lubang persegi pada bagian bawah kaca pembatas itu. Hanya bisa saling menyalurkan suara lewat sekumpulan lubang kecil  yang membentuk lingkaran di hadapan mereka.

“Nyonya Park akan menebusmu. Besok kau akan bebas. Lusa kau bisa kembali ke sekolah,” tegas Hara.

“Bisakah aku menolak bantuan Nyonya Park?”

“Tak ada pilihan. Kita tidak bisa menolak, Minho.”

“Tapi–”

“Nyonya Park sedang berbaik hati. Tak ada perpanjangan kontrak. Lagi pula jika kau tak segera dibebaskan, dia sendiri yang akan celaka.”

“Sulit dipercaya,” gumam lelaki bermata bulat itu.

“Aku harus segera pergi. Jam kerjaku di café dimulai setengah jam lagi.”

“Baiklah. Hati-hati, noona!”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Kim Jonghyun,” panggil sebuah suara tegas membuat si pemilik nama segera berdiri dan menghampiri petugas yang baru saja memanggilnya itu. “Silahkan ikut saya,” ajak si petugas masih dengan suara tegasnya.

Seringai kecil terbentuk pada sudut bibir lelaki bernama Kim Jonghyun itu. Ia akan keluar dari jeruji besi ini. Segera. Itu pasti. Ia sangat yakin setelah namanya dipanggil oleh petugas tadi. Petugas itu tidak lagi membentaknya seperti malam kemarin. Hal ini sudah sering ia alami.

Mereka memasuki sebuah ruangan dimana terletak beberapa rak berisi arsip-arsip kepolisian. Seperti dugaannya, ia bebas saat ini juga. Disana ada seorang pengacara dan beberapa orang yang tampak mengawal pengacara itu. Sudah pasti pengacara itu adalah orang suruhan ayahnya. Lalu pengawal itu, jelas anak buah ayahnya.

“Kalau saja kau memberi tau lebih awal bahwa kau ini anak Kim Jeongmin, tentu kau tidak perlu memasuki ruang tahanan pengap itu. Maaf atas ketidaktahuan kami,” seorang polisi yang sepertinya berkedudukan tinggi itu membungkuk dalam pada Jonghyun dan pengacara pengacara utusan ayahnya.

See? Penjilat.

Tidak mau melihat sandiwara para polisi itu, Jonghyun memilih segera keluar ruangan, meninggalkan pengacara yang masih sibuk menyelesaikan administrasinya.

Saat keluar dari ruangan tadi, suatu moment kecil membuatnya terhenyak. Beberapa tahanan yang sedang berbincang dengan–mungkin– keluarga yang sedang menjenguk mereka. Dibatasi sebuah kaca, mereka saling melepas kerinduan, saling memberi semangat untuk bertahan. Sebagian dari mereka tampak terlibat dalam pembicaraan serius, sebagian menangis, bahkan ada sebagian yang tertawa lepas seolah statusnya sebagai tahanan tak lagi menjadi bebannya selama mereka masih bisa merasakan kehangatan keluarga. Keluarga. Seburuk apa pun dirimu, mereka selalu ada untuk menguatkanmu. Satu hal yang tak ia miliki.

Seorang tahanan bermata besar mengalihkan perhatiannya. Ia rasa mengenal lelaki itu. Seorang gadis duduk di hadapan lelaki itu. Mereka saling menggenggam tangan. Walau tak terdengar, tapi Jonghyun tau apa yang dikatakan tahanan bermata besar itu.

“Sudahlah, noona. Jangan menangis.” Jonghyun membaca gerakan bibir lelaki itu.

Cukup. Pemandangan ini makin menyulut emosinya. Merasa terbakar tanpa alasan yang jelas. Perasaan marah mulai tersingkap ke permukaan. Tapi di dasar terdalam kalbunya, ia hanya merasa iri. Iri pada para tahanan itu. Para kriminal yang berbuat kesalahan belipat-lipat lebih besar darinya. Para kriminal yang mungkin akan bertahun-tahun mendekam di penjara. Tapi mereka masih dianggap ada. Masih bisa merasakan bahwa mereka dibutuhkan.

Dengan rahang mengeras ia benar-benar keluar dari bangunan itu. Ia berjalan dengan langkah lebar. Hentakan kakinya menggambarkan kobaran emosinya.

“Tuan muda–”

“AKU BUKAN ANAK KECIL! BERHENTI MENGIKUTIKU!” membentak telak dua pengawal yang mengekor di belakangnya.

Nyatanya bentakan tersebut tak begitu berpengaruh pada dua pengawal itu. Mereka tetap mengekori Jonghyun, hanya saja dengan jarak yang relatif jauh.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“AKU BUKAN ANAK KECIL! BERHENTI MENGIKUTIKU!”

