The Mask [CHAP 3]

Title                       : The Mask [Face 3]

Main Cast            :

–          Choi Hara (Imaginary Cast)

–          SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun

Support Cast      : Another SHINee’s member

Length                  : Chaptered

Rating                   : PG-15

Genre                   : Life

Disclaimer          : The plot is mine, but not the cast. The cast belong to themselves. This stories just my own imagination.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔓𝔯𝔢𝔳𝔦𝔬𝔲𝔰𝔩𝔶 ≼

≽≽⋅≼≼

“Dalam hitungan ke tiga, anakku. Satu…”

Tubuhnya tak benar-benar bergerak. Hanya bergetar. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Yang ia rasakan hanya dinginnya pistol dalam genggaman tangan kirinya.

“Dua..”

Ia harus memilih. Segera. Membunuh atau terbunuh. Haruskah ia membunuh orang tak berdaya yang kini terikat beberapa meter di depannya itu. Jiwanya tak sehitam untuk sampai hati membunuh orang yang tak ia ketahui apa kesalahannya.

“Tiga.”

DOR!!

≽≽⋅≼≼

≽ 𝕱𝖆𝖈𝖊 3 ≼

≽≽⋅≼≼

Rumah megah yang Hara ibaratkan sebagai brangkas kejahatan. Tempat perlindungan para kriminal dunia. Perekam kekejian manusia. Kandang para petopeng malaikat.

“Kenapa kau yang datang?” siluet wanita paruh baya memasuki ruang santai yang besar dimana Hara sedang duduk di kursi depan sebuah perapian.

“Kau berharap Minho yang datang? Tak akan pernah,” balas Hara dingin.

“Aku akui kerjamu memang bagus. Tapi aku sangat yakin Minho pun bisa bekerja sebaik dirimu. Aku ingin melihatnya.”

Wanita yang tampak anggun di usianya itu berjalan menuju sebuah meja kerja dengan ukiran rumit pada setiap sisinya. Ia duduk pada sebuah kursi dengan sandaran tinggi lalu membuka laci di bawah meja.

“Kemarilah,” titahnya yang jelas ia maksudkan untuk Hara.

Diserahkannya dua lembar foto yang ia ambil dari laci tadi pada Hara. Wanita muda itu mengamati sejenak dua lembar foto tersebut. Foto pertama sebuah foto formal seorang wanita dewasa. Foto berikutnya masih berisi wanita tadi, hanya saja dalam foto kedua ini wanita tersebut tampak baru keluar dari sebuah mobil mewah. Hara tidak begitu mengenal wanita ini. Setahunya, wanita ini adalah salah satu anak buah Nyonya Park, seperti dirinya.

“Ada laporan ia hendak membelot. Kita tidak butuh orang seperti dia lagi. Waktunya ia ‘istirahat’.”

Mengetahui banyak hal dengan mendetail terkadang membuat kita memiliki rasa takut berlebih pada hal tersebut. Itu yang selalu Hara rasakan. Itu juga yang selalu ia sesali. Rasa takut membuatnya memilih untuk menjadi dewi kematian dibanding berhadapan dengan kematian itu sendiri.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Tak ada perbedaan yang berarti baginya. Saat siang ataupun malam, keduanya sama. Gelap. Awan kelabu selalu menaunginya, menghalangi sinar mentari siangnya. Kehidupan malamnya tak pernah lebih terang dari kelam langit malam. Bahkan saat langit malam memiliki bulan dan bintang, awan kelabu tetap setia menaunginya untuk tak mendapati keindahan malam.

Crek!

Sebuah senapan dengan peredam suara siap memuntahkan timah panas di dalamnya. Ia kembali membidik sepasang manusia yang sedang terlelap di dalam sebuah kamar super mewah. Terlelap sangat tenang tanpa tahu bahwa di atas sebuah pohon rindang berjarak tujuh meter dari kamar tersebut dewi kematian tengah mengamati mereka dalam diam.

Kembali membidik seorang wanita yang terlelap itu. dan…..

Pshuuu..

Hanya desingan pelan dari alat peredam suara yang terpasang di ujung senapan yang mengantarkannya pada kematian. Tubuh wanita itu terlonjak pelan saat jantungnya tertembus timah panas. Pekat darah mulai merembes menodai selimut berwarna coklat pasta yang semula membungkus tubuhnya. Dalam sedikit tenaga yang tersisa, ia yang tertidur di sisi ranjang mencoba menggapai sosok lain yang tertidur di sisi ranjang yang satunya. Namun percuma. Erangan kecil dan setitik air mata menjadi satu-satunya ucapan selamat tinggal yang bisa ia sampaikan.

Dulu ia sering bertanya tentang gelap yang memenjaranya. Sering memaki pada cahaya yang sulit dicapainya. Namun kini ia mengerti. Gelap tidak pernah memenjaranya. Cahaya bukan sulit untuk dicapainya. Tapi memang mungkin cahaya itu bukan tercipta untuk dirinya. Karena sejatinya, ialah kegelapan itu.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“HEI, ANAK BARU! ANTARKAN INI PADA TAMU VIP DI LANTAI DUA!”

Minho hanya membungkuk sekilas pada orang yang berteriak itu sebelum mengambil nampan berisi minuman beralkohol dan tiga buah gelas kecil disampingnya. Orang itu tidak membentaknya. Suara musik lah yang mengharuskan orang-orang yang berada disana untuk berteriak saat berbicara.

“HYUNG, TUNGGU!”

