Love Should Go On [CHAP 4]

Title                       : Love Should Go On

Main Cast            :

–          Lee Hyunrim (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

–          SHINee Onew as Lee Jinki

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Genre                   : Romance

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

Previous Chapter

“Key? Choi Minho?!” dengan nada yang meninggi.

Alih-alih memikirkan alasan kenapa dua nama itu yang keluar dari mulut Jonghyun, Hyunrim lebih memikirkan keadaan namja yang mengguncang-guncangkan bahunya sekarang. Ekspresi wajah Jonghyun tidak karuan. Antara kesal, kecewa, panik. Yeoja ini tau pasti namja yang  kini mencengkram kuat kedua bahunya itu sedang menahan amarah yang hampir meledak. Tapi ia sama sekali tidak menemukan jawaban kenapa namja ini tiba-tiba bersikap seperti itu.

Dengan hati-hati Hyunrim melepaskan tangan kokoh yang masih mencengkram bahunya. “Ada apa denganmu, Jjong?” dengan penuh kekhawatiran menyuarakan satu-satunya pertanyaan yang ada dibenaknya.

“Ani. Gwenchana. Cepatlah pulang, hampir malam.”

*** Chapter 4 ***

Pagi ini terasa berbeda bagi Jinki. Pasalnya, yeoja yang tinggal satu atap dengannya itu tampak tak fokus pada setiap kegiatan paginya. Hyunrim hanya fokus pada ponselnya bahkan  ia sempat menumpahkan segelas susu yang akan diminumnya.

Sarapan yang terbilang sepi. Ya, walaupun mereka memang jarang bicara saat sarapan, tapi Jinki tak pernah merasa diabaikan seperti sekarang. Tak ada secangkir kopi di meja makan, yang ada hanya segelas susu yang jelas bukan miliknya. Sejak kapan susu coklat masuk dalam menu sarapan pagi Lee Jinki? Baiklah, kali ini ia memang harus turun tangan untuk membuat kopi sendiri.

Jarum panjang pada jam dipergelangan tangan kiri Jinki tepat mengarah pada angka enam sementara jarum pendek berada diantara angka tujuh dan delapan. Namja itu mulai bingung, Hyunrim belum mau berangkat atau tidak sadar jika kelasnya dimulai tiga puluh menit lagi? Dalam bingkai mata sipitnya, perhatian manik coklat bening itu beralih dari jam tangan pada Hyunrim yang terlihat menatap bingung pada pada layar ponsel yang sedari tadi tidak lepas dari genggamannya. Sesekali yeoja itu memakan sereal dan mengunyahnya dengan gerakan lambat.

Kembali pada jam tangannya, jarum paling tipis disana terus berputar membuat pergerakan kecil pada kedua jarum lainnya. Cukup. Jinki memang harus menyadarkan Hyunrim sekarang juga.

“Ayo, kita berangkat sekarang. Kau tidak mau terlambat, bukan?”

Terlonjak kaget oleh perkataan Jinki yang tiba-tiba memecah hening di ruang makan itu. Lalu dengan segera menyampirkan tasnya dan menarik Jinki, memberi isyarat untuk segera berangkat. Ia sama sekali tidak mempedulikan peralatan makan mereka yang masih tergeletak di meja makan karena sebelumnya ia menyadari bahwa ia hampir terlambat.

*****

“Ambil lajur paling kanan, oppa.”

Jinki memang pernah mengantar Hyunrim ke kampusnya. Tapi hanya sekali, dan itu terjadi hampir tiga bulan yang lalu. Jadi, wajar bukan bagi orang yang masih asing dengan jalanan Seoul seperti Jinki masih perlu bimbingan untuk mengarahkan kemana mobilnya harus melaju.

Untung saja Hyunrim sudah berhenti menyibukan diri dengan ponselnya. Rasa penasaran Jinki tadi hilang dan terganti dengan rasa menyesal. Menyesal menanyakan alasan dibalik kesibukan yeojanya dengan ponsel.

“Masih belum bisa dihubungi?” tanya Jinki setelah memberhentikan mobilnya di area parkir KU.

“Belum.”

“Sudahlah, nanti juga kalian bertemu.”

