The Mask [Face 2]

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Title                       : The Mask

Main Cast            :

–          Choi Hara (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Life

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔓𝔯𝔢𝔳𝔦𝔬𝔲𝔰𝔩𝔶 ≼

≽≽⋅≼≼

Jabatan tangan itu menyadarkan mereka akan sesuatu. Mereka tidak pernah benar-benar saling mengenal sebelumnya. Mereka asing satu sama lain. Jika hanya sekedar nama, Hara jelas tau lelaki  yang masih menjabat tangannya ini adalah Kim Jonghyun, sunbae-nya. Tapi bagi Jonghyun, ia baru mengetahui gadis ini bernama Choi Hara. Selama ini yang ia tau hanya gadis yang sering menjaga perpustakaan ini adalah hoobae-nya. Ini membuat rasa canggung menyelimuti mereka. Angin bahkan seolah berhenti berhembus enggan menyapu kecanggungan antara mereka.

Lalu seiring jabatan tangan yang mulai terlepas, kedua bibir itu sama-sama melengkungkan seulas senyum. Kemudian terkekeh geli menyadari kekonyolan mereka. Sedari tadi keduanya terlibat dalam pembicaraan serius tanpa sadar keduanya belum saling mengenal. Bukankah itu menggelikan.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝕱𝖆𝖈𝖊 2 ≼

≽≽⋅≼≼

 

Jalanan masih sangat lengang. Hanya ada dua sampai tiga orang saja yang menapaki kakinya di trotoar. Kendaraan pribadi belum ada yang memamerkan diri di jalan raya.

Dalam sepi itu, ditemani guguran daun maple kecoklatan yang menari bersama angin musim gugur, sepasang pelajar berperawakan tinggi berjalan beriringan tanpa suara. Mata bulat lelaki yang berjalan dibagian luar trotoar sesekali melirik gadis disampingnya. Terus bergulat dengan batinnya apa ia harus kembali bersuara atau lebih baik diam. Dia tidak suka dibuat penasaran. Meskipun gadis itu telah berulang kali mengatakan semuanya baik-baik saja, ia tetap tak percaya.

Keduanya duduk di sebuah halte yang terbilang sepi. Gadis itu mengeluarkan buku dari ranselnya, membuka halaman dan tampak sedang memilah sesuatu. Tak mempedulikan lelaki bermata bulat disampingnya yang masih berperang batin sambil menatapnya.

“Kau ingat, Minho?”

Pertanyaan pertama Hara di pagi ini sontak menghentikan perang batin yang Minho ciptakan sendiri.

“Aku sudah meminta izin pada Mrs.Yoon agar kau tetap bisa mengikuti ulangan susulan walau sudah mencapai batas akhir,” lanjut gadis itu.

“Kapan?”

Perasaan lelaki itu mulai tidak enak. Firasatnya mengatakan perkataan Hara selanjutnya akan mengantarkannya pada bencana.

“Hari ini.”

Bingo!

“Kau bisa belajar dari catatanku. Aku sudah meringkasnya agar mudah kau pahami,” ucap Hara sambil memberikan buku yang tadi ia keluarkan dari ranselnya. Ia tersenyum menepuk pelan bahu lebar Minho seolah memberinya semangat tambahan.

“Tapi, noona. Kenapa kau baru memberi tau ku sekarang? Kenapa tidak dari semalam noona memberi tau ini?” rajuknya.

“Bukankah aku sudah memberi taumu? Tapi kau tidak menghiraukannya bukan?”

Diam. Semalam Minho sibuk menanyakan alasan kebebasannya dari penjara sampai ia lupa bahwa Hara sudah menyuruhnya untuk belajar. Ia begitu penasaran. Lelaki ini tau Nyonya Park membayar uang jaminan pada kepolisian. Hanya itu, menurut apa yang ia dengar dari Hara. Dan ia tau itu terlalu tidak masuk akal.

Ia dan Hara bekerja pada Nyonya Park sejak mereka berusia kurang lebih sepuluh tahun. Nyonya Park bukan orang yang dermawan. Sebaliknya, ia sangat perhitungan, kikir. Ia tidak mau berada dipihak yang merugi. Setiap pekerja yang melakukan kesalahan harus mendapat sanksi, bisa dalam bentuk uang ganti rugi, perpanjangan kontrak, atau tugas tambahan, tergantung Nyonya Park akan memberikan sanksi yang mana. Percayalah, ketiga sanksi itu tidak ada yang menyenangkan. Uang ganti rugi artinya pemotongan gaji, membuatmu merugi. Perpanjangan kontrak sama saja memperpanjang penderitaan. Tugas tambahan, neraka baru bagimu.

“Ambilah. Masih ada waktu. Kau bisa belajar dalam perjalanan menuju sekolah.”