“NE??”

“APA KAU MELIHAT HARA NOONA?”

“KULIHAT IA BARU DATANG. MUNGKIN IA ADA DI RUANG GANTI KARYAWAN.”

Matanya menangkap manager pub ini tengah mengawasinya. Tidak mau mendapat teguran seperti saat hari pertama bekerja, Minho bergegas mengantarkan minuman itu pada pengunjung yang disebutkan tadi. Tanpa banyak bicara setelah melatakan botol dan gelas tadi ia berniat mencari Hara.

“Kau pasti pegawai baru itu.”

Pergelangan tangannya digenggam tangan lain. Seorang wanita yang usianya dapat diperkirakan berkepala empat itu tiba-tiba menarik tangan Minho kasar, memaksa lelaki itu untuk duduk disampingnya.

“Kau tampan sekali, anak muda,” lanjut seorang lainnya disusul tawa yang menurut Minho sangat mengerikan. Ia kelu. Seluruh badannya menegang, risih saat pemilik tangan yang menariknya tadi mengelus dadanya dengan tatapan manja. Dua wanita lain yang duduk di sebrang mereka pun menatap Minho dengan cara tak biasa. Ketiga wanita ini memandangan dirinya dengan mata berkilat. Seperti seekor serigala kelaparan yang baru menemukan kelinci buruannya. Mengerikan.

“Kau pasti membutuhkan banyak uang sampai harus bekerja di tempat seperti ini. Kau suka bekerja disini, hm?”

Minho menghempaskan kasar tangan wanita tadi saat ia berusaha menyentuhnya lebih jauh. Ia tak bisa lagi menyembunyikan amarahnya. Jelas matanya menatap geram pada ketiga wanita dengan usia kepala empat itu.

“Wooo! Sepertinya ia tidak suka. Kau sungguh tidak sopan! Kau tidak tahu siapa aku, hah?!”

Bug!

Wanita terkadang bisa sangat mengerikan. Entah tenaga dari mana wanita itu bisa membuat Minho terbaring di sofa lalu dengan cepat ia menindihnya.

“KAU–”

“Permisi, nona!”

Sebuah suara bariton menginterupsi wanita yang hendak mencaki-maki Minho karena penolakannya tadi.

“Nona, biarkan pelayan ini pergi. Malam ini aku yang akan menjadi pelayan kalian,” ucapnya penuh tata krama dan senyuman manis.

“Bagus! Pergi kau!” usir wanita itu setelah menyingkir dari tubuh Minho.

Dengan tergesa ia meninggalkan meja itu setelah ia mengucap kata terima kasih melalui lirikan matanya pada lelaki dewasa yang baru saja datang menyelamatnya dari terkaman wanita-tua-haus-sentuhan itu. Lelaki tadi, secara kasat mata ia juga pelayan seperti Minho. Hanya saja, ia bekerja sebagai pelayan dalam arti ‘lain’.

Baru beberapa minggu ia bekerja di bar ini. Sungguh, ini adalah mimpi terburuknya. Ia bersumpah jauh lebih menyukai berakhir di penjara karena keterlibatannya dengan sindikat narkoba Nyonya Park dibanding harus berakhir di kamar VIP bersama wanita kehausan itu. Ia tidak mengerti bagaimana caranya Hara bisa bertahan bekerja disini selama hampir dua tahun ini.

Masih dengan bergedik ngeri mengingat kejadian tadi, Minho melangkah menuju ruang ganti karyawan.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

DOR!!

Bruk!

Darah. Itu yang pertama kali Jonghyun lihat saat membuka mata. Sosok tak berdaya itu kini benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menyesali pemikiran tentang akan selamatnya ia pun tidak sempat.

“Keputusan bagus, Kim Jonghyun.”

Kim Jeongmin mendekati anak semata wayangnya itu lalu menepuk bahu Jonghyun dengan senyuman bangga. Bangga? Inikah yang harus Jonghyun lakukan sebagai simbol baktinya? Membunuh?

“Kalian, urus semuanya!” titah Kim Jeongmin pada anak buahnya untuk membersihkan segala jejak kejadian dan keberadaan mereka malam ini.

“Ini salah.”

“Apa?”

“Aku pembunuh,” ucap Jonghyun lambat-lambat.

“Bukan seperti itu, nak.”

“DIAM! JANGAN MENDEKAT!”

Ia kalap. Mengacungkan pistolnya pada siapa pun yang berani mendekatinya. Termasuk ayahnya sendiri.

“AAARRGH!!!!!”

Ia benar-benar merasa kehilangan akal. Ia segara berbalik dan berlari menjauh dari ayahnya juga anak buahnya. Ia mengitari sebuah bangunan, mencari jalan untuk keluar dari tempat terkutuk tadi.

Pembunuh.

Pembunuh.

Pembunuh.

Hanya kata itu yang terus menggema dalam pikirannya. Sampai akhirnya suara keramaian jalanan membuatnya sadar ia telah berada di pinggir sebuah jalan raya. Tepat disebelah kirinya berdiri sebuah bangunan tinggi. Sayup terdengar suara musik dari sana.

Haruskah ia masuk ke tempat itu…lagi?

Pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali memasuki tempat itu.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Ugh! Bau alkohol!

Itu yang Hara cium saat memasuki ruang ganti karyawan bar itu. Ia melangkah menuju lokernya.

Clang!

Terdengar suara benda kaca jatuh dari barisan loker di belakangnya.

“Ya! Siapa disana?” teriaknya ketus.