Ternyata dari tadi yeoja itu hanya sulit menghubungi Jonghyun. Namja itu tidak menjemputnya pagi ini. Tapi bukan disana masalahnya. Namja itu tak memberi kabar apapun. Ponselnya sama sekali tidak aktif. Mengingat kejadian kemarin, Hyunrim makin khawatir pada sahabatnya itu.

“Perlu aku jemput, pulang nanti?”

“Nanti aku hubungi, oppa. Hati-hati di jalan. Annyeong!” dan yeoja berambut panjang itu berlari kecil kearah seseorang yang memperhatikannya sejak yeoja itu turun dari mobil Jinki.

“Key!” Sebuah panggilan yang sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali. Toh namja yang dicap ‘cerewet’ oleh Jonghyun ini sudah memperhatikan Hyunrim sejak ia turun dari mobil hitam metalik tadi.

“Annyeong!” lanjutnya saat sudah berada tepat dihadapan Key.

“Annyeong! Kau tidak bersama Jonghyun?” tanya Key dengan penuh rasa penasaran. “Kemana namja bebal itu?”

“Kau tidak tau Jjong kemana?” Hyunrim balik bertanya.

“Tidak. Bukankah biasanya kalian berangkat bersama?”

Ternyata percuma ia menanyakan pada Key yang notabene sangat dekat dengan Jonghyun.

Mengedikan bahu dengan gelengan kepala sebelum berkata, “Tidak. Kalau kau bertemu dengan Jonghyun bisa tolong beri tahu aku, Key?”

“Kenapa tidak kau coba menguhubunginya?”

“Sejak pagi aku sudah berusaha menguhubunginya, tapi ponselnya sama sekali tidak aktif.”

Key tampak berpikir dengan masih memperhatikan Hyunrim yang tampak khawatir. “Kalian bertengkar?” selidik Key.

“Tidak.” Sepersekian detik kemudian yeoja itu ingat sikap tak wajar dari Jonghyun kemarin. Apa Jonghyun marah padanya? Tapi rasanya terlalu konyol jika Jonghyun marah hanya karena masalah itu.

“Kalian bertengkar?” Key kembali memastikan saat melihat ekspresi Hyunrim berubah seolah mendapatkan petunjuk.

“Hanya saja…kemarin ia memang sedikit aneh. Berbeda dari biasanya.” Terus-menerus mengkritik dan mendebat pakaiannya, lalu tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi padanya. Sangat berbeda dengan Jonghyun yang biasanya.

“Sudahlah. Terkadang jalan pikiran namja itu memang  rumit dan tak tertebak. Nanti aku akan menghubungimu jika bertemu dengannya.”

“Gomawo, Key!”

*****

Tok… tok… tok…

“Buka saja, noona!” sahut sebuah suara.

Krett. Pintu kayu itu berderit saat seorang yeoja mendorongnya pelan.

“Kau sakit?” sang yeoja segera melangkah ke tempat tidur saat melihat namdongsaeng-nya masih bergulung dengan selimutnya. Dengan sekali sibakan selimut itu terbuka membuat seorang namja yang berada dibaliknya berdecak kesal dan kembali menarik selimutnya sampai menutupi wajah tampannya.

Yeoja ini tau bahwa dongsaeng-nya jelas tidak sakit. Tenaganya untuk menarik selimut tadi jelas terlalu kuat untuk ukuran orang sakit. Ia hanya bisa pasrah. Namja dibalik selimut itu memang keras kepala.

Srek.

Membuka gorden hijau tosca yang menutupi satu-satunya jendela di kamar itu. Cahaya matahari langsung menyerbu masuk menerangi setiap sudut kamar.

“Bangun. Hei, kau tidak kuliah?” mengguncang-guncangkan tubuh kekar sang dongsaeng. Nihil. Tubuh itu masih bergeming.

“Cepatlah mandi.” Kini yeoja itu berinisiatif membereskan kamar dongsaeng-nya.

“Atau kau mau mandi dengan air hangat?” mengambil beberapa majalah yang berserakan disekitar tempat tidur.

“Jawab. Kalau mau, aku siapkan sekarang.” Sekarang ia merapikan rak buku, menyusun buku sesuai tingginya.