Dan memang itu yang Minho lakukan. Ia tidak bisa melawan gadis yang telah ia anggap kakak kandungnya, walau sebenarnya usia mereka hanya terpaut satu bulan.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Hara-ssi, kau diminta datang ke ruang konseling sekarang.”

Kegiatan menulisnya terhenti. Segera ia meninggalkan perpustakaan menuju ruang konseling setelah mengembalikan kartu perpustakaan atas nama Kim Jonghyun kepada pemiliknya.

Jiwa apatisnya seolah telah melebur saat melihat Hara tergesa memenuhi panggilan itu. Ia berjalan keluar perpustakaan seperti biasa. Tidak akan ada yang mencurigainya bahwa ia sedang mengikuti gadis itu ke ruang konseling.

Sebuah pilar penyangga menjadi tempat persembunyiannya saat ini. Segera ia membuka buku perpustakaan yang baru dipinjamnya. Bersandar pada pilar seolah ia sedang membaca buku.

“Kim Jonghyun, kebetulan kau ada disini. Ikut saya ke ruang konseling.”

Ini bukan yang pertama kalinya ia dipanggil ke ruang konseling. Bahkan ia terlalu sering memasuki ruangan itu. Tapi ada yang berbeda kali ini. Tak ada rasa bosan, malas, atau jengah seperti biasanya. Untuk yang pertama kalinya, lelaki muda ini merasa panggilan kali ini adalah sebuah keberuntungan.

Tepat seperti dugaannya, Choi Hara pun ada di ruangan itu. Ia duduk disamping siswa lain yang ia tau bernama Choi Minho menghadap seorang guru. Inilah keberuntungannya. Dari penglihatannya, Hara bukanlah siswa pembuat onar seperti dirinya. Jadi fakta ia menemukan Hara dipanggil keruangan ini membuatnya cukup penasaran.

“Jadi, Kim Jonghyun. Kami dengar kemarin kau kembali masuk penjara–……”

“Kami sudah tau semuanya, Choi Hara. Saudaramu, Choi Minho, alasan ia masuk penjara adalah karena dugaan keterlibatannya dengan salah satu sindikat penjualan narkotika.”

Alih-alih mendengarkan guru yang tengah berbicara padanya, Jonghyun malah memfokuskan pendengaran pada pembicaraan seorang guru dan dua orang siswa disampingnya, Choi Minho dan Choi Hara.

“Ayahmu sudah mengurus semuanya–……”

Matanya melihat gerakan bibir guru di depannya itu. Tapi tak ada satu pun kata yang keluar dari sana terserap oleh  telinganya. Gelombang suara itu seolah terpecah tepat saat akan menyentuh daun telinganya. Sepertinya Jonghyun sudah benar-benar memerintahkan telinganya untuk hanya mendengar percakapan dari meja sebelahnya itu.

“Kami tidak mengeluarkannya dari sekolah, tenang saja. Tapi tetap ada sanksi yang harus diterima. Dengan sangat menyesal, pihak sekolah mencabut dana beasiswa bagi Choi Minho.”

“Kau bisa keluar sekarang, Kim Jonghyun.”

Kata terakhir itu berhasil ia tangkap dan membuatnya berfokus pada guru dihadapannya kini.

“Ne?”

Ia benar-benar tidak tau apa yang guru itu katakan padanya. Mungkin sekarang ia terlihat seperti orang bodoh.

“Kau bisa keluar sekarang, Kim Jonghyun,” ulang guru itu.

Membungkuk sopan dan melangkah keluar ruang setelah sebelumnya kembali melirik pada Choi bersaudara itu.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Kami tidak mengeluarkannya dari sekolah, tenang saja.”

Helaan napas lega terdengar dari mulut keduanya.

“Tapi tetap ada sanksi yang harus diterima.”

Deg.

Deg.

Deg.

Kecemasan tergambar jelas dimata mereka.

“Dengan sangat menyesal, pihak sekolah mencabut dana beasiswa bagi Choi Minho.”

DEG!

Sama saja. Pencabutan beasiswa bagi mereka artinya secara tidak langsung mereka diminta keluar dari sekolah. Bagi anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan seperti mereka, biaya sekolah disini sangatlah mahal. Sekarang, dari mana mereka akan mendapat uang sebanyak itu?

“Tapi Minho tidak bersalah. Semuanya hanya kesalahpahaman,” sergah Hara.

“Maaf, Hara. Ini sudah keputusan dewan sekolah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa.”

Mungkin Hara akan melewatkan dua jam pelejaran setelah ini. Ia perlu waktu untuk berpikir.

“Noona, mianhae!”

Suara berat itu menggema di gedung olah raga yang luas.

Tak ada jawaban. Hanya terdengar ketukan sol sepatu dengan tempat duduk kayu pada tribun disekeliling sisi gedung olah raga. Hara masih berpikir.