Sisi Hara yang lain. Disini – di bar ini – tak ada Hara yang pendiam seperti di sekolah. Tak ada Hara yang periang dan hangat seperti di panti asuhan. Bahkan kebanyakan pegawai bar ini menilai ia orang yang dingin, ketus, dan sombong karena ia adalah ‘anak emas’ pemilik bar ini – Nyonya Park.

Setelah selesai mengganti pakaian, ia merasa bau alcohol makin menyengat. Pasti ada yang minum di ruangan itu. Ia tidak suka.

“Ya! Siapa disana?!” teriaknya lagi sambil mencari tahu siapa orang yang berani minum di ruangan itu, padahal sudah jelas ada peraturan untuk tidak membawa minuman keras ke ruangan ini.

Brak!

Disana ia melihat seorang lelaki tengah duduk tanpa alas dan menyandar pada loker. Kaki kanannya ia tekuk untuk menyangga kepalanya yang tertunduk sementara kaki kirinya ia biarkan dengan posisi melintang ruang antara loker-loker. Tangan kirinya menggenggam kuat sebuah botol kosong. Di dekat sisi kanan tubuhnya tergelak gelas yang isinya tumpah tercecer disekitar sana.

“Ya! Siapa kau! Berani-beraninya kau minum disini cepat keluar!” ketus gadis itu.

Tak ada respon. Ia mulai menendangan kaki kiri lelaki asing itu.

“Hei!”

Lelaki itu hanya sedikit menggeram. Posisinya masih tidak berubah. Kembali gadis itu menendang kaki kiri lelaki asing itu.

“HEI! BANGUN!”

Jujur saja, bau alcohol ini membuatnya hampir gila. Sangat menyengat. Membuatnya sedikit mual.

“Ck! Bangun orang asing!”

“YA! KAU TIDAK BISA DIAM SEBENTAR, HUH?!” balas lelaki itu ikut berteriak dan seketika menegakan tubuhnya.

Dia…

“Hara?” ucap lelaki itu skeptis. Benarkah yang dilihatnya ini Hara? Dengan pakaian minim itu? Apa yang ia lakukan disini? Jonghyun merasa alcohol sudah mengambil alih kesadarannya.

“Maaf, tuan. Anda tidak diperbolehkan memasuki ruangan ini. Silakan keluar.”

Jonghyun bangkit berdiri, menghadap gadis yang meneriakinya tadi. Memang matanya sedikit berkunang dan kepalanya terasa berat, tapi ia rasa ia masih cukup sadar saat ini. Dalam keadaan tidak karuan itu ia mengernyit menatap gadis dihadapannya yang menurutnya sangat mirip dengan Hara. Benarkah? Ia bertanya pada diri sendiri.

“Apa aku semabuk itu sampai menghayal hal seperti ini? Tapi aku tidak mungkin salah dengan jarak sedekat ini,” pikirnya sendiri.

“Pintu keluarnya sebelah sana, tuan,” ucap gadis itu dan menunjukan arah pintu keluar dengan tangan kanannya.

“Ugh!” lenguh Jonghyun. Ia berjalan terseok dengan terus memegangi kepalanya yang berdenyut. Sementara itu, Hara menghembuskan napas lega. Meskipun Jonghyun cukup sadar untuk mengenali dirinya, tapi ia juga cukup mabuk untuk meragukan penglihatannya.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Bukankah ia Kim Jonghyun?”

“Hm,” ujar Hara dengan masih memperhatikan lelaki yang tergelatak tak sadarkan diri itu.

“Kenapa ia bisa ada disini?”

“Semua orang bisa berada dimana pun ia mau, Minho.”

“Ya, kau benar. Baiklah, ayo kita pulang. Sudah larut,” lalu Minho menarik lengan Hara agar mengikuti keluar bar.

“Kau tega membiarkannya seperti ini?”

“Ini bukan urusan kita, noona. Ayolah, kita pulang saja,” rajuk Minho.

Hara melapaskan cengkraman tangan Minho pada lengannya lalu duduk di kursi kosong di samping Jonghyun yang tak sadarkan diri. Mungkin lelaki itu terlalu banyak minum sampai tak sadarkan diri seperti ini. Hara merasa tidak baik membiarkan sunbae-nya itu dalam keadaan seperti ini.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Minho saat melihat gadis itu berusaha melepas jaket yang melekat pada tubuh Jonghyun.

“Ia terlihat tidak nyaman dengan jaket ini. Lagi pula ia pasti membawa ponsel. Lebih baik kita menghubungi seseorang untuk menjemputnya disini,” jawabnya dengan masih berusaha melepaskan jaket itu.

“Ck! Biar aku saja!”

Lelaki jangkung itu meminta gadis itu menyingkir. Ia tidak nyaman melihat tangan Hara melingkar di sekitar tubuh kekar itu, seperti sedang memeluk.

Dengan cepat jaket itu sudah lepas dari tubuh Jonghyun. Jelas terlihat kaos yang dikenankan lelaki itu saat ini telah sangat basah karena keringat. Lalu Minho memeriksa setiap saku pada jaket itu.

“Tidak ada.”

“Coba kau cari di saku celananya,” saran Hara.

Tanpa banyak bicara lelaki jangkung itu segera mengikuti saran Hara.

“Dapat,” seru Minho sambil memberikan ponsel itu pada Hara.

“Aku akan mencoba menguhungi rumahnya. Kau bisa mencari dompetnya, Minho. Aku yakin minuman itu belum ia bayar.”