“Atau kau mau sarapan dulu? Aku sudah memasak. Tapi kau tetap harus mencuci muka menggosok gigi dulu sebelum sarapan.” Ia memasukan baju yang tampak terlempar secara asal ke dalam keranjang cucian disamping lemari berpintu tiga.

“Hei, kau tidak benar-benar sakit kan?” kembali duduk di sisi ranjang dan mengguncang-guncangkan tubuh kekar itu dengan lebih bertenaga.

“Ne! aku bangun! Cerewet sekali!”

“Dongsaeng-ku yang tampan, kau tidak sakit kan? Noona mencemaskanmu…” ucap Songdam dengan nada berayun disetiap akhir kalimat.

“Noona mencemaskanku?” Jonghyun melempar tatapan tidak percaya pada Songdam.

“Huh! Kau pikir aku serius? Cepat bangun!” kali ini disertai bentakan kecil.

Blam!

Songdam baru saja menghilang dari pandangan Jonghyun setelah pintu kamarnya tertutup. Sudah terlambat baginya untuk berangkat kuliah. Namja itu kembali berguling di atas tempat tidurnya. Sama sekali tidak menampakan niatan untuk beranjak dari situ. Ekor matanya menangkap benda penunjuk waktu yang tergantung pada salah satu dinding kamarnya kemudian beralih pada jendela yang menyalurkan cahaya matahari ke dalam kamarnya. Dua pemandangan itu makin membuatnya malas beranjak dari ruang pribadinya ini. Jam dinding itu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Matahari makin gencar menunjukan eksistensinya.

Srek!

Bangkit dengan cepat dari tempat tidurnya hanya untuk menutup gorden agar ia bisa kembali bermalas-malasan.

*****

“Sakit?” Hyunrim kembali memastikan perkataan Key.

“Ia bilang begitu. Aku akan ke rumahnya sekarang. Kau ikut?” tanya Key.

“Ck! Aku yakin ia tidak benar-benar sakit,” cela yeoja itu dengan nada mengejek.

“Kita tau pasti tingkah namja bebal itu,” ucap Key, “tapi aku yakin kau tetap mengkhawatirkannya. Jadi, kau ikut bukan?”

Selanjutnya mereka berjalan ke arah parkiran tempat Key memarkirkan mobilnya. Gerakan tangan mereka yang hendak menggapai pintu mobil terhenti saat sebuah suara melengking memecah sepi di parkiran luas itu.

“Key sunbae!!”

Seorang yeoja manis tengah berlari sambil melambaikan tangannya penuh semangat ke arah namja bermata kucing itu. Ia sama sekali tidak menghiraukan tatapan menusuk dari mata kucing itu padanya dan tetap tersenyum lebar saat telah berada dihadapan Key.

“Sunbae tau dimana ‘Jjongie’ku sekarang? Aku tidak melihatnya seharian ini.”

Mata kucing Key makin menghujam yeoja itu dengan tatapan tajamnya. Bola mata itu berputar malas sebelum pemiliknya berucap, “kau perlu ku ajari sopan santun, bocah. Jonghyun itu juga sunbae-mu. Berhenti memanggilnya ‘Jjongie’. Menggelikan.”

“Oh?” yeoja manis itu baru menyadari ada orang asing di antara ia dan Key yang sedang menatap mereka dengan bingung. “Sunbae, yeoja ini siapa? Yeojachingu-mu?” bisik yeoja itu tepat di telinga Key.

“Yak! Jangan berbisik seperti itu! Tidak sopan!” Key kembali berteriak ganas sambil menjauhkan wajah yeoja tadi dari telinganya.

“Annyeong, eonni! Kim Sera imnida!”

Lagi, yeoja itu tidak menghiraukan tatapan membunuh Key dan memilih memperkenalkan diri pada Hyunrim dengan manisnya. Ia membungkuk lalu mengulurkan tangannya. “Eonni yeojachingu Key sunbae? Aku yeojachingu Jonghyun sunbae. Karena mereka adalah teman dekat, kurasa kita juga harus menjadi teman dekat, eonni,” masih dengan senyum manis yeoja bernama Kim Sera itu berbicara panjang lebar.