“Apa sebaiknya aku berhenti sekolah?”

“Jangan!”

Ide buruk Minho ditolak mentah oleh gadis itu. Hah. Terlalu jelas lelaki jangkung ini putus asa soal pencabutan beasiswanya.

“Apa aku pindah sekolah saja?”

“Jangan!”

Ini sekolah terbaik di Seoul, bahkan mungkin di Korea Selatan. Gadis ini sudah memikirkannya matang-matang. Mereka harus mempunyai masa depan yang cerah. Ia tidak mau terus terjebak dalam lubang hitam. Jika mereka sudah mereka sudah mendapat pekerjaan layak, mereka tidak perlu takut lagi dengan ancaman Nyonya Park tentang penggusuran panti asuhan yang membuat mereka harus bekerja pada Nyonya Park sebagai jaminan keselamatan panti.

“Mungkin aku harus meminta pekerjaan tambahan pada Nyonya Park?” tanya Minho.

“Sepertinya begitu,” pasrah Hara.

Meminta pekerjaan tambahan akan menyenangkan Nyonya Park. Ia akan merasa semakin berkuasa atas mereka, dan posisi mereka makin terdesak karena itu.

“Aku akan meminta bekerja di bar. Setidaknya aku bisa sekaligus menjagamu.”

Hara tersenyum. Dalam segala kesulitan, mereka selalu berusaha saling menjaga. Ini yang membuat mereka masih bertahan.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

DOR!!

Kepala.

DOR!!

Jantung.

DOR!!

Leher.

Jika kau berhasil membuat pelurumu bersarang pada salah satu saja tiga titik itu, maka habislah lawanmu.

Prok! Prok! Prok!

Pelayan bahkan bodyguard yang berdiri di belakangnya kini bertepuk tangan atas kemampuan tuan muda mereka. Tidak ada satu pun yang meleset. Ketajaman akurasinya makin meningkat.

“Bagus, Jjong! Ayahmu pasti bangga pada kemampuanmu sekarang. Aku akan segera memberi taunya,” ujar pria dewasa berperawakan tinggi yang berusia sekitar 20-an itu riang sebelum mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Kim Jeongmin untuk segera memberi tau peningkatan anak semata wayangnya itu.

Tak ada les privat dalam bidang akademik seperti lazimnya siswa kelas tiga seperti Jonghyun. Menurut ayahnya, itu tidak penting. Tidak perlu, karena Jonghyun tidak akan berkecimpung dalam dunia seperti itu.

Latihan menembak, memanah, bela diri seperti taekwondo, lalu anggar. Dunia seperti apa yang akan Jonghyun selami nantinya dengan persiapan semacam itu?

DOR! DOR! DOR!!

Terus menembak brutal pada papan target tiga puluh meter di depannya. Muak dengan segala latihan yang selama ini harus ia jalani. Muak dengan semakin jelasnya kemana arus ini akan mengalir. Ia benci.

DOR!!

Ckrek! Ckrekk!

Lalu melempar asal pistolnya saat kehabisan peluru.

“Tuan muda, anda bisa beristirahat sekarang. Dua jam lagi kelas memanah anda akan dimulai.”

Membuka kacamata pelindungnya dengan kasar. Lalu menatap tajam wanita muda yang dipekerjakan ayahnya untuk menjadi sekretaris Jonghyun tersebut sebelum mengambil langkah kasar menuju rumahnya. Sekretaris? Untuk apa Jonghyun memiliki seorang sekretaris di statusnya yang masih seorang pelajar? Ya, itu hanya istilah yang diberikan ayahnya pada wanita muda itu. Wanita yang setiap menit selalu mengingatkan lelaki itu mengenai setiap jadwal kesehariannya. Ia hanya seorang pelajar, bukan direktur atau orang dengan kekuasaan tinggi dan segudang kesibukan seperti ayahnya. Ia tidak mengingkan semua ini walau ayahnya selalu bersikukuh bahwa anaknya itu membutuhkannya.

Brak!!

Beberapa pelayan yang tengah bertugas disekitar kamar Jonghyun sempat terlonjak kaget saat mendengar pintu kamar tuan muda mereka yang dibanting kasar. Tapi kemudian mereka kembali bekerja seperti sebelumnya. Hal ini sudah sering terjadi.

Tok tok! Tok tok!

“Tuan muda, makan siang sudah siap.”

Hening.

Tok tok! Tok tok!

Cklek. Ternyata pintu itu dikunci oleh sang pemilik kamar.

“Mungkin tuan muda sedang tidur. Biarkan saja.”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Tidak peduli walau semua orang yang dilewatinya menatapnya penuh tanya. Senyum dari bibirnya tak bisa ia tahan. Kapan terakhir kali ia melakukan hal seperti ini? Memanjat tembok belakang rumah untuk menghindari latihan yang disiapan ayahnya. Ia sadar, ia bukan lagi remaja tanggung yang hobi memberontak seperti dua tahun lalu. Tapi ia merindukan saat-saat ia masih menjadi remaja normal.