Sementara Hara melangkah mencari tempat yang lebih sepi untuk menguhubungi seseorang yang bisa menjemput Jonghyun, Minho kembali mengikuti apa yang dikatakan Hara. Ia mendorong tubuh kekar itu agar tertelungkup di atas meja supaya ia dengan mudah memeriksa saku belakang celananya. Benar ia menemukan sebuah dompet disana. Tapi selain itu ada sesuatu lain yang ia temukan, dibalik kaos yang melekat pada tubuh itu.

“Aku sudah menghubungi telepon rumahnya. Kau sudah menemukan dompetnya, Minho?”

“Ini,” Minho meletak sebuah dompet di atas meja.

“Bagus. Kita bisa pulang –”

“dan ini,” lanjut Minho memotong ucapan gadis muda itu. Ia melatakan sebuah pistol dan menggesernya ke arah Hara. Gadis itu sedikit terkejut. Tapi berusaha untuk bersikap senormal mungkin.

“Dari mana kau mendapatkannya? Cepat kembalikan ke tempat semula.”

Minho kembali mengembalikan pistol itu pada tempat ia menemukannya.

Setelah keluar dari bar, seperti biasa keduanya tidak banyak bicara. Berjalan dalam diam. Dengan waktu yang sudah mencapai tengah malam, suhu udara semakin menurun hingga keduanya sama-sama mengeratkan mantel yang mereka kenakan. Sampai saat mereka duduk di bus pun masih tak ada yang membuka percakapan. Hara hanya diam mengamati Minho yang tampaknya sedang berpikir keras.

“Apa yang kau pikirkan, hm?”

Lelaki itu hanya menghela napas berat lalu kembali diam. Kali ini tampak menimbang sesuatu.

“Bisa aku meminta sesuatu padamu, noona?”

“Katakan.”

“Jauhi Kim Jonghyun.”

“Memang kau kira sedekat apa kami sampai kau terus memintaku menjauhinya? Kau kira seperti apa hubungan kami?”

“Aku sendiri tidak mengerti seperti apa hubungan kalian. Tapi aku merasa hubungan kalian tidak biasa.”

Hara terkekeh pelan sebelum membalas ucapan Minho, “dari mana kau mendapat kesimpulan itu? Kami tidak sedekat itu. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kalau kalian tidak memiliki hubungan yang aku khawatirkan, kau tidak akan keberatan untuk menjauhinya, bukan?” desak Minho.

Gadis itu hanya tersenyum, “apa yang membuatmu begitu khawatir? Kau tidak menyukai Kim Jonghyun sejak kedatangannya yang pertama. Kau selalu melayangkan pandangan waspada. Sepertinya kau sangat membencinya. Apa yang membuatmu seperti itu, hm?”

Lagi, lelaki jangkung itu menghela napas berat, “kau ingat pistol yang aku temukan tadi? Ia bukan orang baik-baik.”

“Lalu kenapa? Bukankah kau juga selalu membawa pistol serupa saat bertugas? Aku juga kadang membawanya untuk jaga-jaga,” Hara benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan Minho saat ini.

“Itu dia, noona. Bagaimana kalau ia sama seperti aku – kita?” ucap Minho dengan lambat dan skeptis. “Kau ingat sewaktu aku masuk penjara? Ia juga ada disana. Ia selalu bersikap kasar. Selalu terlibat perkelahian. Ia begitu liar,” lanjutnya.

“Kau membencinya karena itu?”

“Ya. Juga karena akhir-akhir ini kalian begitu dekat. Aku takut ia memberi pengaruh buruk padamu, noona,” tegas Minho.

“Membenci seseorang tak akan memberikan keuntungan apa pun, Minho. Kau hanya akan merasa lelah karenanya.”

Minho membuang muka. Gadis itu memandangnya dengan senyum getir. “Jika kau membencinya karena sikap kasarnya, lalu bagaimana denganku? Apa yang akan kau lakukan jika tahu kebenaran tentangku? Kau takut ia memberi pengaruh buruk padaku? Aku bahkan lebih buruk darinya jika kau tahu. Bahkan jauh sebelum kedatangannya,” ungkapnya dalam hati.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Lelaki itu sama sekali tidak bisa fokus pada buku ditangannya. Ia kembali mengamati ke sekelilingnya. “Kenapa beberapa hari ini perpustakaan selalu ramai?” rutuknya sendiri. Sesekali ia melirik pada seorang gadis yang memang selalu berada dibalik meja penjaga perpus saat istirahat seperti ini. Ia masih bersabar bahkan sampai istirahat berakhir pun ia masih duduk disana. Ia menunggu perpustakaan cukup sepi tentu saja. Mereka tetap seperti ini, tidak mengacuhkan satu sama lain jika mereka berada di sekolah.

Kejadian malam itu masih membayanginya. Benarkah yang ia lihat itu Hara? Itu yang membuatnya tetap menunggu disini. Untuk memastikan. Tapi bagaimana caranya? Bukankah lancang jika ia menanyakannya secara gamblang? Jujur saja, jika bisa ia sangat ingin melupakan semua kejadian malam itu. Karena alasan itulah ia masuk ke bar malam itu.

“Sunbae?”

“O-oh! Choi Hara!” ucapnya gelagapan. Ia mengedarkan pandangan dan menemukan tak ada orang lain selain mereka di perpustakaan sekarang.