“Lee Hyunrim imnida!” Hyunrim menjabat tangan itu dengan senang hati dan tersenyum ramah. “Tapi aku bukan yeojachingu Key,” tambahnya cepat.

Mulut Sera membulat lalu sedetik kemudian ia tersenyum penuh arti dan mengangguk-anggukan kepalanya seolah baru mendapat kesimpulan baru.

“Ah. Aku percaya. Syukurlah, eonni terlalu manis untuk mendapat namjachingu berisik seperti Key sunbae.”

Tidak tahan dengan sikap polos itu, Hyunrim sedikit terkekeh geli saat ini. Berbanding terbalik dengan Key yang makin tampak geram.

“Kau–”

“Jadi, Key sunbae, dimana Jjongie?” Sera kembali bertanya dan itu menghentikan perkataan Key yang sudah sampai di ujung lidah.

Jjongie? Hyunrim merasa tidak asing dengan panggilan itu. Ia memerhatikan dengan seksama yeoja bernama Kim Sera itu. Ah, ia ingat. Ia pernah melihat Sera saat hendak pergi ke bakery bersama Jonghyun.

“Hey, bocah! Berhenti memanggilnya ‘Jjongie’. Jonghyun tidak pernah suka. Berhenti mengejarnya. Kau tidak ingat berapa kali Jonghyun mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih, eoh?”

“Tapi aku tidak percaya. Aku tidak pernah melihat Jjongie bersama seorang yeoja. Jadi dimana kekasihnya itu, eoh?” tanya Sera sengit.

Key mencoba mengendalikan diri. Ia jengah karena selalu kena imbas dari perilaku penggemar Jonghyun yang satu ini. Menjengkelnya, pikirnya. Terbentuk sebuah senyum misterius dari ujung bibirnya, atau mungkin lebih tepat jika menyebutnya sebagai sebuah seringaian, sebelum ia berkata, “seharusnya kau malu, bocah. Kau baru saja mengaku sebagai kekasih Jonghyun di depan kekasihnya.”

Dua yeoja yang mendengar perkataan Key itu sontak terkejut. Kalimat itu berhasil merenggut senyum manis salah satu yeoja itu dan menggantinya dengan air muka kecewa.

“Kajja, Hyunrim. Jjong sudah menunggu.”

Menatap nanar mobil merah yang melaju cepat dihadapannya. Membatu dengan sejuta pikiran. Perasaan malu dan marah yang terbentuk menghasilkan buliran kristal di pelupuk matanya.

*****

Walau Key dan Hyunrim sama-sama teman dekat Jonghyun, tapi bukan berarti keduanya juga punya hubungan yang dekat. Bukan berarti hubungan mereka tidak baik, hanya saja mereka berdua cenderung canggung satu sama lain. Jadi, kebisuan dalam mobil merah Key saat ini sudah dapat diprediksi sebelumnya.

“Jjong sama sekali tidak menghubungimu?”

“Tidak,” singkat Hyunrim.

Key tidak seperti Hyunrim yang bisa tahan dengan kebisuan selama berjam-jam. Lidahnya gatal jika tidak digunakan semenit saja.

“Jadi kemarin kalian bertengkar?” Key kembali bertanya. Tidak bermaksud ikut campur. Hanya sekedar menyalurkan rasa gatal pada lidahnya. Lagi pula mereka tidak punya topic pembicaraan lain selain Jonghyun.

“Hm…tidak juga.”

Key melajukan mobilnya lebih cepat. Ingin segera sampai di rumah Jonghyun agar bisa mengoceh sepuas hati.

*****

“Mana bisa kau bolos sesuka hati seperti ini. Kau sudah memasuki tingkat akhir, Kim Jonghyun. Kau sama sekali tidak sakit. Suhu tubuhmu normal. Songdam eonni juga tidak mungkin meninggalkanmu jika kau benar-benar sakit.”

Menarik tubuh Jonghyun untuk bangkit dari tempat tidur agar ia bisa membereskannya. Mengoceh dengan tangan aktif melipat selimut tanpa tau sepasang mata kucing yang menatap heran akan tingkahnya.

“Jjong!” bisik Key sambil menyikut lengan Jonghyun yang duduk di atas meja di samping tempatnya berdiri.