Tanpa sadar sebuah pemukiman sederhana sudah menjadi tempat berpijaknya saat ini. Semua rumah memancarkan kesederhanaan walau berukuran cukup besar. Kebanyakan rumah disana hanya dikelilingi pagar sebatas pinggang orang dewasa, bahkan beberapa membiarkan halaman terbuka tak berpagar. Sangat sederhana. Tidak seperti perumahan tempat tinggalnya. Setiap rumah seakan mencerminkan keangkuhan pemiliknya dengan pagar yang menjulang tinggi juga pilar dengan ukiran indah megah.

Masih berjalan dengan tangan yang makin tenggelam dalam saku mantel tebalnya. Angin musim gugur yang berhembus kencang menerbangkan rambut coklat gelapnya. Memejamkan mata, meresapi angin kebebasannya.

Hanya pemukiman sederhana, tapi ia merasa seperti berjalan di surga. Sangat tentram.

Dug. Dug. Dug.

“Hahaha! Eonni–Hahaha!”

Samar gelak tawa itu menyapa gendang telinganya. Seorang anak perempuan yang mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar. Semakin kakinya melangkah, semakin jelas gelak tawa itu. Bukan hanya suara tawa yang kini ia dengar. Suara pantulan bola dengan aspal, juga…air yang mengalir deras dari sebuah selang.

“Noona, Haneul, kalian membuatku basah kuyup juga,” suara seorang anak laki-laki terdengar merajuk. Kemudian yang terdengar hanya gelak tawa seperti tadi.

Lelaki itu mendekati sumber suara tersebut. Sebuah rumah yang memancarkan kesederhanaan dan kehangatan dengan arsitektur biasa. Hanya sebuah pagar kayu bercat putih yang membatasi rumah itu dengan jalanan. Dibalik pagar itu, ia dapat dengan jelas melihat tiga anak laki-laki memainkan bola basket di pekarangan. Sementara itu seorang anak perempuan tampak menyiram tanaman dengan tenang, sama sekali tak terganggu dengan anak perempuan lainnya yang lebih asik bermain air dengan seorang gadis yang lebih tua darinya.

“Noona! Apa lelaki itu teman noona atau Minho hyung?”

Gotcha! Sekarang Jonghyun merasa seperti penguntit yang tertangkap basah. Ia tampak kikuk saat bocah laki-laki itu menunjuk dirinya dan membuat seorang gadis yang di panggil ‘noona’ itu berbalik dan menatapnya.

Gadis itu berjalan mendekatinya. Membuka pagar putih dengan lebar seolah mempersilakan Jonghyun untuk masuk. Dengan senyum yang berbeda dari biasanya, membuat Jonghyun semakin kikuk.

“Masuklah, sunbae.”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Jika salah satu dari remaja ini mendapat topik pembicaraan yang tepat, ini akan menjadi pembicaraan kedua bagi mereka. Masih duduk bersebelahan di sebuah kursi taman masih dalam pekarangan tadi. Mereka hanya memperhatikan tiga bocah laki-laki yang masih betah memperebutkan sebuah bola karet berwarna orange bergaris hitam.

“Eonni, ini,” seorang gadis kecil berambut pendek bergelombang menyerahkan sebuah nampan berisi dua buah cangkir berisi teh juga beberapa buah biscuit dalam piring berukuran sedang.

“Gomawo,” Hara tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala gadis cilik itu.

“Silahkan dicicipi, oppa. Biscuit ini buatan ku dengan sedikit bantuan Hara eonni,” gadis kecil itu menawarkan biscuit tadi pada Jonghyun dengan senyum termanisnya. “Baiklah, aku masuk dulu,” lanjutnya.

Mungkin keduanya terlalu terkejut atas pertemuan kali ini. Walau Hara sudah sadar dari keterkejutannya, tapi melihat Jonghyun yang masih bergeming ia lebih memutuskan untuk bungkam, mengurungkan niatnya untuk melontarkan pertanyaan ‘bagaimana Jonghyun bisa ada di sini’ dan memilih untuk mencari tau sendiri dengan menebak kemungkinan-kemungkinan yang ada di otaknya, sambil memperhatikan ketiga adiknya yang sedang memperebutkan bola basket. Sedangkan Jonghyun, ia hanya merasa asing. Gadis di sampingnya ini jelas adalah Choi Hara. Tapi ada bagian dari dirinya yang merasa janggal dengan hal itu. Gadis ini terlihat begitu berbeda dengan keceriaannya. Tidak sadarkah kau, Kim Jonghyun? Siapa dirimu sampai bisa menilai hal semacam itu? Bukankah kalian tidak saling mengenal sedekat ‘itu’. Justru kau dan perasaanmu itulah yang janggal.