“Sunbae tidak masuk kelas? Jam istirahat sudah berakhir,” selidiknya. Gadis itu menarik kursi di hadapan Jonghyun dan mendudukan diri disana.

“Kau sendiri?” sengaja Jonghyun balik bertanya karena ia sendiri bingung harus menjawab apa. Haruskah ia berkata bahwa ia ingin menanyakan sesuatu padahal ia sendiri tidak tahu harus bertanya apa.

“Jam terakhir di kelasku kosong. Hanya ada tugas, dan aku akan mengerjakan disini,” balasnya dengan senyum dan menunjuk sebuah buku tulis berwarna coklat. Oh. Bahkan Jonghyun baru sadar bahwa Hara membawa buku itu sejak tadi. Astaga, ia tidak mengerti kenapa ia selalu kehilangan fokus saat berhadapan dengan gadis ini.

“Sunbae?” tegur Hara saat melihat wajah Jonghyun yang kebingungan entah karena apa.

“Y-ya-ya?” lelaki itu kembali gelagapan.

“Ada yang sunbae pikirkan? Sepertinya sunbae banyak melamun.”

Dalam hati Hara terus berdoa agar Jonghyun tidak mengingat kejadian di bar malam itu. Ia sangat berharap lelaki tahu bahwa kondisinya mabuk berat dan memungkinkannya berhalusinasi.

“A-aku…ah! Aku mau minta maaf karena beberapa hari ini aku jarang berkunjung ke panti,” pada akhirnya hanya kalimat itu yang terpikir olehnya.

“Tidak masalah, sunbae,” balas gadis itu sopan.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu mengingatnya lagi. Tidak mungkin yang dilihatnya itu Hara mengingat betapa minimnya pakaian yang dipakai gadis bar itu, juga betapa kasarnya cara bicara gadis itu. Sangat berbeda dengan Hara dihadapannya kini. Mungkin ia memang mabuk berat sampai berhalusinasi seperti itu.

“Jika tidak ada acara aku ingin ke panti malam ini. Sayangnya ayahku memintaku datang ke acara makan malam yang dibuatnya.”

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

“Kalian berdua tersenyumlah. Kalian tahu kalau kalian sangat cantik dan tampan? Jangan rusak kecantikan dan ketampanan kalian dengan memasang wajah cemberut seperti itu. Ayolah, tersenyum,” rajuk seorang wanita paruh baya pada sepasang anak muda yang mengenakan pakaian formal. Seorang pemuda tampan dengan perawakan tinggi mengenakan tuxedo hitam yang makin menyempurnakan postur tubuhnya. Lalu seorang gadis muda dengan long dress model bertumpuk berwana soft grey dipadu dengan selendang bulu berwarna hitam tersampir indah di pundaknya. Wanita paruh baya itu kembali menilik sepasang anak muda itu dengan tatapan bangga.

“Kajja! Kita berangkat!” ucapnya penuh semangat sambil menggandeng anak muda itu dengan kedua tangannya.

“Kau cantik sekali, Hara! Kau seperti pangeran, Minho! Tidak salah aku mengajak kalian.”

Kedua orang yang dipuji itu hanya memutar bola matanya bosan. Entah sudah berapa puluh kali Nyonya Park memuji mereka seperti itu. Mereka sama sekali tidak merasa tersanjung sebanyak apa pun Nyonya Park memuji mereka. Mereka terlanjur bad mood saat tiba-tiba Nyonya Park datang ke panti dan mengganggu waktu istirahat mereka. Ia tidak mengatakan apa pun kecuali menyuruh mereka untuk segera ikut dengannya. Dan disini lah mereka sekarang. Dalam mobil mewah Nyonya Park menuju sebuah hotel ternama di Seoul. Wanita itu bilang salah satu rekannya mengadakan makan malam. Ia malas datang sendiri sementara ia juga tidak bisa menolak undangan tersebut. Bualan sempurna. Tentu saja Minho dan Hara tahu ada sesuatu yang lain. Jika tidak, untuk apa beliau memberikan mereka masing-masing sebuah pistol.

“Aku akan memperkenalkan kalian sebagai anakku. Jadi panggil aku ‘mommy’, arachi?” pinta Nyonya Park dengan antusias.

“Hm…” jawab mereka kompak dengan nada malas.

Mereka bertiga melangkah keluar dari mobil memasuki hotel mewah itu. Nyonya Park berjalan sendiri di depan disusul Minho dan Hara selangkah di belakangnya. Sementara itu beberapa langkah di belakang empat bodyguard mengekori mereka.

Baik Hara maupun Minho tidak bisa menyangkal bahwa mereka terkejut menemukan betapa mewahnya ball room yang baru saja mereka masuki ini. Tapi mereka segera mengatur ekspresi wajah mereka. Akan sangat memalukan jika mereka tertangkap terlalu mengagumi kemegahan acara makan malam ini.

Mereka bertiga memasuki ruangan itu tanpa pengawal yang sebelumnya mengikuti mereka. Mereka duduk di sebuah meja bundar dengan enam buah kursi di sekelilingnya. Nyonya Park duduk diapit dua ‘anak’nya itu.

“Sebenarnya siapa yang mengadakan acara makan malam super mewah ini?” tanya Minho.

Nyonya Park tersenyum cerah sebelum berkata, “Kim Jeongmin. Kalian tahu bukan? Ini perayaan keberhasilannya menduduki kursi legislatif. Ah dan setahuku, sekaligus perayaan ulang tahun putra semata wayangnya.”