“Hm…”

“Aku tidak percaya yeoja itu adalah Hyunrim,” Key masih berbisik, “ku kira ia sangat pendiam,” lanjutnya hati-hati.

“Ia bahkan bisa lebih berisik darimu, Key,” balas Jonghyun santai.

Ditengah keterkejutannya atas ocehan Hyunrim, namja bermata kucing itu mengingat sesuatu. “Tadi Kim Sera mencarimu,” Key mengalihkan pembicaraan saat teringat yeoja manis yang tak gentar mengejar sahabatnya itu.

“Lalu?”

“Ku rasa sekarang ia akan berhenti mengejarmu,” yakin Key.

“Bagaimana bisa?”

Key sedikit menggerakan kepala, menunjuk Hyunrim dengan dagunya.

“Hyunrim? Ada apa dengannya?”

Keduanya saling berbisik dengan mata yang masih mengawasi yeoja yang sedang menata bantal-bantal di atas kasur.

“Aku mengatakan bahwa Hyunrim adalah yeojachingu-mu.”

“Bagus! Terima kasih, Key. Kau memang selalu bisa ku andalkan.”

Senyuman khas Kim Jonghyun terbentuk begitu saja mendengar kabar dari Key.

“Bagaimana reaksinya?”

Tidak bisa di pungkiri Jonghyun memang penasaran bagaimana reaksi yeoja itu. Sudah berkali-kali Jonghyun mengatakan bahwa ia sudah mempunyai yeojachingu. Berkali-kali juga yeoja itu mengatakan bahwa ia tidak percaya sebelum melihat buktinya.

“Ia tampak terpukul,” jawab sebuah suara yang sudah pasti bukan suara Jonghyun atau pun Key.

Ternyata percuma mereka berbisik seperti tadi. Nyatanya Hyunrim bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

“Seharusnya kalian menjelaskan dengan baik-baik dan terbuka. Jangan membohonginya seperti itu,” lanjut yeoja jangkung itu.

“Itu sudah kami lakukan sejak setahun yang lalu, chagi. Tapi ia tetap keras kepala,” ucap Jonghyun. Ia merasa perlu membuat pembelaan.

Yeoja itu melangkah mendekati Jonghyun yang masih duduk di atas meja belajarnya. Menarik sebuah handuk yang tersampir pada kursi belajar itu dan memberikannya pada Jonghyun. “Mandilah, cepat. Kita perlu membicarakan sesuatu,” titahnya.

Segera Jonghyun melirik pada Key yang memasang wajah bingung. Otaknya bekerja lambat sampai tak menangkap sinyal dari Jonghyun yang memintanya untuk meninggalkan sahabatnya itu dengan Hyunrim. Namja bertubuh kekar itu menatap geram pada sahabatnya yang masih tidak mengerti arti dari gerakan kepalanya sebagai titah untuk segera meninggalkan kamarnya ini.

“Ke.lu.ar,” pinta Jonghyun tanpa suara. Hanya gerakan bibir yang beruntung dapat Key mengerti kali ini.

“Mwo?! Kau mengusirku?!” teriak Key tak terima masih tak mengerti apa yang terjadi. Barulah setelah Jonghyun mengirimkan sinyal ancaman dari matanya yang memicing, ia mengerti dan mengalah. “Baiklah, aku tunggu di luar. Selesaikan urusan kalian,” pasrahnya sambil menyeret kakinya keluar kamar yang kini telah tertata rapi itu.

Blam!

“Katakan.”

Lalu Jonghyun meraih tangan kanan yeoja yang berdiri di hadapannya dan mulai memainkan jari-jari itu.

Cklek!

Keduanya memutar kepala saat pintu kamar Jonghyun kembali terbuka. Sebuah kepala tampak tersembul dari pintu yang terbuka minim itu.

“Selesaikan masalah kalian dengan cepat. Tidak baik seorang yeoja dan namja berduaan dalam sebuah kamar. Mengancam keselamatan sang yeoja.”

BLAM!

“Ya! Kim Kibum!” teriakan Jonghyun memenuhi kamar pribadinya.

“Sudahlah, Jjong. Key benar. Kita harus menyelesaikannya dengan cepat. Lagi pula aku harus segera pulang.”