“Ekhem!”

“…”

Selanjutnya Jonghyun menyesali aksi berdehamnya itu. Sama sekali tidak menghapus kecanggungan. Bahkan malah membuatnya semakin kikuk. Pasalnya, Hara tidak merespon apapun. Gadis itu terus memperhatikan permainan basket ketiga adiknya dengan antusias.

Lelaki itu kembali berpura-pura memerhatikan ketiga bocah tadi. Sesekali ia memcoba melirik Hara dari ekor matanya. Ia bersumpah, saat ini ia merasa menjadi orang terbodoh sedunia. Otaknya sama sekali tidak tau harus bagaimana mengatur anggota tubuhnya.

“Sebenarnya, sunbae. Boleh aku bertanya sesuatu?”

Suara itu menarik Jonghyun dari rutukannya mengenai ‘menjadi orang terbodoh sedunia’. Saat ia menoleh ke arah sumber suara, secara berlebihan hatinya merasa kecewa. Hara berbicara dengan mimik muka dan senyum formal seperti biasa, layaknya seorang hoobae pada sunbae. Keceriaannya saat bermain air dengan gadis kecil tadi hilang tak berbekas.

“Hm? Katakan saja,” Jonghyun memutuskan untuk bersuara.

Dugh!

“Eh?”

“Hyung! Lempar bolanya! Ayo ikut bermain, kami kekurangan pemain,” seru seorang bocah bermata tajam sambil menunjuk bola yang sengaja ia luncurkan di dekat kursi tempat Jonghyun dan Hara saling berdiam diri.

“Hwan, jaga sikapmu. Dia tamu kita,” gadis itu memicingkan mata sambil menggeleng pelan pada bocah yang dipanggil ‘Hwan’ itu.

“Tidak apa, Hara,” Jonghyun mencegah Hara yang hendak bangkit untuk mengambil bola basket itu, “aku tidak keberatan,” lanjutnya.

“Ayo, anak-anak! Hyung ikut bermain!”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Jadi kau dan Choi Minho bukan saudara kandung? Pantas saja. Aku sempat heran saat Minho memanggilmu ‘noona’ padahal kalian jelas satu angkatan.”

Tak ada lagi rasa canggung dan dirinya yang kikuk seperti tadi. Jonghyun harus berterima kasih pada bocah bernama Hwan itu. Secara tidak langsung anak itu menghapus kecanggungan dan rasa kikuk Jonghyun pada Hara.

“Umurku hanya satu bulan lebih tua dari Minho. Ia memang memanggilku ‘noona’ sejak aku masuk panti asuhan itu.”

“Oh ya. Bukankah tadi kau ingin menanyakan sesuatu padaku?”

Gadis itu tertegun sejenak. “Rasanya tidak penting lagi.”

“Biar ku tebak,” lelaki itu bertingkah seolah seorang detektif. Ia bangkit dari duduknya, berjalan kesana-kemari dengan kening berkerut dan jari  telunjuk ia taruh di dagu.

“Kau mau bertanya kenapa aku bisa sampai ke panti asuhanmu?”

“BINGO!” dua jempol Hara acungkan ke arah Jonghyun yang kini berdiri tepat dihadapannya sehingga gadis itu harus mendongak.

“Kau benar-benar ingin tau?”

“Aku tidak keberatan jika sunbae tidak bisa memberitaunya. Sunbae punya hak untuk itu.”

“Well, bisa dikatakan aku kabur dari rumah.”

“Mwo?!” pekik Hara terahan.

“Di rumah aku masih ‘Trouble Maker Kim Jonghyun’ kalau kau ingin tau.”

Selanjutnya mereka berbincang akrab dan sesekali tertawa bersama saat Jonghyun mengeluarkan lelucon sederhana. Beruntung saat ini di halte itu hanya ada mereka berdua.

“Kapan-kapan, boleh aku bermain lagi di panti asuhan?”

“Tentu!”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Sore nanti boleh aku bermain di panti asuhan?” bisik Jonghyun sambil berpura-pura berfokus pada buku yang dipinjamnya.

“Datang saja,” balas Hara juga dengan suara berbisik tanpa menoleh pada Jonghyun sedikit pun. Ia menyibukan diri dengan kartu perpustakaan Jonghyun yang ada di tangannya. Bahkan jika kau tidak memerhatikan dengan seksama, kau tidak akan menyadari kedua orang itu baru saja saling berbicara.

Jonghyun segera mengambil kartu perpustakaan yang diserahkan Hara padanya.