Satu sentakan tajam itu memecah hening jalanan yang terbilang sepi tersebut. Juga bagai magnet yang menyedot perhatian beberapa pengguna jalan pada seorang lelaki yang tengah berjalan dengan rahang mengeras. Termasuk Hara. Gadis itu berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya hingga mendapati sosok lelaki yang berteriak tadi.

Bugh!

Suasana makin mencekam saat satu pukulan telak membuat seorang pengawal terpental membentur dinding.

Pertama kalinya selama ia satu sekolah dengan Jonghyun, ia mengerti dan merasakan ketakutan yang dirasakan teman-temannya saat berhadapan atau sekedar melihat sosok Jonghyun. Selama ini ia tidak mengerti mengapa teman-temannya selalu melayangkan pandangan ngeri pada lelaki itu. Walau semua orang selalu mengatakan bahwa Jonghyun itu bagai siluman yang bisa berubah buas kapan saja, tapi ia tidak pernah menghiraukannya. Ia tidak percaya Jonghyun bisa berubah semenakutkan itu karena ia tidak pernah mengalaminya. Selama ini ia menganggap Jonghyun sebagai sunbae-nya, seorang murid biasa bahkan dengan predikat baik dimatanya. Tapi tidak sampai saat ini. Saat ia mendengar teriakannya yang menggelegar dan mata yang berkilat mengobarkan amarah.

Sungguh, pandangannya berubah seketika. Mulai muncul rasa waspada pada sosok itu.

Segera ia menyadarkan diri saat matanya menangkap Jonghyun kembali berjalan. Selang beberapa detik, tepat saat Hara akan mengambil langkah, Jonghyun melintas di hadapannya. Mereka bertemu pandang selama sepersekian detik. Dua hal yang Hara tangkap pada manik coklat itu: rasa marah dan…kecewa.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Hara berusaha mengendalikan pikirannya agar berhenti memproduksi pikiran-pikiran negative tentang lelaki yang duduk di meja paling pojok di café ini. Ia tetap berusaha fokus bekerja dan mengabaikan pandangan tajam yang dilayangkan lelaki itu padanya.

Entah kebetulan atau bagaimana, tapi ia merasa Jonghyun mengikutinya sampai ke tempat kerjanya ini. Ia tidak akan menarik kesimpulan seperti itu jika saja Jonghyun tidak terus menurus menatapnya, seolah mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu.

“Nona!”

Suara ini. Suara yang memecah hening di jalan tadi. Kim Jonghyun.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” membungkuk hormat dengan senyum formalnya.

“Aku lebih suka kau panggil ‘sunbae’ ketimbang ‘tuan’. Bisa kita bicara sebentar?” tak mau basa-basi, Jonghyun langsung meminta Hara untuk berbicara dengannya.

“Maaf, sunbae. Tapi aku harus bekerja.”

“Jam berapa shift-mu habis?”

“Pukul enam, sunbae.”

“Satu jam lagi,” ujar Jonghyun setelah melihat jam dinding yang tergantung di atas meja kasir, “aku akan menunggu disini,” lanjutnya tanpa penjelasan pasti untuk apa ia sampai rela menunggu jam kerja Hara habis.

Ia kembali menegak minumannya dengan lambat. Satu jam waktu yang cukup lama menurutnya. Haruskah ia menunggu selama itu? Pentingkah hal yang akan ia bicarakan dengan hoobae-nya itu? Tentu saja penting. Tapi ia tidak perlu menunggu sampai jam kerja gadis itu habis bukan? Banyak jalan menuju Roma.

“Kemari.”

Hanya dengan gerakan bibir dan pergerakan telunjuknya untuk memberi isyarat agar dua pengawal yang masih membuntutinya itu agar menghampirinya.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Entah untuk yang keberapa kalinya Hara mengagumi kekuasaan uang. Uang mengendalikan segalanya. Dengan uang kau bisa mendapatkan segalanya. Bahkan jam kerjanya pun bisa dibeli dengan kumpulan kertas tipis bernama uang.

“Jadi, ada apa, sunbae?”

Sebenarnya gadis ini risih dengan keadaannya sekarang. Ia pekerja part time di café ini dan masih tersisa kurang lebih satu jam sampai jam kerjanya benar-benar habis. Tapi saat ini ia tak pengenakan seragam pegawai, bahkan duduk di salah satu meja sebagai seorang konsumen. Lihatlah tatapan pekerja lain.

“Kajja, kita bicara di tempat lain saja. Sepertinya kau tidak nyaman disini.”