Jonghyun hanya mengangguk dengan tetap memainkan jemari Hyunrim yang berada dalam genggamannya.

“Jadi, kenapa kau membolos hari ini?” Hyunrim memulai dengan pertanyaan sederhana untuk mengusir kekhawatirannya.

Seorang yang ditanya hanya melempar senyum dan menggelengkan kepalanya.

“Hm? Ayolah, Jjong. Kau membolos bukan karena tidak mau bertemu denganku kan?”

“Kau pintar sekali, chagi,” balasnya santai.

“Sudah ku duga. Kau marah karena kejadian kemarin? Apa yang membuatmu marah?”

Namja itu seolah berpikir keras dengan kening yang dibuatnya berkerut. Hanya kamuflase dari kebingungan yang sebenarnya. Ia menampakan wajah ‘seolah-olah’ berpikir, kenyataannya ia memang sedang berpikir. Harus kah ia mengatakan bahwa ia tidak terima saat ‘kencan’ yang disiapkan Jonghyun untuk yeoja ini ternyata bukan yang pertama untuknya?

“Kau berbohong padaku, chagi.”

“Kapan? Aku tak pernah membohongimu, Jjong.”

“Baiklah, kau tak mau jujur padaku.”

“Soal apa, Jjong?” suara Hyunrim terdengar frustasi menghadapi Jonghyun yang tampak enggan menyelesaikan masalah ini dengan cepat.

“Siapa namja yang pertama kali mengajakmu kencan, hm? Kenapa bisa bukan aku?”

Yeoja ini sudah menduganya. Tapi ia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk merangkum cerita panjang yang melatarbelakangi jawaban dari pertanyaan itu. Ia membiarkan Jonghyun memainkan jemari kanannya sementara ia sibuk merangkai kata dalam otaknya.

“Eh?” Jonghyun menemukan sesuatu yang baru. Terdapat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Hyunrim. “Sejak kapan kau memakai cincin ini? Aku baru menyadarinya,” namja itu mengusap cincin tersebut perlahan. “Cantik,” gumamnya. Hal ini membuat Hyunrim mengalihkan pandangan pada cincin yang melingkar manis pada jarinya itu.

“Jadi, kau sudah mau jujur padaku? Siapa namja itu?” Jonghyun kembali mengingatkan bahwa pertanyaan pentingnya belum terjawab.

“Orang yang sama dengan yang memberikan cincin ini padaku.”

Jonghyun tampak tak percaya. Sebuah pemikiran muncul di kepalanya dan itu membuatnya tergelak. “Siapa namja itu? Kenapa ia memberimu cincin? Memangnya kalian akan menikah?” ia benar-benar tak bisa menahan rasa geli dari pemikirannya sendiri. Sampai sebuah anggukan dan kata “Ya” keluar dari mulut Hyunrim, membuat tubuhnya menegang.

“Namanya Lee Jinki. Orang yang kini tinggal satu atap denganku, bukan kerabatku. Ia adalah Lee Jinki. Calon suamiku,” ungkap yeoja itu dengan susah payah. Ia merasa perlu ekstra hati-hati dengan semua ucapannya.

Tangannya kini terkulai di samping tubuhnya saat Jonghyun kehilangan energi dan tak lagi memainkan jemarinya. Terlihat jelas dari kekosongan matanya bahwa namja itu terkejut.

“Maaf aku baru memberi taumu sekarang. Aku akan mengenalkannya padamu. Segera,” masih dengan susah payah yeoja ini membuat suaranya seceria mungkin. Tidak bisa dipungkiri yeoja ini pun terkejut atas reaksi sahabatnya itu.

“Apa perlu aku mengenalnya?”

Entah dirinya yang sedang kacau, atau memang nada bicara sahabatnya itu kini berubah. Bahkan Hyunrim tak berani menatap langsung pada mata itu.

*****

“Aku sedang di rumah Jonghyun…… Ne, aku segera pulang.”

Kembali berfokus pada tumisannya setelah menerima telepon tadi. Jonghyun masih membersihkan diri sepertinya. Sementara Key, ia sedang menonton TV di ruang keluarga. Hyunrim memutuskan memasak karena ia tau Songdam selalu pulang kerja pada jam tujuh malam.