Hara mendengar semua celotehan Nyonya Park, hanya saja mata terus menyisir setiap penjuru ball room itu. Ia tidak begitu tertarik pada celotehan itu. Gadis itu lebih tertarik melihat beberapa tamu yang pastinya dari kalangan atas dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Menarik bagi Hara melihat betapa angkuhnya mereka. Hanya beberapa yang sepertinya bercakap-cakap dengan hangat. Sebagian besar tampaknya hanya saling membanggakan kedudukan mereka.

“Kim Jeongmin?” ulang Minho. Hanya ia yang tertarik pada pembicaraan ini.

“Ne, ne, ne. Kau tahu bukan, Minho? Politikus ternama itu,” tanya Nyonya Park antusias.

“Ya, aku tahu.”

Diam. Kini Nyonya Park melakukan hal yang sama dengan Choi Hara, tapi dengan tatapan waspada.

“Mendekat,” suara Nyonya Park yang berupa bisikan itu sampai di telinga Minho dan Hara sehingga mereka sedikit menggeser kursi mereka lebih merapat pada wanita paruh baya itu. Dengan hati-hati wanita paruh baya itu menjelaskan sesuatu kedua ‘anak’nya. Setelah selesai mencerna penjelasan tersebuat, berbanding terbalik dengan Hara yang hanya bergumam singkat dengan ekspresi datar, Minho justru tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Semakin banyak tamu yang hadir. Tiga kursi kosong di meja mereka pun kini telah terisi. Nyonya Park tentu saja mengenal orang-orang yang duduk di kursi itu.

Srek!

“Kau mau kemana, honey?” tanya Nyonya Park begitu Hara bangkit dari kursinya.

“Aku mau mengambil minuman, mom. Permisi, semuanya,” ucap Hara sopan.

“Ah, baiklah,” ucapnya memberi izin. Lalu, “jangan lupa tugasmu,” tambahnya tanpa suara. Tapi Hara bisa mengerti dengan jelas gerakan bibirnya.

“Noona, aku ikut,” cepat Minho lalu segera bangkit dan mengikuti Hara.

“Sampai mana tadi?” tanya Nyonya Park saat Minho dan Hara telah menjauh.

“Raena-ya, kedua anakmu sungguh cantik dan tampan,” ungkap seorang yang duduk di hadapan Nyonya Park.

“Oh, tentu saja!” balas Nyonya Park dengan bangga dan diselingi tawa bahagianya yang masih bisa Hara dengar.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔥𝔢 𝔐𝔞𝔰𝔨 ≼

≽≽⋅≼≼

Pikirannya kacau. Harusnya ia segera bisa menebak saat Nyonya Park menyebut ‘Kim Jeongmin’ dan ‘putra sematawayangnya’. Atau mungkin lebih baik ia tidak perlu meninggalkan meja tadi. Jika saja ia segera bisa menyadari siapa Kim Jeongmin dan siapa putra sematawayangnya itu. Jika saja ia bisa bertahan duduk mendengar pembicaraan Nyonya Park dan rekannya di meja. Jika saja… jika saja…

“Kau melamun lagi, Hara.”

“Y-ya? Ah, maaf sunbae.”

Lalu ia menunduk dalam. Malam ini dewi fortuna benar-benar tidak berpihak padanya. Jika saja Jonghyun tidak menyadari keberadaannya disini, ia tidak akan berakhir berdansa dengan lelaki itu sekarang.

“Kau gugup, hm?” tanya Jonghyun.

Gugup? Hara sendiri tidak tahu. Ia belum sadar dari keterkejutannya. Kedua telapak tangannya berkeringat. Ia bahkan tidak sadar tangan kanannya telah mencengkram kuat bagian depan tuxedo yang Jonghyun kenakan. Ia tak bisa lagi merasakan tangan kirinya yang berada dalam genggaman Jonghyun. Ia benar-benar hilang kendali atas dirinya sendiri. Ia tidak bisa menatap mata Jonghyun yang entah kenapa malam ini sangat mengintimidasinya.

Sementara itu Jonghyun malah tersenyum mengetahui kegugupan Hara. Gadis itu tidak bisa mengendalikan diri saat ini. Sepertinya pikirannya kosong. Diam-diam lelaki ini menikmati saat-saat seperti ini. Bukan lagi dirinya yang kehilangan fokus dan tak bisa mengendalikan diri dengan baik, tapi Hara. Menarik.

“Bukankah tampak aneh jika kau berdansa dengan kepala tertunduk seperti itu?”

“Hm?”

Ragu Hara mengangkat wajahnya untuk menatap Jonghyun.

“Aku lebih suka seperti ini,” ungkap Jonghyun dengan senyumnya. Perlahan tangan kirinya menarik Hara lebih mendekat.

Gadis itu dengan sendirinya ikut tersenyum. Suara itu selalu terdengar sama di telinganya. Lembut dan menentramkan. Dan ia tidak akan menyangkal ia sangat menyukai senyum lelaki di hadapannya ini. Perpaduan kedua hal itu bagai obat penenang baginya untuk saat ini.

“Bagaimana kau bisa ada disini?” Jonghyun kembali membuka pembicaraan untuk mengurangi rasa gugup gadis di hadapannya.

“Aku diminta menemani seseorang,” jawabnya pelan.

“Kalau boleh tahu, siapa?”

“Park Raena. Aku memanggilnya Nyonya Park. Dia donatur tunggal di panti asuhan.”