Selain karena ini perpustakaan, ada alasan lain mengapa mereka berbisik seperti tadi. Seperti ada aturan tidak tertulis bagi keduanya untuk bersikap biasa saja saat di sekolah, tidak menunjukan kedekatan mereka – walau nyatanya mereka mulai dekat. Berpura-pura tidak saling mengenal. Ya, bisa dibilang mereka tidak bisa dikatakan sebagai sunbae-hoobae yang hanya saling mengenal nama. Sejak kedatangan Jonghyun hampir satu bulan yang lalu ke panti asuhan, ia makin sering berkunjung ke panti asuhan. Mereka mulai dekat tentu saja. Tapi tak ada satupun murid lain yang mengetahui itu. Bagi mereka semuanya tampak normal.

Sebuah pengecualian bagi pemilik mata bulan purnama yang sedang memasang tatapan mata elang pada gadis yang sedang duduk di balik meja penjaga perpustakaan itu. Choi Minho.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Musim salju menyapa. Siapa saja pasti tidak akan terbesit niat untuk keluar rumah saat ini. Angin petang berhasil mengibarkan rambut sepunggung seorang gadis yang sedang berjalan di samping seorang lelaki berperawakan tinggi. Keduanya membenamkan tangan mereka lebih dalam di saku mantel masing-masing. Jika mereka punya pilihan, tentu mereka pun tidak ingin berada di tengah cuaca menusuk seperti saat ini.

Kreeett..

Sedikit bisikan suara pagar kayu yang terbuka itu hampir tak terdengar karena raungan angin yang makin mengganas. Bahkan mampu menyamarkan suara nyanyian sekelompok anak kecil dalam panti asuhan itu.

Twinkle-twinkle little star…

How I wonder what you are…

Bertepatan dengan bait itu dinyanyikan, Minho dan Hara memasuki ruang tamu. Ibu pengurus panti sedang duduk di dekat perapian sederhana sambil tersenyum hangat melihat anak-anak asuhannya bernyanyi riang. Tersungging senyum saat mata Hara menangkap siapa sosok yang sedang memainkan jarinya di atas tuts piano, mengiringi nyanyian anak itu. Lain halnya dengan lelaki muda di sampingnya. Ia sangat menunjukan ketidak sukaannya pada seseorang yang sedang bermain piano itu.

Twinkle-twinkle little star…

How I wonder what you are…

Hara melangkah untuk bergabung dengan adik-adiknya saat bait terakhir mulai dilantunkan. Ia ikut melantunkannya dengan senyum yang makin terkembang. Siapa yang tidak merasa bahagia melihat suasana sehangat ini? Sekejap ia melupakan rasa dingin yang sebelum ini memeluknya.

Prok! Prok! Prok!

Anak-anak itu bertepuk tangan kompak tanpa komando saat lagu berakhir. Semuanya tampak bahagia. Kemudian masing-masing berteriak meminta Jonghyun untuk memainkan lagu kesukaan mereka yang lain.

Minho memilih duduk di kursi lain dekat perapian, di hadapan Nyonya Choi, ibu asuh mereka. Tidak biasanya ia melewatkan moment bersama adik-adiknya itu. Ia sebenarnya ingin bergabung bersama mereka. Namun lelaki bernama Kim Jonghyun itu membuatnya mengurungkan niat. Entahlah, ia memang tidak suka pada lelaki itu.

Sebuah sentuhan pada tangannya membuatnya terhenyak. Ia tau pemilik tangan ini. Senyum Nyonya Choi yang ia lihat saat memalingkan wajah dari kelompok paduan suara kecil itu.

“Tidak baik memendam rasa benci pada seseorang.”

Minho tau pasti apa yang Nyonya Choi maksudkan. Sepertinya ketidaksukaan Minho pada Jonghyun memang terpeta jelas di wajahnya.

“Aku tidak membencinya. Hanya tidak menyukainya,” tentu ia mengelak.

“Kurasa Jonghyun lelaki yang baik,” pendapat Nyonya Choi. “Ia terlihat sangat akrab dengan Hara. Setauku Hara bukan orang yang mudah bergaul, sepertimu,” lanjutnya.

Karena Minho tidak menggubris perkataan itu, Nyonya Choi kembali bersuara, “kurasa mereka cocok. Bagaimana menurutmu?”

“Biasa saja,” datar Minho. Ia kembali memerhatikan kumpulan yang semakin larut dalam nyanyian mereka.

“Apa mereka mempunyai hubungan khusus?”

Sontak Minho menoleh pada sang ibu asuh. Wanita itu selalu memancarkan senyum hangat setiap saat. “Kenapa Eomma menanyakan hal itu?”

“Mereka terlihat sangat dekat. Kau lihat sendiri kan?” paparnya.

Kini mata bulat Minho ia fokuskan pada Jonghyun dan Hara. Jonghyun tetap dalam posisinya sebagai pemain piano, mengiringi Hara juga anak-anak yang bernyanyi ceria.