Hembusan angin musim gugur menyambut saat pintu café terbuka. Melangkah bersama namun terkesan saling menjaga jarak. Hara hanya mengikuti langkah Jonghyun yang tak ia ketahui akan menuju kemana. Sampai saat keduanya menemukan sebuah halte lalu Jonghyun memutuskan untuk duduk disana. Hara, gadis itu mengikuti nalurinya untuk juga duduk disana.

“Tadi, aku melihatmu di kantor kepolisian. Kau pasti tau kenapa aku bisa melihatmu disana.”

Sebuah bis berhenti di depan mereka. Segelintir orang turun dan berpencar ke berbagai arah disana.

“Minho, kenapa ia bisa ditahan disana?” selidik Jonghyun. Ia mengenal Minho karena mereka berdua sama-sama atlet lari di sekolah. Sebenarnya, hanya sekedar basa-basi. Bukan itu yang ingin ia bicarakan.

“Kurasa sunbae tidak perlu tau.”

Gadis yang sulit ditebak. Di sekolah ia begitu sopan, penuh tata karma, dan memandangnya dengan cara berbeda dari yang orang lain lakukan. Di jalan tadi, sorot matanya berubah penuh rasa takut menatap Jonghyun. Lalu saat ini, walau tak ada takut tapi ia begitu dingin.

“Maaf. Sebenarnya bukan itu yang mau aku bicarakan.”

“…”

“Kejadian di jalan tadi. Lupakanlah,” pinta Jonghyun.

“Ne?” gadis itu setengah mengerti maksud perkataan Jonghyun.

“Kejadian tadi, saat aku membentak kedua pengawalku. Lupakanlah.”

“Tenang saja. Aku bukan gadis yang senang bergosip, menyebarkan isu miring tentang seseorang.”

Jonghyun melirik ke arah dua pengawalnya. Member isyarat untuk membelikan dua buah minuman kaleng di mini market di ujung jalan.

“Bukan itu maksudku,” pelan Jonghyun, “bisakah kau menganggap kejadian itu tak pernah kau lihat? Aku tau kejadian tadi mengubah pandanganmu padaku,” lanjutnya.

Entah gadis itu menangkap maksud Jonghyun atau tidak. Andai gadis ini tau, Jonghyun lelah mendapat tatapan seolah dirinya adalah monster. Hanya gadis ini yang tidak memandangnya demikian. Sampai kejadian itu, Jonghyun menangkap binar takut saat manik Hara menatapnya di jalan tadi. Ia merasa kehilangan.

“Ne, aku mengerti,” akunya sambil tersenyum formal seperti biasa.

Mungkin Hara bisa membaca pikiran Jonghyun melalui manik coklat Jonghyun yang menatapnya penuh harap. Ya, ia mengerti. Ia hanya perlu menggunakan topeng apatisnya. Tidak peduli pada sosok lain Kim Jonghyun yang pernah ia lihat.

“Kim Jonghyun.”

Uluran tangan Jonghyun diterima baik oleh gadis bermarga Choi itu.

“Choi Hara.”

Jabatan tangan itu menyadarkan mereka akan sesuatu. Mereka tidak pernah benar-benar saling mengenal sebelumnya. Mereka asing satu sama lain. Jika hanya sekerdar nama, Hara jelas tau lelaki  yang masih menjabat tangannya ini adalah Kim Jonghyun, sunbae-nya. Tapi bagi Jonghyun, ia baru mengetahui gadis ini bernama Choi Hara. Selama ini yang ia tau hanya gadis yang sering menjaga perpustakaan ini adalah hoobae-nya. Ini membuat rasa canggung menyelimuti mereka. Angin bahkan seolah berhenti berhembus enggan menyapu kecanggungan antara mereka.

Lalu seiring jabatan tangan yang mulai terlepas, kedua bibir itu sama-sama melengkungkan seulas senyum. Kemudian terkekeh geli menyadari kekonyolan mereka. Sedari tadi keduanya terlibat dalam pembicaraan serius tanpa sadar keduanya belum saling mengenal. Bukankah itu menggelikan.

Mulai saat itu Hara menuliskan nama Jonghyun dalam otaknya sebagai seorang sunbae-nya. Maka ia akan memandangnya dengan cara yang sama dengan cara ia memandang sunbae-nya yang lain, dan benar-benar akan menghapus memori sentakan Jonghyun yang tertangkap inderanya.

Lalu Jonghyun, ia akan ingat gadis penjaga perpustakaan ini adalah Choi Hara, hoobae-nya.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔬 𝔅𝔢 ℭ𝔬𝔫𝔱𝔦𝔫𝔲𝔢 ≼

≽≽⋅≼≼

2 thoughts on “The Mask [Face 1]

  1. TBC nya gak klimas banget nih peh.. Tapi bagus.. Secara udah janji jd pembaca setia aku bakal baca semua ff kamu. Ku tunggu semua new post mu peh.. I’m your reader..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s