“Hm… dari wanginya sepertinya lezat,” tak ada yang tau sejak kapan namja bermata kucing itu sudah memasuki dapur sambil mengendus-endus makanan yang tersaji di meja makan. Mungkin Hyunrim terlalu sibuk dengan kegiatannya mencuci peralatan memasak sampai tak mendengar langkah Key.

Yeoja itu tak menghiraukan Key yang masih mengendus aroma masakannya. Ia mengecek ponselnya yang dirasanya bergetar. Satu pesan, tak lain dari orang yang sama dengan yang beberapa menit lalu meneleponnya. Lee Jinki.

“Boleh aku mencicipinya, Hyunrim?” tanya Key antusias. Ini menjelang sore, dan ia tidak menyentuh makanan siang tadi. Gemuruh di perutnya menandakan ia memang kelaparan.

Hyunrim hanya tersenyum dan mengangguk sekilas sebagai jawaban lalu kembali berkutat dengan ponselnya. Jinki pulang jauh lebih awal dari biasanya, dan tanpa alasan jelas ia meminta Hyunrim untuk juga segera pulang.

“Jjong! Kemari! Masakan Hyunrim enak sekali. Kau harus mencobanya,” semangat Key begitu melihat Jonghyun memasuki ruang makan. Pengaruh rasa lapar yang teramat sangat, lidah dan perut Key merespon masakan itu dengan berlebihan.

“Aku tau,” respon Jonghyun datar.

“Kau tau? Padahal menyentuhnya pun belum. Atau Hyunrim memang sering memasak untukmu? Wah!!! Kalian pasangan yang romantis sekali,” oceh namja bermata kucing itu tanpa melihat tatapan tak bersahabat Jonghyun pada satu-satunya yeoja di ruangan itu.

“Tidak. Ini yang pertama. Dan mungkin sekaligus yang terakhir,” tanpa pikir panjang kalimat itu keluar dari mulut Jonghyun dan terasa menusuk di hati Hyunrim. Sontak Key mengangkat kepalanya bola matanya bergerak bergatian menatap Jonghyun yang kini duduk tenang di meja makan – seolah tak ada yang salah dengan kalimatnya barusan – dan Hyunrim yang mematung di tempatnya berdiri menatap tak percaya pada sahabatnya itu. Hingga ponsel yeoja itu kembali bergetar menandakan panggilan masuk. Yeoja itu mengangkatnya tanpa melihat sama sekali siapa yang meneleponnya. Ia tak banyak bicara, hanya, “ne, aku pulang sekarang,” lalu memutus sambungan dengan masih menatap Jonghyun. Jujur saja, Key tak tau apa yang terjadi. Tapi ia merasakan ada sesuatu yang tak beres.

“Jjong,” panggil yeoja itu pelan.

“Key, aku bisa minta bantuanmu?” Jonghyun mengabaikan panggilan Hyunrim. “Hyunrim harus segera pulang. Tolong antarkan dia,” lanjutnya tanpa ada perubahan nada bicara, datar.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” tolak Hyunrim halus.

“Aku harus memastikanmu pulang dengan selamat. Tapi aku tidak bisa menjamin keselamatanmu jika aku sendiri yang mengantarmu pulang. Key, antarkan dia.”

Saat emosi pekat menyelimutinya, Jonghyun tak akan sadar sampai secepat apa ia melajukan motornya. Inilah yang ia maksud tidak bisa menjamin keselamatan yeoja itu jika ia sendiri yang mengantarnya.

*****

Setelah perdebatan cukup alot antara Key dan Hyunrim dalam mobil merah milik Key, akhirnya yeoja itu mengalah dan menerima permintaan Key untuk mengantarnya sampai apartment. Namja itu belum mau kembali ke rumah Jonghyun sampai setengah jam ke depan. Ia tak mau kena dampak dari aura membunuh imajiner yang tiba-tiba Jonghyun sebarkan seenaknya begitu ia selesai membersihkan diri.

“Masalah kalian belum selesai, bukan? Bahkan sepertinya semakin buruk.”