“Kurasa tidak. Dan aku tidak mengharapkannya. Lagi pula mereka tidak pernah terlihat seakrab itu di sekolah,” tandas Minho.

“Benarkah? Kenapa begitu?”

Minho hanya mengedikan bahu. Selain memang ia malas membahas ini lebih lanjut, sebenarnya ia sendiri bingung pada pertanyaan Nyonya Choi tadi. Merujuk pada kalimat Minho yang mana pertanyaan itu?

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Pukul delapan malam. Sempat terjadi badai di luar sana, beruntung keadaan sudah tenang sekarang. Anak-anak sudah terlelap di kamar mereka. Lebih cepat dari biasanya. Mungkin terlalu lelah bernyanyi berjam-jam.

“Kau mau pergi kemana, Minho?”

Minho telah berpakaian rapi dan siap mengenakan mantelnya saat Hara melontarkan pertanyaan itu. Gadis itu mengernyit heran. Ini belum waktu mereka bekerja di bar.

“Aku harus menemui Nyonya Park.”

“Ia memintamu datang?” Hara mendekati Minho yang sedang mengenakan sepatunya.

“Ia meminta salah satu dari kita datang,” jawabnya.

Rasa khawatir menyergap Hara seketika. Wajahnya menegang.

“Aku saja!” cegah Hara saat Minho telah meraih handle pintu. Sadar ia mengeluarkan nada tinggi yang tidak seperti biasanya, cepat-cepat ia mengulangi perkataannya, “aku saja,” ucapnya pelan.

“Aku akan pulang sekarang, Minho-ssi. Aku akan sekaligus mengantar Hara.”

Suara yang asing bagi Minho. Jonghyun telah siap dengan mantelnya dan berdiri di belakang Hara, sama-sama mengahadap Minho.

“Baiklah.” Minho menyerah.

Di lain sisi Hara bersyukur Jonghyun pulang di saat yang tepat. Ia tidak bisa membiarkan Minho menghadap Nyonya Park sendiri. Kemungkinan wanita itu akan memberikan tugas tambahan. Dan Hara tidak mau tangan Minho ternodai oleh tugas tambahan yang tidak akan ‘biasa’ itu.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Jika aku tidak salah tangkap, kurasa Minho tidak begitu menyukaiku,” aku Jonghyun.

“Tidak, sunbae. Minho tidak seperti itu. Hanya perasaanmu saja.”

Tentu saja Hara menyangkalnya. Tidak mungkin bukan ia mengatakan dengan gamblang bahwa Minho memang tidak begitu menyukai lelaki ini sejak kedatangan pertama Jonghyun di panti asuhan. Bahkan lelaki bermata besar itu sempat meminta Hara untuk tidak terlalu dekat dengan Jonghyun, entah apa alasannya.

Halte ini sepi. Tentu saja. Tidak ada yang mau keluar rumah saat malam bersalju seperti ini.

“Hara-ssi.”

Mungkin ada yang salah dengan gadis ini, atau memang suara Jonghyun selalu terdengar lembut. Apa orang lain merasakan tentram dan nyaman saat mendengar suara Jonghyun, seperti yang selalu ia rasakan?

“Ya?”

“Aku menyukaimu yang seperti ini.”

“Ya??”

“Aku lebih menyukaimu yang saat ini.”

“Ya?”

Gadis itu tak bisa menyembunyikan kerutan pada dahinya. Ia bingung dengan ucapan Jonghyun.

“Aku baru menyadarinya. Kau saat di sekolah dan di panti asuhan itu seperti dua orang yang berbeda.”

Tidak mau terlihat semakin bodoh dengan kembali memastikan ucapan Jonghyun dengan mengucapkan ‘ya?’ lagi, Hara memilih diam dan membiarkan lelaki di sampingnya ini menuntaskan perkataannya.

“Di sekolah kau sangat pendiam. Tak banyak berekspresi. Aku bahkan tidak pernah melihatmu berbicara dengan siswa lain selain Minho. Kau selalu ada di perpustakaan saat jam istirahat. Seolah kau tidak peduli dengan sekitarmu. Kau bahkan tidak peduli dengan cap pembuat onar atau pembunuh yang menempel di dahiku,” papar Jonghyun.

“Aku memang tidak peduli,” balas Hara dengan datar.

“Tapi di panti asuhan kau selalu ceria, dan begitu perhatian pada adik-adikmu. Kepedulianmu pada mereka terlihat jelas.”

“Mereka keluargaku. Aku menyayangi mereka. Tentu aku peduli pada mereka.”

Entah apa yang membuat mereka menghela napas secara bersamaan saat ini. Ini membuat mereka menoleh dan dua pasang mata itu bertemu pandang. Cukup lama mereka diam seperti itu sampai Hara mengalihkan pandangannya.