Walau degup jantungnya belum kembali normal, setidaknya kini Hara tidak lagi kebingungan mengendalikan diri seperti tadi. Dalam hati ia mengucap terima kasih pada Jonghyun.

Hanya beberapa detik mereka terdiam. Terasa lama, bahkan mungkin waktu terasa berhenti ketika keduanya sama-sama tenggelam dalam manik coklat bening di hadapan masing-masing. Namun Hara segera tersadar saat ujung matanya menangkap sosok Minho. Ia teringat perkataan Nyonya Park tadi.

“Kemungkinan pesaing politiknya lah yang memberikan surat ancaman itu. Kim Jeongmin tidak bisa mengerahkan pengawalan ketat saat ini. Para tamu undangan akan terganggu dan curiga. Tugasmu melindungi istri Kim Jeongmin, Hara. Dan kau putranya, Minho. Kalian awasi orang-orang di sekitar mereka. Tetap waspada.”

“Kau mencari apa?” tanya Jonghyun saat mata Hara tak lagi menatapnya. Ia bisa sedikit melihat bola mata itu sedang mencari sesuatu.

“Aku belum melihat ayahmu, sunbae. Bukan kah beliau yang mengadakan acara ini?”

“Ia duduk di meja paling depan.”

Tepat. Posisi Hara mengahadap langsung meja itu.

“Ah, ya. Apa wanita yang mengenakan gaun biru itu ibumu? Cantik sekali,” ucap Hara. Ingin memastikan agar ia tidak salah orang.

“Bukan. Ia bukan ibuku. Ia istri ayahku.”

“Hm?”

Jujur saja, ucapan Jonghyun sangat menarik perhatiannya. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Cukup logikanya saja yang menjawab.

Mereka terus bergerak mengikuti alunan lagu. Tentu saja bukan hanya mereka berdua. Ada belasan pasangan lainnya di lantai dansa ini. Beberapa pasangan tampak sudah cukup berumur, beberapa lagi mungkin tidak jauh berbeda dengan Jonghyun dan Hara. Menurut Jonghyun, pasangan muda yang sedang berdansa di sekitar mereka itu adalah anak dari rekan kerja ayahnya. Ia tidak mengenal mereka. Tapi ayahnya bersikukuh mengundang mereka karena acara ini sekaligus merayakan ulang tahunnya.

Tunggu. Hara kembali melupakan sesuatu.

“Sunbae. Saengil chukahamnida. Maaf aku terlambat mengucapkannya,” Hara mencoba untuk tersenyum. Namun senyum itu hilang saat tiba-tiba lelaki di hadapannya malah terkekeh geli.

“Kau sama sekali tidak terlambat, Hara. Tidak perlu meminta maaf seperti itu.”

Gadis itu hanya bisa mengerutkan dahi saat ini.

“Ayah memang mengatakan acara ini sekaligus perayaan ulang tahunku. Tapi sebenarnya ulang tahunku sendiri masih dua hari lagi. Jadi kau sama sekali tidak terlambat. Dengan begitu kau menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat.”

Perlahan Jonghyun melatakan tangan kiri Hara yang semula berada dalam genggamannya pada bahu kanannya. Kini kedua tangan lelaki itu telah berada pada pinggang Hara dan sedikit menghapus jarak keduanya.

Gadis ini tak bisa berkata apa pun. Ia hanya tersenyum sebagai balasan senyum hangat Jonghyun padanya.

Entah sejak kapan kedudukan mereka berubah. Kini Hara memunggungi meja Kim Jeongmin dan istrinya. Dengan hati-hati gadis itu mencoba memutar kembali kedudukan seperti semula dengan ia menghadap meja tersebut agar memudahkannya mengawasi Nyonya Kim. Dalam gerakan lambatnya memutar kedudukan mereka, matanya menyisir setiap sudut ruangan itu.

Perlahan posisinya berputar, tak sepenuhnya menghadap Nyonya Kim. Ia mencoba mengendalikan pergerakan Jonghyun agar tak membawanya kembali berputar memunggungi Nyonya Kim. Sempurna. Ia menghadap sempurna meja yang di tempati Kim Jeongmin dan istrinya. Matanya mengawasi setiap orang yang berada di sekitar sang tuan rumah.

Beberapa meter di sebelah kiri meja Kim Jeongmin, hampir di sudut ruangan, seorang pria dengan seragam pelayan sedang menyusun gelas-gelas membentuk sebuah pyramid. Di samping pelayan itu ada seorang pelayan lain yang tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Pelayan yang satu itu sedikit luput dari pandangan Hara karena tubuhnya hampir tertutupi pelayan yang sedang menusun pyramid gelas itu. Pelayan itu sepertinya menumpahkan sedikit minuman. Ia sekarang berdiri dengan kedua lututnya sambil membersihkan noda minuman di atas meja. Janggal, batin Hara.

Oh, tidak. Ia melihatnya. Ada sebuah pistol disana yang diarahkan pada meja keluarga Kim. Ia harus segera bertindak. Tapi bagaimana? Ia mengumpat karena terjebak bersama Kim Jonghyun. Ia masih mengawasi pelayan itu dengan was-was. Jantungnya bergemuruh. Matanya mulai bergerak liar mencari keberadaan Minho. Apa yang harus ia lakukan? Ia panik sampai tak sadar tangannya tengah mencengkram erat kedua bahu Jonghyun.

Chu~

Jantungnya mencelos saat tiba-tiba Jonghyun mengecup keningnya. Tubuhnya membeku. Ia menatap kosong pada mata bening Jonghyun yang menatapnya dalam. Cengkraman tangannya mengendur seketika.