Seperti biasa, Key yang memulai percakapan. Atau ia akan mati kebosanan karena ia yakin Hyunrim tak akan memulai percakapan.

“Entahlah,” jawab yeoja yang duduk di sebelahnya dengan lesu dan disertai helaan napas berat.

“…Ini yang pertama. Dan mungkin sekaligus yang terakhir.”

Astaga. Kalimat itu terus berputar-putar dalam otaknya. Apa maksudnya Jonghyun berkata seperti itu? Dan kenapa ia sampai berbicara seperti itu?

*****

Seperti ada bisikan yang memintanya untuk memperhatikan sebuah sedan merah yang kini memasuki parkiran gedung apartmentnya. Ia menghentikan langkahnya saat hendak mencapai pintu masuk yang terbuat dari kaca itu. Seorang namja bertubuh cukup tinggi turun dari mobil tersebut lalu segera berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang disamping kemudi. Mata sipit itu merasa mengenali seorang yeoja yang kini tengah turun dari mobil itu. Tak lama sampai otaknya menerjemahkan bahwa yeoja itu adalah Hyunrim. Sang yeoja mengucapkan sesuatu. Dari gesture tubuhnya, ia sedang mengucapkan terima kasih. Setelah yeoja yang tak lain adalah Hyunrim itu menepi, namja bermata tajam itu kembali memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan gedung.

Ia melangkah dengan kepala tertunduk. Hingga saat bukan hanya lantai marmer yang dilihatnya – ada objek lain, sebuah sepatu berbahan kulit yang sangat ia kenali. Ia mengangkat wajahnya dan sesuai dugaan, Jinki berdiri dihadapannya.

“Oppa…”

Tanpa banyak bicara Hyunrim menarik tangan kiri Jinki yang memaksa namja itu kini berjalan disampingnya. Tetap seperti itu, dimana Hyunrim menggenggam tangan kokoh Jinki yang membungkus sempurna tangannya. Jinki bahkan lupa tujuannya untuk membeli camilan di minimarket.

Ting!

Bersamaan dengan dentingan halus itu mereka memasuki lift. Hanya mereka berdua dalam lift itu. Kini sebelah tangan Hyunrim yang lain memeluk tangan kiri Jinki. Ia sandarkan juga kepalanya menyamankan diri disana. Dibiarkannya tangan kanan Jinki yang mengelus puncak kepalanya.

“…Ini yang pertama. Dan mungkin sekaligus yang terakhir.”

“Kau sudah makan siang?”

Mengangguk. Tak bermaksud berbohong. Ia tak ingat ia belum makan siang karena perutnya memang tak merasa lapar.

“Kau sedang ada masalah?”

Mengangguk.

“Jonghyun?” tebak Jinki.

Kembali anggukan yang diberikan yeoja yang masih menyandarkan kepala di lengan kirinya itu. Jinki cukup kehilangan minat saat nama itu kembali hadir. Disamping itu, yeoja ini tampak belum mau menceritakan masalah apa yang terjadi antara mereka. Jadi pemilik mata sipit itu menarik kesimpulan bahwa diam adalah yang terbaik untuk saat ini. Dalam benaknya Jinki bertanya apakah salah jika hatinya sedikit merasa gembira di saat seperti ini – saat dimana Hyunrim sedang bermasalah dengan Jonghyun? Apakah ia jahat jika merasa seperti itu? Karena ia merasa di saat seperti ini Jinki merasa yeoja ini benar-benar miliknya. Apa ia jahat jika merasa Jonghyun adalah pengganggu?

Ia tertegun dengan pertanyaan terakhir dalam benaknya itu. Atau mungkin sebenarnya ia sendiri yang menjadi pengganggu antara mereka? Kini ia sedikit meragu pada yeoja-nya itu. Apa yeoja itu benar-benar tulus menerima lamarannya, atau sekedar alasan agar Jinki mau mengijinkannya kembali ke Seoul? Begitukah? Mungkin kah Hyunrim setega itu padanya?

*** To be continue ***

One thought on “Love Should Go On [CHAP 4]

  1. upehhh kependekan deh suwerr…. Aku gak puas.. Ini lagi seru. Next chapnya jgn lama lama yaa.. Terimakasih upeh :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s