“Bahkan saat pertama kali aku ‘tersesat’ ke panti asuhanmu, aku ragu itu kau, Choi Hara sang penjaga perpustakaan, asisten Kang Sonsaengnim,” lanjut Jonghyun.

“Kau pikir kau tidak seperti itu, sunbae?” Hara terkekeh sebelum melanjutkan, “saat di sekolah kau pun selalu berekspresi datar, tak peduli sekitar. Saat di panti asuhan kau berubah jadi sosok yang ramah dan menyenangkan. Dan saat – ”

Hara merasa melakukan kesalahan. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya walau mata Jonghyun menghujaninya dengan tatapan bertanya dan menuntut agar Hara melanjutkan kalimatnya.

“Lanjutkan,” pinta lelaki itu.

“Tidak. Aku lupa.”

Tidak bisa. Bukankah ia sudah berjanji pada Jonghyun untuk melupakan kejadian itu.

“Saat di jalanan?” tebak Jonghyun tepat sasaran. Ia tau dari mimik Hara yang berubah.

Gadis ini hanya mengangguk. Jujur saja, sulit melupakannya. Saat lelaki itu melayangkan pukulannya pada rahang sang bodyguard dan membuatnya terpental membentur dinding. Gadis ini melihat kejadian itu tepat di hadapannya. Ia ingat kobaran emosi pada mata Jonghyun.

“Lalu, seperti apa aku saat itu?”

“Menakutkan,” suara Hara sangat pelan bagai bisikan.

Lagi, atmosfer aneh tak bersahabat menyelimuti mereka.

“Tapi aku tidak peduli. Bukankah itu wajar? Semua orang punya sisi baik dan buruknya masing-masing,” Hara bersuara untuk menarik mereka dari atmosfer aneh yang makin menenggelamkan mereka.

“Gomawo,” tulus Jonghyun.

Selanjutnya kedua pasang mata itu kembali bertemu pandang. Tenggelam dalam manik dihadapan masing-masing. Dan tak ada yang bisa menyembunyikan senyum tulus penuh kelegaan dari bibir keduanya.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“ARRRGGH!!!!”

Teriakan kesekian yang didengarnya dalam lima menit terakhir. Lelaki muda berwajah tegas ini merasa tiap teriakan itu menghantarkannya makin dekat ke bibir jurang neraka. Ia tak sanggup melihat adegan sadisme lebih dari ini. Cukup. Ia tidak tahan apalagi dengan jarak sedekat ini.

“Cukup.”

Suara penuh wibawa menghentikan kegiatan penyiksaan pada korban yang kini tak berdaya itu. Korban itu merasa beruntung. Pikirnya, ia akan selamat, setidaknya ia tidak akan mati.

Pemilik suara itu menarik tangan lelaki muda di sampingnya agar lebih mendekat pada si korban.

“Kudengar kemampuanmu menembakmu mengalami kemajuan pesat. Berita bagus,” ucapnya pada lelaki muda itu.

“Ikat dia di papan itu!” seru pemilik suara tadi. Segera para bawahannya menyeret sang korban dan mengikatnya pada sebuah papan kayu cukup luas yang bersender di tembok bangunan tua itu.

Ckrek!!

“Kau lihat dia, Jonghyun? Tembak dia.”

Matanya membulat tak percaya. Tubuhnya menegang saat sang ayah meletakan sebuah pistol di telapak tangan kirinya yang bergetar.

“Tapi – abeoji –”

Tap

Tap

Tap

Kim Jeongmin mundur beberapa langkah membuat jarak dengan anak semata wayangnya yang bergetar ketakutan.

Ckrek!!

“Tembak dia atau kau yang ku tembak.”

Jonghyun tak mempercayai ini. Ayahnya sendiri, mengacungkan mulut pistol ke arahnya.

“Dalam hitungan ke tiga, anakku. Satu…”

Tubuhnya tak benar-benar bergerak. Hanya bergetar. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Yang ia rasakan hanya dinginnya pistol dalam genggaman tangan kirinya.

“Dua..”

Ia harus memilih. Segera. Membunuh atau terbunuh. Haruskah ia membunuh orang tak berdaya yang kini terikat beberapa meter di depannya itu. Jiwanya tak sehitam itu untuk sampai hati membunuh orang yang tak ia ketahui apa kesalahannya.

“Tiga.”

DOR!!

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔬 𝔅𝔢 ℭ𝔬𝔫𝔱𝔦𝔫𝔲𝔢 ≼

≽≽⋅≼≼

2 thoughts on “The Mask [Face 2]

  1. Upeh ini TBC nya klimaks tapi blm ada part 3 nya. Upeh update please.. Ayolah peh~
    Aku ngebayangin Dino disini era sherlock, yg tangan kekar tumbuh otot belukar (?)
    Peh update pliss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s