“Terima kasih karena menjadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat,” ucap Jonghyun dengan mudah dan tersenyum hangat. Berhasil mengambil alih seluruh fokus Hara pada pelayan tadi. Pikirannya kosong saat ini. Hanya kecupan tadi, senyum, dan suara yang selalu terdengat lembut dari lelaki ini yang berputar dan menggema dalam otaknya. Semua itu membuatnya kehilangan akal.

DOR! DOR!

PRANG!!

Kegaduhan itu segera menariknya ke alam sadar. Semua orang panik saat dua pelayan tergelatak bersimbah darah dengan pecahan gelas di sekitar mereka.

“KYAAAA!!”

Suasana makin kacau saat semua wanita menjerit.

Crek!

Crek!

Crek!

Satu per satu sekitar belasan orang bersiap dengan senjata di tangannya. Termasuk Kim Jonghyun dan Kim Jeongmin. Keheningan terasa sangat mencekam. Mereka saling memandangan dengan waspada. Tak tahu siapa kawan siapa lawan. Para wanita berjongkok di bawah meja dengan air mata yang membanjir dan tubuh bergetar menahan isakan. Mereka membengkap mulut masing-masing dengan kedua tangan mereka.

Grep!

“Tetap di belakangku!”

Entah kapan Minho mulai bergerak ke arah Hara dan menarik pergelangan tangan gadis itu. Jonghyun terkesiap saat Hara tiba-tiba di tarik dari sisinya. Dan yang membuat ia makin terkesiap saat melihat Minho di berdiri tepat sampingnya dengan sebuah pistol di tangan kanannya.

Mereka bertiga terjebak karena menjadi satu-satunya yang berada di tengah ruangan. Di sekeliling mereka, dalam radius lima meter, ada sekitar enam orang yang mengacungkan senjatanya ke arah mereka. Karena kondisi seperti ini, Hara tidak bisa mengambil pistol yang ia sembunyikan di sisi bagian dalam kakinya yang tertutupi long dress. Ia kembali mengumpat. Ini pertama kalinya ia merasa terancam.

Ia merasa sangat tidak berguna karena hanya bisa diam dan merapatkan punggungnya pada punggung Minho. Karena itu ia berusaha membungkuk untuk meraih pistolnya.

Crek!

Berhasil. Dan yang membuatnya bernapas lega adalah karena Jonghyun tak melihatnya mengacungkan senjata. Ia berada selangkah di belakang Jonghyun dan posisi lelaki itu memunggunginya.

Kim Jonghyun. Ia mengawasi setiap orang yang mengacungkan senjata pada ayahnya. Ia tetap darah daging Kim Jeongmin. Pria itu tetap ayah kandungnya sesering apa pun ia ingin menyangkal. Setidaknya, ia tidak ingin kehilangan ayahnya setelah ibunya lebih dulu meninggal dengan hanya meninggalkan sedikit memori tentang mereka.

Lelaki muda itu tak bisa mengendalikan diri. Ada dorongan kuat saat melihat dari arah belakang ayahnya seorang pria berseragam pelayan tengah membidik ayahnya.

DOR!

“Kyaaaaa!!!!”

Semua tiba-tiba kembali kacau saat senjata di tangan Jonghyun memuntahkan isinya. Pelayan tadi jatuh tersungkur karena kakinya tertembus timah panas.

DOR!

DOR!

Ia berlari menuju Kim Jeongmin. Ia merasa harus melindungi ayahnya. Ia mengumpat saat seorang pelayan lain membidik ayahnya.

DOR!!

Bugh!

Langkahnya terhenti begitu melihat kemana arah pelurunya meluncur. Pelayan itu membelalakan matanya. Darah mengalir dari dahinya yang tertembus timah panas. Jonghyun merasa ruangan itu berputar. Tidak. Ia tidak bermaksud mengambil nyawanya. Kejadian malam itu pun kembali mendesak memenuhi memorinya.

Prak! Tangannya tak mampu lagi menggenggam senjata apinya. Tubuhnya bergetar.

DOR!

“AWAS!”

Bugh!

Minho mendorong tubuh Jonghyun hingga membentur meja dengan keras saat menyadari sebuah peluru melesat ke arah lelaki itu.

“Ugh!” lenguh Jonghyun saat merasa ada sesuatu yang menghantam keras tulang punggungnya.

DOR!

“A–argh…”

Ia menunduk dan segera menemukan tuxedo bagian dada kirinya telah ternodai darah pekat. Napasnya makin memendek. Ia tak bisa merasakan kaki yang menopang tubuhnya. Hingga ia terjatuh dan hampir hilang kesadaran, hal terakhir yang dilihatnya adalah darah. Memori malam itu kian jelas. Ia merasa terjebak dalam mimpi buruk tanpa akhir….. Alih-alih berharap ia bisa segera terbangun dan mengakhiri mimpi buruknya, ia lebih berharap untuk mati saat itu juga. Ia merasa tak pantas untuk hidup.

≽≽⋅≼≼

≽ 𝔗𝔬 𝔅𝔢 ℭ𝔬𝔫𝔱𝔦𝔫𝔲𝔢 ≼

≽≽⋅≼≼

One thought on “The Mask [CHAP 3]

  1. upeh seru.. Ceritanya gak ketebak.. Upehh makasih banget udah meng up date ff mu.. Makasih cekali.. Aku mau menepati janji, aku mau promosiin blog kamu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s